
*Dear diary....
Aku selalu berharap bahwa semua kepahitan hidup ini hanyalah sebuah mimpi. Dan jika itu memang sebuah mimpi, aku ingin segera bangun dari mimpi itu. Tiada berbuat namun ku telah lelah. Bukan ini yang ku mau, namun tak pernah sedikitpun terlintas di benakku untuk melawan ketidakadilan ini. Apa aku tak berhak bahagia? Dengan meraih cita cita yang pernah ku ukir dalam setiap tidur malam ku.
Aku tak membencinya. Tapi tiada pula menyukainya. Aku bahkan masih sangat belia untuk mengarungi sebuah bahtera rumah tangga. Apa aku salah bila menginginkan seperti mereka? Yang di cinta para pelahir insan dengan segenap jiwa dan juga di jaga hingga pada masa nya tiba. Sampai bisa meraih cita dan membanggakan orang tua*.
Diana menumpahkan segala keluh kesah nya pada buku hariannya itu sambil menitikkan air mata. Waktu telah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Namun Dia belum juga bisa memejamkan mata nya. Ia pun beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melaksanakan sholat tahajud. Setelah selesai sholat ia pun berdoa memohon petunjuk tentang pernikahannya. Di saat ia sudah selesai sholat dan membuka mukena nya, tiba tiba ponselnya berdering. Tampak sebuah pesan masuk dari Hafiz. Diana menatap ponsel itu heran, tengah malam begini untuk apa Hafiz mengirimkan nya pesan, pikirnya. Diana pun tergerak untuk langsung membuka pesan itu.
Assalamualaikum bidadari surga ku.
Kamu sudah sholat malam belum untuk menguatkan hati mu?
"Kenapa bisa kebetulan begini yah?" ucap Diana pelan.
Waalaikumsalam
Sudah.
Akhirnya Diana membalas pesan itu dengan singkat. Hafiz yang berada di seberang sana tersenyum simpul merasa bahagia karena mendapat kan balasan pesan dari pujaan hatinya. Lalu ia kembali mengirimkan sebuah pesan.
Tidurlah kembali jika sudah selesai. Malam masih panjang.
Balasan pesan Hafiz selanjutnya.
"Huft.....," Diana menghela nafas panjang saat membaca pesan dari Hafiz.
Ya, aku akan melanjutkan mimpi indah ku. Karena kenyataan sering kali tak seindah mimpi.
Hafiz terbelalak saat menerima balasan dari Diana. Membuatnya kehabisan kata kata lagi. Lalu ia pun merebahkan tubuhnya ke ranjang dan segera memejamkan matanya.
********
Pagi ini Diana sudah tampak rapi dengan hijab berwarna salem dan gamis yang senada pula. Oma memperhatikan cucunya dan mulai buka suara.
__ADS_1
"Apa kamu masih tetap bekerja nak?" tanya Oma.
"Iya Oma, kapan lagi Diana bisa bantu Oma dan adik adik. Setelah menikah nanti, Diana gak tau apa Diana masih bisa memberi atau tidak," ucap Diana sedih.
"Huss...Gak boleh ngomong gitu. Kamu gak usah mikirin yang macam macam nak, yang penting kamu bisa punya rumah tangga yang bahagia aja Oma udah senang," ucap Oma lagi.
Bahagia???
Apa Oma pikir aku bahagia dengan pernikahan ini?
"Oh ya, mulai besok seharusnya kamu itu udah gak boleh kemana mana Diana. Kamu itu di pingit. Kan dua bulan lagi kamu bakal menikah," tambah Oma lagi.
Tradisi apa lagi ini?
"Oma, Diana udah kesiangan nih. Diana berangkat dulu ya Oma," ucap Diana mengalihkan pembicaraan dan langsung mencium punggung tangan Oma.
Diana segera bergegas untuk berangkat bekerja seperti biasa kerumah Bu Lani. Ia harus segera menghindari ocehan Oma yang tiada henti menyangkut pernikahannya. Hari ini Diana pergi tanpa Kevin, ia berjalan dengan terburu buru. Dengan nafas yang sedikit terengah akhirnya Diana sampai di rumah Bu Lani.
Namun tak ada yang menjawab. Diana langsung masuk tanpa ragu, karena biasanya Bu Lani memang selalu menyuruh nya masuk bila Bu Lani tidak ada di rumah, sebab ia sering pergi belanja lauk pauk dan sayuran di pagi hari. Diana pun duduk di meja dapur dan meletakkan tas selempang miliknya disana. Beberapa saat pandangan nya berkeliling. Rumah Bu Lani memang selalu sepi di pagi hari. Suami Bu Lani dan juga Andre bekerja di luar rumah. Miko dan adiknya Andre yang gadis pergi ke sekolah.
"Benar benar tidak ada Bu Lani dirumah. Tapi kenapa pintu tidak dikunci ya? Biasanya kan walaupun Bu Lani pergi belanja, rumah selalu dikunci dan kuncinya di letak di bawah pot. Apa hari ini Bu Lani lupa mengunci pintu?" Diana berkata kata sendiri.
Diana tanpa ragu langsung melaksanakan tugas tugas nya seperti biasa. Pertama kali yang ia lakukan pasti membereskan kamar Miko dan Andre yang berantakan. Kamar Bu Lani dan adik Andre yang gadis selalu sudah rapi di pagi hari. Sebab itu Bu Lani selalu menyuruh Diana untuk merapikan kamar Andre dan Miko. Selesai merapikan kamar Miko, Diana pun langsung masuk ke kamar Andre. Tanpa ragu ia duduk di tepi ranjang sambil memandangi foto Andre yang terpajang di meja kerjanya.
"Maafkan aku mas, mungkin yang kamu inginkan bukan yang terbaik untuk kita berdua. Aku berharap kamu mendapat jodoh yang lebih baik dari aku," ucap Diana lirih tanpa di sadari olehnya ada sepasang mata yang sedang mengawasinya.
Andre yang berada di kamar mandi mendengar saat pintu kamarnya di buka, dan ia menghentikan aktifitas nya di kamar mandi. Lalu membuka pintu dengan pelan dan menatap seseorang yang masuk ke dalam kamarnya. Namun ia masih berdiam di dalam kamar mandi sambil memperhatikan gerak gerik Diana yang sedang membersihkan ranjang nya. Tiba tiba pikiran gila muncul di kepalanya. Rasa cinta yang mendalam membuat Andre buta akan semua nya. Sehingga ia merencanakan sesuatu pada Diana agar Diana mau menikah dengan nya. Ia pun keluar dari kamar mandi. Diana yang melihat Andre keluar dari kamar mandi langsung kaget.
"Astagfirulloh....maaf mas. Aku gak tau kalau mas ada di rumah. Jadi aku gak ketuk pintu. Kalau gitu aku keluar dulu ya mas," ucap Diana tergesa gesa namun belum sempat ia keluar, Andre dengan cepat menarik tangan Diana.
"Diana, maaf aku mau bicara," ucap Andre yang langsung melepas kan tangan Diana.
"Kalau gitu kita bicaranya di luar saja mas," ucap Diana yang mulai takut pada tatapan Andre yang tak seperti biasanya.
__ADS_1
"Enggak, disini aja. Hanya sebentar. Aku cuma mau tanya, apa kamu sama sekali gak menyukaiku? Kenapa kamu terima lamaran orang lain, padahal aku sudah jauh hari melamar mu," ucap Andre dengan nada sedikit marah.
"Maaf Mas. Aku memang belum menyukai siapapun. Ini semua keinginan Oma yang gak bisa buat ku tentang mas, Mas kan tau sendiri bahwa Oma yang selama ini ngurusin aku. Jadi aku gak mungkin mengecewakan nya Mas. Aku mohon maaf bila menyakiti perasaan Mas. Aku yakin suatu saat nanti Mas menemukan seseorang yang lebih baik dari aku," ucap Diana yang mulai menitikkan air mata.
"Apa kamu bilang? Kamu pikir semudah itu. Aku gak terima dengan semua ini Diana, aku mau kamu," ucap Andre yang langsung menyerang Diana.
Andre mendekap tubuh Diana dengan erat. Diana yang tak pernah mendapat perlakuan seperti itu pun merasa semakin ketakutan dan dengan sekuat tenaga menolak dan mendorong tubuh Andre, namun tenaga Diana tak sebanding dengan Andre yang sedang kalut itu. Andre memegang wajah Diana dengan keras hendak mencium bibir Diana. Namun Diana dengan sigap menginjak dan menendang bagian sensitif Andre. Spontan Andre mengerang kesakitan. Diana dengan secepat kilat berlari keluar rumah tanpa mengambil tas nya dan tanpa menggunakan alas kaki.
*
*
*
*
*
*
N : thor kenapa gak ada lanjutannya? kok gitu doang sih?
A : Apaan maksud lu?
N : itu loh thor...bentar amat si andre gituan...belum juga sempet kasih kiss...
A : Suka banget lu ya sama yang gituan....? bukan muhrim tau...
N : elahhh thor. ..sesekali ngapa buat mereka *melakukannya*
A : ape lu kate??? suka suka gua dong...
makanya tuh jempol kencengin buat nge vote sama like nya...hihihi....
__ADS_1