
Diana mengambil sebuah kalung berwarna emas dari dalam salad buah itu, membawanya ke wastafel dan mencuci nya dengan air. Lalu ia duduk kembali. Ia memperhatikan kalung itu dan Hafiz bergantian. Hafiz hanya tersenyum. Diana mulai mengerti apa maksudnya. Lalu ia meletakkan kalung itu di atas meja.
"Kenapa tidak di coba?" ucap Hafiz.
"Apa kakak sengaja meletakkan nya di dalam salad?" tanya Diana, Hafiz mengangguk sambil membelai pipi Diana.
"Gimana? Kamu suka gak sama kalung nya?" tanya Hafiz.
"Kenapa kakak memberikan hadiah?" Diana masih saja banyak bertanya.
"Kenapa istri ku jadi cerewet begini yah....Cup...." Hafiz mengecup bibir mungil Diana, membuat Diana terdiam seketika.
"Terima kasih," ucap Diana singkat.
"Atas ciuman nya, atau kalung nya?" goda Hafiz.
"Yah kalung nya dong," Diana mendengus kesal.
Akhirnya mereka berdua melanjutkan makan nya kembali sampai selesai. Malam itu, Hafiz tak berniat untuk keluar dari hotel. Ia mengurung diri dengan istrinya. Berbincang bincang tentang banyak hal. Diana masih tak banyak bicara.
Menjelang tidur, Hafiz memasangkan kalung emas yang di hiasi bandul kecil berbentuk hati itu ke leher istrinya. Diana hanya bisa tersenyum, ia memeluk Hafiz dengan malu malu. Merasa bingung bagaimana cara nya mengucapkan terimakasih pada suami nya yang romantis itu.
"Leher mu jadi lebih seksi sayang," goda Hafiz, Diana hanya menunduk malu.
Hafiz menuntun istri nya naik ke atas ranjang. Ia bermaksud untuk membicarakan suatu hal penting pada istrinya. Sebenarnya beberapa hari lagi ia akan melakukan diklat pendidikan selama satu minggu di luar kota, itu artinya Hafiz akan meninggalkan istrinya sendiri di rumah. Ada rasa tak rela bila harus pergi, namun tuntutan pekerjaan membuatnya harus tetap pergi.
"Sayang, ehm...minggu depan aku harus pergi diklat. Mungkin juga sampai seminggu," ucap Hafiz mengawali pembicaraan.
"Oh....terus...." hanya itu yang Diana ucapkan.
Kok gitu doang sih jawab nya. Apa dia gak takut apa di tinggal sendirian. Hafiz.
"Ehm..., kamu gak apa apa kan di rumah sendirian? Atau mau menginap di rumah bibi atau Oma?" Hafiz mencoba mencarikan solusi.
"Lebih enak di rumah aja kak," jawab Diana santai.
Huft....ternyata ekspresi nya biasa saja. Hafiz sedikit kecewa, itu berarti Diana belum benar benar mencintai nya. Ya sudah lah, mungkin ia harus berusaha lebih keras lagi untuk memperkuat perasaan cinta antara mereka berdua.
********
Pagi ini Hafiz berencana untuk mengajak istrinya melihat matahari terbit di pinggir pantai. Maka setelah sholat subuh berjamaah, Hafiz pun mengajak Diana untuk berjalan jalan di pesisir pantai. Hari ini kostum nya agak berbeda. Hafiz mengenakan celana panjang sporty dan kaos, membuat nya terlihat lebih tampan dari sebelumnya. Diana memperhatikan penampilan suaminya yang tidak seperti biasa itu. Ada rasa kagum di dalam hatinya melihat wajah Hafiz yang tampak lebih tampan dari biasa nya. Sedangkan Diana, ia berusaha mengimbangi penampilan suami nya. Mengenakan setelan sporty juga, tapi tetap dengan hijab panjang dan cadar nya.
Mereka berjalan dengan santai sambil memandang ke arah lautan lepas. Dimana sudah tampak pancaran cahaya di ufuk timur. Pemandangan yang sangat luar biasa. Hafiz mengajak Diana duduk di tepi pantai. Merasakan udara segar dan bermain pasir disana. Diana duduk di depan Hafiz, dan Hafiz duduk di belakang Diana sambil memeluk Diana lembut. Sebenarnya perlakuan Hafiz masih sangat canggungg bagi Diana, namun sebagai seorang istri yang baik Diana tetap menerima apapun yang dilakukan suaminya selama itu tidak membahayakan jiwanya. Tiba tiba muncul ide jahil Hafiz untuk mengerjai Diana. Berawal dari mengajak nya bernyanyi.
*Ya Allah....
__ADS_1
Curahkanlah...
Rahmat keselamatan serta berkah.
Pada junjungan nabi Muhammad.
Shalawat dan salam untuk nya dari kami.
Allahumma sholli wa sallim
wa barik a'la sayyidina
Muhammadin fadlihi liima' ukhliko
Wa khotimii limaa sabaq
wanasyiril haqqi bill haqq
Wal hadii illa sirotikal mustaqim*...
(Shalawat versi lagu Perfect)
Lantunan shalawat yang di nyanyikan Hafiz sangat merdu menggugahkan hati Diana. Ia begitu menikmati nya. Sampai tiba tiba Hafiz melanjutkan ide konyol nya dengan berpura pura pingsan. Diana spontan panik melihat suaminya yang mulanya baik baik saja, tiba tiba sudah terpejam di belakang nya.
Diana terus saja memperbaiki posisi Hafiz, setengah memeluknya sambil mulai menangis.
"Kak, bangun kak....please Kak, bangun.....hiks...hiks..." Diana hampir putus asa.
Tiba tiba di tengah keputusasaan nya, ia teringat sesuatu. Diana berpikir, biasanya kalau di film film orang pingsan itu harus di kasi nafas buatan, muncul lah ide konyol nya. Tapi, bagaimana harus melakukan nya. Diana sama sekali tidak berpengalaman untuk hal itu. Diana pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Hafiz. Mulanya, ia hanya menyentuhkan bibirnya dengan bibir Hafiz, lalu....Ia mengangkat kepala nya lagi.
Lagi dong sayang. Hafiz.
"Kak, please bangun...Aku harus gimana ini kak, kenapa sih tidak ada orang disini. Kak.... bangun kak," Diana masih saja merengek, sementara Hafiz sudah tak tahan ingin melihat ekspresi istrinya.
Rupanya... Diana belum menyerah, ia mencoba lagi untuk memberikan nafas buatan pada Hafiz. Satu....dua....tiga....
"Pak Hafiz kenapa Minny?" kedatangan Fadhil mengejutkan Diana, Diana pun spontan meminta pertolongan pada Hafiz.
Sial....Kenapa harus ada orang lain sih. Berani banget ini si Fadhil pakai panggilan sayang sama istri ku. Hafiz.
"Mas, tolong kak Hafiz. Tadi tiba tiba dia pingsan," ucap Diana yang sudah dipenuhi dengan kepanikan.
Fadhil mendekat, dan menyentuh dahi Hafiz dan denyut nadi nya. Ia merasa semua nya normal, ya walaupun dia bukan ahli medis.
"Atau kita minta tolong orang hotel aja buat bawa pak Hafiz ke kamar," saran Fadhil dan langsung di setujui oleh Diana.
__ADS_1
Hafiz merasa drama nya harus segera di hentikan sebelum orang orang membawanya kerumah sakit. Ia pun memasang gelagat seperti orang yang baru tersadar dari tidur panjang.
"Kak, kakak kenapa kak?" tanya Diana sambil membantu Hafiz untuk duduk.
"Tiba tiba aja tadi kepala ku pusing sayang, ayo kita kembali ke kamar," ajak Hafiz seketika karena merasa tak nyaman dengan kehadiran orang ke tiga.
"Perlu saya bantu Pak?" Fadhil menawarkan diri.
"Tidak usah, terimakasih," tolak Hafiz lembut sambil mencoba berdiri dengan bantuan Diana.
Hafiz setengah memeluk Diana berjalan meninggalkan Fadhil menuju kamar hotel. Entah mengapa pemandangan itu terlihat begitu menyakitkan di mata Fadhil. Rasa cinta yang belum sepenuhnya terhapus membuat Fadhil harus merasakan patah hati yang berkeping keping. Namun ia sudah bertekad untuk tetap melanjutkan hidup nya, walau tak bersama Diana. Semangat Fadhil....
Sampai di dalam kamar, Diana membantu Hafiz untuk duduk di sofa. Yah...padahal Hafiz belum benar benar mengakhiri drama nya.
"Aduh....sayang..." Hafiz memegang kepala nya berpura pura.
"Kenapa kak? Mana kak yang sakit? Kepala kakak sakit ya?" Diana mulai panik lagi, Hafiz menarik cadar Diana agar lebih leluasa melihat ekspresi cemas dari wajah istrinya.
Sayang, gemes banget aku lihat wajah kamu. Pengen nyium aja deh. Hafiz.
"Kak, sini biar aku pijat yah," Diana dengan telaten dan lemah lembut memijat kepala Hafiz.
Hafiz merasakan kenyamanan yang luar biasa dengan perlakuan Diana. Membuatnya semakin ingin mengerjai istrinya.
"Aduh...sayang...dada ku juga kok tiba tiba sakit," ucap Hafiz lagi yang membuat Diana kembali panik.
"Aku olesin minyak angin ya kak, mungkin kakak masuk angin kali," Diana berlari menuju kamar dan mengambilkan minyak angin dari dalam tas nya.
Lagi lagi dengan lemah lembut dan telaten Diana mengolesi dada Hafiz dengan minyak angin, dan memijat nya perlahan membuat Hafiz menjadi salah tingkah dan merasakan ada hasrat yang sedang membara... Hahaha kena batunya...
Hafiz pun menangkap tangan Diana.
"Terima kasih ya sayang, cup..." Kecupan kilat di bibir Diana.
*
*
*
*
*
Thanks readers...
__ADS_1