Hijab Dan Penantian

Hijab Dan Penantian
Surat dari Mantan


__ADS_3

Sejak pernikahan Diana, Andre menjadi sangat frustasi. Terlebih lagi saat ini ia dipindahkan tugas oleh perusahaan nya untuk ke luar kota. Harapan nya benar benar sudah sirna. Ia pun memutuskan untuk segera melupakan Diana dan mencari cinta yang lain di luar sana. Ia menghapus semua foto foto Diana yang di ambilnya dan tersimpan di galeri nya tanpa sepengetahuan Diana. Ia pergi meninggalkan rumah orang tuanya dengan rasa kecewa yang mendalam.


Sementara itu, di tempat lain ada seseorang yang sedang berbunga bunga karena baru saja menikah. Setelah satu minggu berada di rumah Diana, Hafiz membawa istrinya pulang ke rumah nya. Di rumah Hafiz juga di adakan acara kecil kecilan yang telah di rancang oleh bibi Farida. Bibi ingin membuat kejutan untuk keponakan tercintanya itu. Ia mengundang keluarga besar mereka dan juga teman teman Hafiz.


Rombongan keluarga Diana ikut mengantarkan kedua mempelai kembali ke rumah Hafiz. Acara resepsi di adakan di rumah Bibi Farida. Karena Bibi Farida adalah orang terdekat Hafiz. Dari jauh sudah terlihat suasana rumah Bibi Farida yang terlihat ramai. Mereka mengadakan acara adat untuk menyambut kedua mempelai sesuai dengan tradisi suku budaya Hafiz. Hafiz nampak menyimpulkan senyuman terindahnya sejak turun dari mobil tadi, sedangkan Diana hanya menyimpulkan sebuah senyuman palsu untuk mengelabui orang orang yang melihatnya.


Sebenarnya, jauh di lubuk hati Diana yang paling dalam, ia belum bisa sepenuhnya menerima pernikahan ini. Terlebih belum ada cinta di hatinya. Namun Diana tak sedikitpun menunjukkan ketidaksukaan nya atas pernikahan ini pada orang orang terdekatnya. Apalagi dengan Hafiz, ia benar benar mencoba untuk bersikap baik kepada Hafiz. Itu semua karena Diana adalah wanita yang taat terhadap perintah agama. Dia memahami pentingnya berbakti kepada orang tua dan juga suami.


Rangkaian acara pun berlangsung. Hingga malam tiba. Keluarga Diana pun beranjak untuk meninggalkan kediaman Bibi Farida.


"Sayang, mama dan Oma pulang dulu ya. Kapan kapan kalau mama ada waktu, pasti nengokin kamu kesini," ucap Mama sambil mengelus kepala Diana.


"Berbaktilah sama suamimu ya sayang, Oma selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian," ucap Oma pula sambil memeluk Diana, hingga air mata nya pun menetes.


Opa dan adik adik Diana juga memeluk Diana. Karena mereka akan meninggalkan Diana yang telah menjadi istri orang.


**********


"Tidurlah dengan nyenyak, besok kita akan pindah ke rumah ku," ucap Hafiz sebelum membaringkan tubuhnya ke ranjang.


"Kenapa kita tidak tinggal disini saja?" tanya Diana heran.


"Kita punya rumah sendiri sayang, kita juga kan harus mandiri. Bagaimana mau pacaran nanti kalau kita tinggal disini," ucap Hafiz lagi.


Memang apa yang di pikirkan nya. Ah. Aku bahkan tak berani berpikir akan menyukai seseorang, meskipun aku tau dia sudah menjadi suamiku....


Gumam Diana.


"Jangan lupa, sebelum tidur buka jilbab mu. Apa kamu tidak takut nanti rambutmu akan rontok bila tidur mengenakan jilbab? Lagi pula, aku ini suamimu sayang. Kenapa harus malu padaku," ucap Hafiz sambil tertawa kecil.


Dasar laki laki. Bilang saja dia ingin melihat wajah cantik ku tanpa jilbab. Terlalu berbasa basi. Decak Diana lagi dalam hati.


Diana menghembuskan nafas panjang dan akhirnya membuka jilbab berwarna peach yang ia kenakan. Lalu membuka ikatan kecil yang ada di rambutnya, dan mulai menata rambutnya dengan rapi.

__ADS_1


"Sayang," panggilan Hafiz membuat Diana menoleh. "Kamu cantik," kata kata Hafiz berhasil membuat Diana merasakan ada yang berbeda di hatinya.


Astaga, apa dia mau mencoba untuk mengambil hak nya. Oh Tuhan....selamatkan hamba Mu ini. Diana merasa sangat was was.


Diana kembali berdiri dan melangkah menuju kasur yang di tiduri Hafiz. Lalu ia membaringkan tubuhnya perlahan. Saat ia mulai memejamkan mata, tiba tiba Hafiz mengecup pucuk kepalanya. Diana yang terkejut langsung menarik selimut sampai menutupi wajah nya. Hafiz tersenyum melihat tingkah istrinya itu.


"Kenapa?" ucap Hafiz sambil tertawa.


"Diana ngantuk kak," ucap Diana malu, namun tiba tiba ia teringat akan sesuatu.


"Kak, Diana pengen buka hadiah boleh gak?" Diana meminta persetujuan Hafiz.


"Tadi katanya kamu udah ngantuk," ucap Hafiz menggoda Diana.


"Ehm...kalau buat buka kado, Diana gak ngantuk lagi kak," ucap Diana bersemangat.


"Baiklah," Hafiz bangkit dari tidurnya dan mengambil beberapa kado yang tersusun rapi di kamar itu.


Diana mulai membuka kado yang di berikan oleh teman teman Hafiz. Entah sudah berapa bungkus kado yang ia buka, kado kali ini mengundang rasa penasaran di hati Diana. Karena bungkus kado itu disertai pita dan kertas nama berbentuk hati. Tertulis nama pengirim 'RAHMA'. Diana segera membuka nya. Isi nya adalah sebuah selimut berbahan baldu yang tebal dan berwarna merah maron bermotif bunga bunga. Diana menampakkan raut wajah yang ceria menerima hadiah indah itu. Namun saat ia mengeluarkan selimut itu dari kotak nya, tiba tiba terjatuh sebuah kertas berwarna merah muda. Seperti sebuah surat. Diana dengan ragu membuka nya. Hafiz masih memperhatikan Diana.


Aku hanya bisa mendoakan segala kebaikan tercurah kepadamu dan seseorang yang baru menjadi bagian dari hidup mu.


Sekarang aku baru sadar, bahwa sebuah komitmen itu lebih penting dari pada sekedar kata cinta. Tapi sayang nya, kesadaran ku datang terlambat. Maaf...


Terima kasih untuk waktu yang berlalu.


Terima kasih untuk kisah yang terukir.


Terima kasih untuk nasehat yang berjasa.


Ijinkan aku untuk selalu mengenangmu, kebaikan mu, ketulusan mu, dan kesholehan mu. Karena dengan itu, aku akan menemukan seseorang yang bisa menggantikan tempat mu di hatiku.


Dari

__ADS_1


Aku yang pernah mengisi hari mu*.


Diana menutup surat itu dengan senyum kecil. Lalu ia menyerahkan surat itu kepada Hafiz.


"So sweet...kelihatan nya surat dari mantan tuh," ucap Diana sambil menyerahkan surat itu kepada Hafiz. Wajah nya tak menunjukkan sikap apa apa.


Hafiz membaca surat itu. Lalu melemparkan senyum pada Diana.


"Bukan siapa siapa. Hanya saja aku pernah menganggapnya muslimah spesial sebelum aku melihat kejadian yang di luar dugaan ku. Awalnya aku berpikir dia wanita yang baik, soleha dan lembut tutur bahasanya. Ternyata Allah menunjukkan kebenarannya pada ku, hingga aku memantapkan hati pada pilihan ku," ucap Hafiz sambil membuang surat itu ke sembarang tempat.


"Aneh...Kenapa bisa begitu? Trus...Kenapa dia menulis 'aku yang pernah mengisi hari mu'?" tanya Diana heran.


"Mungkin dia hanya merasa saja," ucap Hafiz santai sambil meletakkan kepala nya di pangkuan Diana dan sontak membuat Diana terkejut.


"Eh...Kenapa tidur disini. Kalau mau tidur ya di kasur dong kak. Apa kakak pikir kepala kakak gak berat apa?" ucap Diana sambil mendorong kepala Hafiz untuk menjauh dari nya.


"Dosa besar bagi istri yang menolak permintaan suami," ancam Hafiz yang berhasil membuat Diana terdiam.


Sial...Selalu saja mengancamku seperti itu. Apa dia tidak punya cara lain apa. Keterlaluan... Kesal Diana dalam hati.


"Sayang, ayo kita tidur. Aku sudah sangat mengantuk," ucap Hafiz manja yang membuat Diana bergidik geli.


"Ah...iya ayo kita tidur..." Diana dengan cepat naik ke kasur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Hafiz menyaksikan tingkah istrinya itu dan tetrtawa kecil.


Aku akan menunggu sampai kamu benar benar siap Diana.


*


*


*


*

__ADS_1


*


salam sayang buat para readers


__ADS_2