Hijab Dan Penantian

Hijab Dan Penantian
Rumah Hantu


__ADS_3

Pagi ini alarm di ponsel Diana berdering lebih awal, pukul 04.00. Diana langsung menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melakukan ibadah sunah. Setelah itu ia pergi ke dapur untuk memasak bekal makanan yang akan di bawa untuk piknik pagi ini bersama teman teman sekelas nya. Hari ini mereka akan mengabadikan momen perpisahan dengan bersenang senang di dunia bermain yang begitu fantastis. Diana terlihat sudah lihai meracik bumbu masakan, memasak adalah hal yang mudah bagi nya karena sudah menjadi hobi nya sejak kecil dan lagi ia juga bekerja di rumah bu Lani. Ia sudah mulai menggoreng ayam dan meracik sambal untuk menu tambahan.


Aroma masakan Diana membuat penghuni rumah mulai bangun satu persatu. Oma menghampiri Diana yang sedang asyik dengan kegiatan nya.


"Pagi banget nak, memang berangkat jam berapa?" Tanya Oma yang sudah tau tentang acara tamasya yang di adakan pihak sekolah.


"Jam setengah tujuh harus sudah sampai di sekolah Oma," jawab Diana.


Oma pun mengerti dan mulai membantu Diana menyiapkan masakan nya. Satu jam berlalu untuk acara memasak. Waktu subuh pun tiba. Diana bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan setelah itu ia menunaikan ibadah subuh nya. Sementara Oma membantu membungkus semua makanan yang telah selesai di masak oleh Diana. Diana juga menyiapkan apa saja yang harus ia bawa ke dalam ransel nya. Sebenarnya dari kecil Diana tak begitu nyaman dengan perjalanan jauh. Waktu pertama kali ia pindah ke kampung, selama perjalanan ia meminum obat tidur agar tidak merasa mual. Walaupun begitu, ia tak merasa khawatir untuk perjalanan kali ini. Karena selama beberapa tahun tinggal di kampung, baru kali ini ia melakukan perjalanan jauh. Ia merasa mungkin kondisi tubuh nya sudah tak seperti dulu lagi. Di tengah kesibukan nya, tiba tiba ponsel milik nya berdering.


"Assalamualaikum Nis," sapa Diana kepada Nisa yang menelpon nya.


"Waalaikumsalam. Gimana bekal kita udah siap kan?" Tanya Nisa.


"Udah kok, udah beres. Eh iya, aku minta tolong dong. Kamu beli permen jahe ya. Aku takut mual di jalan." ucap Diana yang merasa mulai tak yakin dengan keadaannya yang tiba tiba merasa sedikit pusing.


"Ok deh, ntar aku belikan," ucap Nisa sebelum menutup telepon nya.


Waktu berjalan begitu cepat. Diana yang sudah selesai akhirnya berangkat ke sekolah. Tampak 3 bus besar telah terparkir di halaman sekolah. Para siswa terlihat sangat gembira dan berkumpul di gerbang sekolah. Panitia memberikan arahan kepada seluruh siswa. Kemudian mereka pun masuk ke dalam bus untuk melakukan perjalanan.


**********


Suasana di dalam bus semakin membuat Diana tak nyaman. Semua teman teman nya bernyanyi ria, sementara ia menahan rasa sakit di kepala nya yang sangat menyiksa. Ia mulai mengulum permen jahe yang di berikan Nisa. Namun masih belum juga mengurangi rasa tak nyaman itu. Diana mencoba menghirup nafas panjang. Akhirnya ia meminum obat yang sudah ia siapkan dari semalam. Sebenarnya ia tak mau lagi meminum obat itu, tapi kondisi nya sekarang sangat darurat. Ia tak mau merepotkan teman teman nya kalau dia sakit.


Setelah 3 jam perjalanan, akhirnya bus mereka pun sampai ke lokasi yang di tuju. Tampak sudah ada beberapa bus yang terparkir. Nisa pun membangunkan Diana yang masih tertidur.


"Diana...woy bangun. Udah sampai tuh. Emang kamu mau tidur disini terus," ucap Nisa yang langsung membuat Diana mengerjapkan kedua mata nya.


"Rasanya aku pengen tidur di rumah aja Nis," ucap Diana sambil memegang kepala nya yang masih terasa pusing.


"Yaelah....Gimana sih kamu Di...diajak jalan jalan malah mabok gini. Gak seru ah." ucap Nisa sambil membantu Diana untuk bangkit dari tempat duduk nya.


Diana dan Nisa akhirnya turun dari bus dan mengikuti siswa yang lain nya. Mereka berkumpul terlebih dahulu sebelum dibubarkan. Panitia memberi aba aba kepada yang lain agar berdisiplin dalam bermain. Merasa berada di kawasan permainan fantasi. Dimana terdapat puluhan wahana menarik dan menegangkan. Semua tampak sangat menikmati, lain hal dengan Diana. Ia memang tak begitu suka dengan tempat seperti itu. Ia pun memutuskan untuk tetap duduk di tempat berkumpul mereka. Saat ia membuka tas ransel nya, tiba tiba ada seseorang yang menghampiri dan menyapa nya.


"Assalamualaikum Diana," sapa seseorang itu dengan ramah.

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Kak Hafiz, kok bisa ada disini?" Tanya Diana heran merasa beberapa kali terjadi kebetulan pertemuan nya dengan Hafiz.


"Kebetulan aku ikut rombongan dari sekolah tempat ku mengajar," jawab Hafiz yang tak kalah terkejut dengan pertemuan mereka untuk ke sekian kalinya.


"Oh..." ucap Diana singkat.


Hafiz segera duduk di tempat duduk yang tersedia disamping Diana. Tanpa di sadari ada kecanggungan di antara mereka. Beberapa saat suasana pun hening tanpa kata.


"Ehm....kemarin baca pesan ku gak?" tanya Hafiz memulai pembicaraan.


Pesan yang mana yah? Ya ampun. kemarin banyak banget pesan masuk, aku sampai lupa membuka pesan nya kak Hafiz.


"Maaf kak, kemarin aku sibuk jadi belum sempat buka semua pesan masuk," ucap Diana yang merasa bersalah.


"Oh iya gak apa apa. Aku tau kalau kamu sibuk," ucap Hafiz lagi.


Lagi lagi suasana hening beberapa menit. Sampai dering ponsel milik Diana mengisi kekosongan antara mereka. Tampak sebuah nomor baru yang belum tersimpan di ponsel Diana.


"Halo..." sapa Diana, namun si penelpon seperti hanya ingin mengerjai Diana saja karena tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Diana dengan sigap mematikan ponsel nya.


"Aku kurang enak badan kak, seperti nya memang belum terbiasa berjalan jauh," jawab Diana dengan raut sedih.


"Jadi bagaimana kondisi mu sekarang? Apa masih pusing?" tanya Hafiz mulai khawatir.


"Masih sedikit pusing sih kak, tapi sebentar lagi juga bakal baikan kok. Oh ya gimana kabar bibi nya kakak?" Diana mengingat seseorang yang ia temui saat ayah Hafiz meninggal dunia.


"Alhamdulillah bibi sehat. Tapi sebenarnya bibi ingin ketemu sama kamu Diana, itu pun kalau kamu gak keberatan," ucap Hafiz.


"Oh, ntar lain kali kalau ada waktu aku bakal main kesana kak," ucap Diana lagi.


Obrolan ringan pun terjadi di antara mereka. Diana bahkan tak tertarik untuk berkeliling. Namun tiba tiba Purnama dan Nisa menghampiri mereka berdua.


"Diana, kamu masih disini aja. Ayo kita masuk rumah hantu. Temen temen yang lain pada gak berani tuh, kami tau kalau kamu pasti berani. Ayo lah kita masuk. Aku penasaran mau tau apa isi nya," ucap Nisa.


"Eh...ini kak Hafiz yang waktu itu ikutan lomba yah?" Tanya Purnama pada Diana.

__ADS_1


"Iya. Kebetulan rombongan kak Hafiz juga tamasya ke sini," ucap Diana.


Diana dan teman teman nya akhirnya berpisah dengan Hafiz dan mereka menuju wahana rumah hantu. Hafiz masih memandang kepergian Diana dari kejauhan.


"Sepertinya pilihan ku tidak salah," ucap Hafiz berkata sendiri.


Diana dan teman teman nya sudah membeli karcis untuk masuk ke rumah hantu. Diana tampak paling bersemangat, sampai ia lupa dengan kepala nya yang masih sedikit pusing. Ketika akan melangkah masuk, tiba tiba Nisa dan Purnama menarik tangan Diana.


"Yakin nih kita mau masuk?" Purnama mulai ketakutan.


"Gimana sih, tadi kalian yang ngajak aku. Sekarang kenapa jadi kalian yang takut," Diana mendengus kesal melihat mental teman temannya yang sudah ciut bahkan sebelum masuk ke rumah hantu itu.


Diana pun menarik paksa kedua temannya dan mulai masuk bersama rombongan yang lain nya. Di depan pintu masuk mereka disambut dengan orang yang menyamar seperti genderuwo, sontak Nisa dan Purnama teriak. Sedang Diana hanya tersenyum simpul. Lalu di tengah perjalanan yang gelap gulita itu, banyak jelmaan hantu berdiri di pinggiran dinding. Ada pocong, kuntilanak, ada beberapa kuburan buatan dan ada tuyul yang sebenarnya hanya seorang anak kecil yang di poles dengan bedak putih dengan pinggiran mata berwarna hitam. Tuyul itu menakut nakuti mereka bertiga, hingga Nisa dan Purnama teriak histeris ketakutan. Sedang Diana mendekati tuyul itu dan meramas kepala botak nya dan menjewer telinga tuyul itu. Sehingga tuyul jadi jadian itu minta ampun dan berlari meninggalkan mereka. Setelah melalui banyak rintangan akhirnya mereka pun keluar dari rumah hantu itu. Diana tiada hentinya menertawai teman nya yang ketakutan. Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang sedari pagi sudah mengikuti perjalanan Diana dan mengawasinya.


"Bukan hanya tegar, tapi kamu cukup berani Diana. Membuatku semakin jatuh cinta padamu," ucap pria itu.


*


*


*


*


*


*


Maaf beribu maaf.


Masih belum bisa teratur update nya.


Maklum aje ya.....jempol suka nyeri. Hihihi


Jangan lupa kencengin like vote nya yah...!!!

__ADS_1


Happy reading...


__ADS_2