Hijab Dan Penantian

Hijab Dan Penantian
Gundah


__ADS_3

Diana sudah berada di tepi jalan menuju rumahnya. Ia duduk di sebuah warung kecil yang ada di pinggir jalan itu untuk membeli air mineral. Kerongkongan nya terasa sangat kering akibat berlari sekencang kencangnya dari rumah Andre tadi. Ia sangat bersyukur karena Allah masih melindungi harta berharga satu satunya yang ia miliki. Diana mengeluarkan selembar uang kertas dari saku gamis nya dan memberikan nya pada penjual air mineral itu. Ia pun langsung meneguknya hingga separuh.


Apa ini karena aku tak mendengarkan kata kata Oma tadi ya? ucap Diana dalam hati nya.


Diana kembali melanjutkan langkah kaki nya. Ia bingung harus berkata apa pada Oma tentang kejadian ini. Kondisi nya yang sedikit berantakan ditambah lagi pulang tanpa alas kaki, pasti menimbulkan pertanyaan bagi orang yang melihatnya. Ia masih terus melangkah dengan gontai.


"Loh...mbak, kok udah pulang? Itu kenapa gak pakai sendal?" Kevin yang keluar rumah melihat Diana yang sudah hampir sampai ke rumah berjalan tanpa alas kaki.


"Itu....tadi....mbak...ehm...dikejar anjing. Jadi mbak lempar pakai sendal. Mbak takut jadi langsung lari aja deh," ucap Diana terbata bata.


"Tapi kok mbak cepat pulang? trus tas selempang nya mana? kok gak di bawa?" Kevin menghujani Diana dengan pertanyaan yang bertubi tubi membuat Diana bingung.


"Udah deh nanti mbak ceritain, panjang ceritanya. Oma di rumah gak?" tanya Diana yang merasa takut kalau nanti Oma nya ada di rumah.


"Gak ada, Oma lagi ke pasar," jawaban Kevin membuat Diana lega dan langsung berlari masuk kedalam rumah.


Kevin memandangi punggung Diana yang sudah menghilang dari pandangan nya. Ia merasa curiga pada tingkah kakaknya yang tak seperti biasa itu. Namun ia tak banyak tanya lagi karena harus melanjutkan pekerjaan nya sebagai montir di sebuah bengkel. Kevin memang tidak tamat sekolah, karena kesungguhannya ia bisa menjadi montir di sebuah bengkel motor yang ada di kampung itu.


***********


"Assalamualaikum. Loh.....kemana Diana Ndre? Ini tas nya," tanya Bu Lani kepada Andre yang melihat tas milik Diana terletak di atas meja.


"Sudah pulang ma," ucap Andre tanpa rasa bersalah.


"Loh..kenapa pulang? Tapi mama liat ada sandal nya di depan," ucap Bu Lani tak percaya dengan ucapan putranya.


"Besok mama cari pengganti Diana. Karena besok dia tidak lagi bekerja disini. Dia akan menikah ma," ucap Andre sambil berlalu meninggalkan Bu Lani yang masih penuh tanda tanya.


"Andre maksud kamu apa nak?" ucapan Bu Lani tak lagi dihiraukan oleh Andre.


Ia langsung masuk kedalam kamar sambil membawa tas milik Diana ke kamarnya. Lalu sesampainya di dalam kamar, Andre langsung membuka tas milik Diana dan mengeluarkan ponsel Diana. Ia memeriksa ponsel Diana. Ketika ia masih sibuk membuka pesan, tiba tiba ada sebuah pesan masuk ke ponsel Diana.


Assalamualaikum bidadari surga.


Sudah sholat Duha?


"cih....kurang ajar...," Andre berdecak kesal, namun ia menggunakan cara licik untuk menghancurkan hubungan Diana dengan Hafiz.


Jangan pernah dekati aku lagi. Karena hati dan tubuhku sudah milik orang lain.

__ADS_1


Andre tersenyum sinis sambil mengirimkan sebuah balasan ke Hafiz untuk merencanakan sesuatu yang jahat. Cinta nya kepada Diana membuat ia gelap mata.


Sementara itu Hafiz di seberang sana merasa sangat terkejut mendapat balasan pesan dari Diana. Ia yang tak mengerti maksud Diana, dengan segera mengambil inisiatif untuk menghubungi Diana. Beberapa kali panggilan ia lakukan namun tak ada jawaban. Hatinya merasa gelisah hingga akhirnya ia langsung menelpon ke nomor Oma Nuri.


"Assalamualaikum Oma,"


"....."


"Apa Diana ada di rumah Oma?"


"....."


"Oh ya sudah kalau begitu Oma, terimakasih ya Oma. Assalamualaikum,"


"....."


Kenapa kamu tidak mengangkat telepon ku? Aku ingin mendengar nya langsung dari lidah mu?


Hafiz kembali mengirimkan pesan. Dan tak lama kemudian saat itu juga langsung mendapat balasan dari ponsel Diana.


Aku tak punya waktu untuk meladeni omong kosong mu.


"Assalamualaikum Oma,"


"Waalaikumsalam, ini aku kak," Diana yang menjawab panggilan itu membuat Hafiz merasa sedikit lega.


"Oh...kebetulan ada yang mau aku tanya ke kamu, apa semua yang tertulis di pesan itu benar?" tanya Hafiz langsung pada Diana.


"Pesan yang mana yah kak? Sejak pagi aku gak pegang ponsel. Ponsel ku tertinggal di......ehm...." kata kata Diana yang terputus semakin membuat Hafiz penasaran.


"Ya sudah nanti pulang dari sekolah, aku sempetin mampir ya. Ada yang mau aku tanyakan ke kamu," ucap Hafiz sebelum menutup telepon nya.


Hafiz merasa sangat lega. Dugaan nya ternyata benar, bahwa pesan yang dikirim dari ponsel Diana bukan lah pesan yang ia ketik sendiri. Melainkan ada tangan yang tak bertanggung jawab yang menyalahgunakan ponsel itu.


"Assalamualaikum," ucap Hafiz yang siang ini sudah berada di rumah Diana.


"Waalaikumsalam. Silahkan masuk kak," ucap Diana.


Hafiz pun memilih untuk duduk di teras rumah Diana. Diana kembali ke dapur untuk membawakan teh hangat kepada Hafiz. Tak lama kemudian ia duduk di teras menemani Hafiz.

__ADS_1


"Terima kasih ya," ucap Hafiz saat Diana menyuguhkan segelas teh untuk nya. "Boleh aku bertanya atau meminta penjelasan tentang ini?" ucap Hafiz lagi sambil menunjukkan sebuah pesan yang dikirim dari nomor ponsel Diana.


Diana tampak terkejut dengan isi pesan yang ditunjukkan oleh Hafiz. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Astagfirulloh haladzim...," mata Diana mulai berkaca kaca. "Aku memang tak sempat untuk mengambil tas ku yang tertinggal di rumah Bu Lani tadi kak, karena aku tadi sudah terburu buru," ucap Diana lagi.


"Aku percaya sama kamu. Aku juga sangat yakin ini bukan kata kata dari kamu. Karena Diana yang aku kenal adalah Diana yang lemah lembut dan santun, hanya saja sejak aku mengkhitbah nya dia menjadi sedikit lebih dingin pada ku," sindir Hafiz sambil menyeruput teh nya.


Diana yang mendengar perkataan Hafiz merasa tidak enak pada nya. Karena memang benar yang dikatakan Hafiz. Sejak Hafiz mengkhitbah nya, sikap nya menjadi lebih dingin. Mungkin karena ia belum siap menjadi seorang istri.


Apa aku harus menceritakan kejadian di rumah Bu Lani tadi pada kak Hafiz? Kalau aku tidak bicara, pasti ia mengira yang macam macam padaku gara gara pesan yang dikirim kan mas Andre ke kak Hafiz. Aku yakin pasti dia yang lancang memeriksa ponsel ku. Tapi, apa perduli nya dengan tanggapan kak Hafiz tentang ku. Kenapa rasanya aku ingin sekali berbagi dengan nya.


"Hey, kenapa melamun. Jadi mau cerita tidak?" ucap Hafiz membuyarkan lamunan Diana.


Dia ini seperti tahu saja aku sedang menyembunyikan sesuatu.


"Apa kak Hafiz akan percaya dengan cerita ku?" tanya Diana ragu untuk menceritakan perihal kejadian tadi pagi di rumah Bu Lani.


"Tentu aku harus percaya padamu, kamu kan calon istri ku," ucap Hafiz dengan senyum simpul nya.


Dengan sedikit keraguan, akhirnya Diana menceritakan semua kejadian tadi pada Hafiz, entah kenapa ia merasa tidak mau menyembunyikan apa pun dari calon suami yang sebenarnya tidak ia inginkan itu. Diana bercerita dengan meneteskan air mata. Ia juga mengatakan tentang penyesalannya karena tidak mendengar perkataan Oma tadi pagi. Hafiz menatap nya dengan rasa iba. Ingin sekali ia memeluk gadis pujaan hatinya itu untuk meredakan sedikit rasa gundah Diana. Namun hal itu belum bisa ia lakukan karena di antara mereka belum ada ikatan yang sah. Kejadian hari ini hampir saja membuat Diana kehilangan masa depan nya seumur hidup. Tapi Tuhan masih melindunginya.


"Aku selalu berdoa kepada Allah. agar Allah selalu melindungi mu Diana," ucap Hafiz yang membuat Diana kembali menatap nya.


*


*


*


*


*


Maaf ya readers....


Sepertinya author belum bisa bikin cerita yang lebih greget.


Tapi author janji akan selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik.

__ADS_1


Happy reading!!!


__ADS_2