
Setelah libur sekolah selama dua pekan, akhirnya hari ini Diana akan masuk sekolah. Sulit rasanya bagi seorang Diana yang masih duduk di bangku kelas IX Sekolah Menengah Pertama untuk menjalani semua ini, dimana dia harus mengatur hidup nya dan menjaga kedua adik laki-laki nya. Si bungsu Ifan di bawa oleh Oma Nuri ke kota untuk mengurus segala surat perpindahan yang belum selesai.
Alarm yang ada di ponsel milik Diana pun berbunyi tepat pukul 04.30. Diana langsung bergegas bangun dari tempat tidur nya, dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera menunaikan kewajibannya. Setelah itu ia melanjutkan kegiatannya di dapur, memasak untuk kedua adik laki-laki nya. Seperti itu lah kegiatan Diana selama sepekan menunggu sampai Oma pulang dari kota. Peluh mulai membasahi tubuhnya.
Seandainya saja aku di takdir kan menjadi anak orang kaya, pasti aku sangat bahagia sekali. Tak perlu bersusah payah seperti ini, setiap hari harus berkutat di depan kayu bakar. Huft.... sungguh....tidak beruntung sekali nasib ku. Diana meratapi nasibnya.
Saat itu di rumah Oma Nuri yang berada di kampung belum ada kompor minyak atau pun gas, yang ada hanya kayu. Dan mereka biasa memasak dengan menggunakan kayu bakar. Diana yang belum terbiasa pun tampak kelelahan sambil meneteskan airmata karena terkena asap kayu yang belum terbakar sempurna.
"Mbak, hari pertama masuk sekolah ya?" tanya Dimas masih setengah mengantuk.
"Iya, buruan kamu mandi. Biar mbak siapin sarapan nya", perintah Diana pada adik nya.
Dengan langkah gontai nya, Dimas masuk ke dalam kamar mandi.
"Dek, bangun. Nanti kamu terlambat. Ayo buruan!" Diana membangunkan Kevin yang saat itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
"Mbak, boleh gak libur dulu hari ini. Kevin masih ngantuk sekali", jawab Kevin sambil mengambil selimut nya dan menutup tubuhnya kembali.
"Hei, tidak boleh. Libur sudah terlalu lama, kenapa mau di tambah lagi. Ayo bangun.....!" perintah Diana setengah marah.
Kevin yang melihat ekspresi Diana yang seperti ingin menelan nya pun merasa takut dan langsung beranjak dari tempat tidur nya, lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.
*********
"Anak-anak, hari ini ibu akan memperkenalkan teman baru kalian. Dia pindahan dari kota. Ayo nak, kemari!" ucap Bu Fauziah yang kebetulan menjadi wali kelas Diana di sekolah.
__ADS_1
Diana pun maju ke depan kelas untuk memperkenalkan diri nya. Semua mata memandang ke arah nya. Melihat dengan tatapan aneh kepada Diana. Wajar saja, Diana yang belum terbiasa dengan pakaian baru nya yang menjadi bagian dari peraturan sekolah. Selama di kota, Diana biasa mengenakan rok pendek dan seragam sekolah lengan pendek pula. Namun, di sekolah baru Diana, mewajibkan semua siswi berpakaian muslimah. Diana memakai hijab yang langsung bisa di pakai tanpa harus menggunakan jarum, biar lebih mudah pikirnya. Namun membuat ia menjadi paling aneh, karena teman teman Diana yang lain mengenakan hijab yang berbentuk segiempat, yang berukuran besar dan menggunakan jarum untuk memakainya.
Ada apa dengan mereka? Kenapa menatapku begitu, aku jadi merasa tidak nyaman. Diana mulai gugup.
"Assalamualaikum", sapa Diana yang langsung dijawab oleh teman sekelasnya. "Nama saya Diana Assyfa Marwan, saya pindahan dari sekolah Iskandar Muda yang ada di kota M", ucap Diana singkat.
"Wah, anak kota ya. Kok masuk kampung?!" Rengga mulai meledek Diana. Rengga adalah siswa paling badung di kelas nya. Perawakan nya tinggi putih, dengan hidung mancung. Tampan memang, tapi kelakuan nya sering membuat para guru resah.
"Rengga, ibu tidak menyuruh mu bicara", ucap Bu Fauziah menanggapi kejahilan Rengga pada Diana. "Diana, silahkan duduk disana", Bu Fauziah menunjuk ke arah bangku kosong di samping Irma.
Tata letak di ruang kelas itu pun sangat berbeda dengan ruang kelas yang ada di sekolah Diana dulu di kota, di sekolah baru Diana, meja yang tersusun ada lah meja berukuran besar dan di tempati oleh 4 siswa yang di pisah antara laki-laki dan perempuan. Sedang kan selama di kota, di sekolah Diana yang dulu ia hanya duduk dengan seorang teman saja.
"Hai, nama ku Diana", Diana mengulurkan tangan pada teman di samping kiri nya.
Sedang kan Reni yang ada di samping kanan Diana hanya diam saja. Pelajaran pun di mulai. Diana merasa sangat tidak puas, bagaimana mungkin pelajaran yang di pelajari di sekolah baru nya itu sudah pernah ia pelajari bahkan di saat ia masih duduk di bangku kelas VII SMP. Semua sangat mudah bagi nya. Apalagi ia seorang juara umum di sekolah favorit nya. Diana mengerjakan soal dari gurunya dengan waktu yang singkat. Teman di samping kanan kiri nya menatap Diana heran.
Teng.....Teng.....Teng....
Lonceng tanda istirahat berbunyi.
Astaga, bahkan mereka tak punya bel. Hanya ada lonceng yang di pukul untuk menandakan pelajaran telah usai. Sungguh jauh berbeda dengan sekolah ku dulu. Ya Tuhan.....gumam Diana dalam hati.
"Ayo Di!", ajak Irma
"Kemana?" tanya Diana.
__ADS_1
"Ke kantin dong, apa kamu tidak lapar?" tanya Irma lagi.
Diana masih terdiam dan tersenyum simpul.
"Kamu duluan saja, aku belum lapar", tolak Diana halus.
Irma pun pergi berlalu meninggalkan Diana. Diana bukan nya tidak lapar, tapi dia berusaha sehemat mungkin dengan sisa uang yang diberikan Oma Muri. Dia takut jika uang itu habis, sementara di rumah ada dua orang adik nya yang harus di beri makan setiap hari. Di kampung Diana belum mendapatkan aktivitas tambahan yang bisa menghasilkan uang, untuk tambahan uang saku nya. Sementara waktu di kota, Diana selalu mengikuti kegiatan Cherleaders dimana ketika tim mereka di undang untuk mengisi acara, mereka dibayar dengan bayaran yang lumayan.
"Hei...", seseorang mengagetkan Diana. Rengga Irawan. Siswa paling jahil di kelas nya. Diana hanya diam tak berekspresi.
"Kenapa pindah ke kampung?" tanya Rengga lagi.
"Apa urusan nya dengan mu?!" timpal Diana.
"Sombong amat jadi cewek", ucap Rengga sambil mendekati Diana dan duduk di samping nya. Diana tidak membalas.
"Hei Rengga, ada anak baru lupa ya sama aku", Arni mendekat pula. Arni adalah siswi yang menyukai Rengga di kelas itu.
"Masalah buat loe", Rengga menjawab sekenanya.
Diana yang melihat perselisihan itu mulai merasa tidak nyaman, ia pun keluar dari kelas nya. Sampai di luar, Bu Fauziah memanggil nya dan mengajak nya masuk ke dalam kantor.
"Diana, ibu mau tanya sesuatu. Kenapa kamu pindah ke sini?" Bu Fauziah mulai menyelidik.
Diana hanya terdiam dan meneteskan air mata.
__ADS_1