
Setelah peristiwa malam itu, Diana merasa sangat malu melihat wajah suaminya. Paras wajah yang selalu merona merah saat menatap mata Hafiz. Hubungan mereka menjadi semakin erat dan mesra. Diana tak lagi merasa secanggung saat awal pernikahan mereka. Dan tentunya hari hari berjalan sangat baik tanpa hambatan. Hingga suatu saat Hafiz di pindah tugaskan kembali karena ia mendapat jabatan baru sebagai kepala sekolah untuk ke daerah di luar kota yang jarak tempuh nya sangat jauh dari rumah Hafiz. Awalnya ia hanya melakukan perjalanan pulang balik dengan sepeda motor. Namun semakin hari ia sudah merasa sangat kelelahan. Hingga ia memutuskan untuk mengajak Diana pindah ke daerah di luar kota itu.
Sehari dua hari, keadaan masih seperti biasa. Namun di hari ketiga, tiba tiba Diana jatuh sakit. Wajah nya begitu pucat pasi. Beberapa kali bahkan ia pingsan di dalam rumah. Hafiz membawa Diana ke rumah sakit terdekat. Dokter pun memeriksa Diana, dan Diana diharuskan untuk menjalankan rawat inap di rumah sakit.
Tepat pukul 04.00 dini hari. Hafiz terbangun dan melakukan sholat tahajud. Dalam sholat nya ia pun berdoa untuk kesembuhan Diana. Sebenarnya ia enggan untuk memberikan kabar kepada keluarga Diana. Namun, setelah ia pikir kan lagi akhirnya ia mengambil ponsel nya untuk menghubungi Oma Nuri. Terdengar deringan beberapa kali namun belum ada jawaban. Akhirnya Hafiz mematikan panggilan nya.
Tatapan nya kembali pada istri tercinta yang masih memejamkan mata sejak malam tadi. Tanpa sadar butiran air mata pun mengalir membasahi pipi nya. Hafiz kemudian melanjutkan dengan membaca ayat suci Al-Qur'an untuk menunggu datang nya waktu subuh. Setelah melaksanakan sholat subuh, Hafiz kembali duduk di samping Diana. Ia menggenggam erat tangan istrinya itu dan mencium nya dengan lembut. Perlahan tangan Diana bergerak. Hafiz menatap sepasang mata indah itu yang mulai bergerak terbuka.
"Alhamdulillah...terimakasih ya Allah.... Sayang..." Hafiz menciumi tangan istrinya lalu mengecup pucuk kepalanya.
"Kak, haus...." suara Diana hampir tak terdengar.
Hafiz dengan sigap mengambilkan air hangat. Lalu menyendokkan air sedikit demi sedikit ke mulut Diana. Sampai Diana merasa sudah cukup.
"Jangan banyak bicara dulu. Istirahatlah!" ucap Hafiz.
"Maafin Ana yah kak udah merepotkan kakak," ucap Diana lirih.
"Enggak sayang, jangan bicara begitu. Kamu itu orang yang paling berharga bagi ku. Jadi sudah seharusnya aku memperjuangkan mu," ucap Hafiz.
Tak lama kemudian tiba tiba seorang dokter masuk untuk memeriksa Diana. Setelah itu dokter meminta Hafiz untuk masuk ke ruangan nya.
"Apakah istri bapak pernah mengalami pendarahan? Atau datang bulan yang berkepanjangan?" tanya Dokter.
"Selama kami menikah istri saya tidak pernah mengalami pendarahan atau datang bulan yang melebihi 7 hari Dok," tutur Hafiz.
"Saya mendeteksi ada nya kanker di rahim istri anda sehingga menyebabkan ia mengalami sakit perut yang luar biasa. Namun untuk mengetahui lebih pasti nya, istri anda akan melakukan USG dan juga tes darah," ucap Dokter.
"Baik dok, lakukan saja semua yang terbaik untuk istri saya," ucap Hafiz.
"Mohon untuk selalu menjaga perasaan dan kondisi emosional nya ya pak, agar istri anda lebih rileks. Kerena stres bisa memicu perkembangan kanker, dan apabila setelah pemeriksaan hasilnya positif maka pemeriksaan selanjutnya akan ditangani oleh dokter vina spesialis kandungan," ucap Dokter Rio lagi.
__ADS_1
Hafiz keluar dari ruangan dokter dengan perasaan yang sangat berkecamuk. Hati nya begitu sedih dan terluka melihat orang yang paling ia cintai terbaring lemah di brankar rumah sakit. Lalu ponsel Hafiz pun berbunyi, tertera nama Oma Nuri di layar ponsel itu. Hafiz segera mengangkat nya. Oma pun bertanya tentang keadaan mereka. Awalnya Hafiz ragu untuk menceritakan perihal yang sebenarnya. Sampai pada akhirnya, dengan berat hati ia pun berkata yang sebenarnya sedang terjadi pada Diana. Oma Nuri terdengar sangat sedih. Tetapi Hafiz melarang Oma untuk datang berkunjung di karena kan jarak tempuh rumah Oma dan rumah sakit sangat lah jauh. Belum lagi kondisi Oma yang sudah semakin menua tertelan usia membuatnya sudah kesulitan untuk berjalan.
Setelah mematikan ponsel, Hafiz kembali ke ruang di mana tempat Diana di rawat. Terlihat Diana sudah terduduk di kepala ranjang.
"Siapa yang membantu mu duduk sayang?" tanya Hafiz melihat kondisi duduk istrinya yang sudah sangat baik.
"Tadi ada suster ngantar sarapan Kak, terus Ana minta tolong deh. Habis nya capek rebhan terus kak. Oh ya kapan Ana bisa pulang kak?" tanya Diana yang membuat Hafiz gelagapan untuk menjawab nya. Ia pun mencoba mengatur nafas sebelum menjawab pertanyaan Diana.
"Kamu pasti akan segera pulang jika sudah membaik," ucap Hafiz sambil tersenyum walau sangat berat.
"Ana sudah tidak apa apa kak. Berarti kita bisa pulang kan?" ucap Diana kembali.
Hafiz tak lagi menjawab nya dan segera mengambil sepiring bubur yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit untuk setiap pasien. Menu sarapan pagi itu adalah bubur dengan sayuran hijau yang di rebus dan ikan nila yang di goreng. Diana seperti tak bernafsu melihatnya, namun ia berusaha untuk semangat agar tak membuat suami nya kecewa. Kabar tentang sakit Diana juga telah di dengar oleh bibi Farida dan keluarga Hafiz di kampung. Mereka turut prihatin. dengan keadaan Diana, sehingga paman dan bibi pun mengusulkan pada Hafiz untuk membawa Diana kembali ke rumah bibi.
Ponsel Hafiz berdering, sebuah pesan masuk dari Kevin adik laki laki Diana. Hafiz membaca nya tanpa suara. Isi pesan itu menanyakan tentang keadaan Diana. Hafiz berusaha untuk meyakinkan keluarga Diana bahwa ia bisa mengurus Diana.
"Pesan dari siapa kak?" tanya Diana penasaran.
"Oh, ini dari Kevin. Nanyain kamu. Nih kamu makan lagi yang banyak yah, biar cepat sehat supaya bisa cepat pulang," ucap Hafiz.
*********
Hari ketiga di rumah sakit. Oma Nuri dan Mama Hani datang untuk menjenguk Diana. Tapi sebelum mereka masuk ke dalam kamar Diana, mereka bertemu dengan Hafiz yang kebetulan ingin keluar dari kamar untuk menuju ruangan dokter.
"Assalamualaikum," sapa Oma Nuri.
"Waalaikumsalam," jawab Hafiz sambil mencium tangan Oma dan Mama bergantian.
"Kenapa Diana nak? Apa dia sudah hamil?" tanya Oma Nuri khawatir.
"Tidak Oma, Diana tidak hamil. Tentang kejelasan penyakitnya apa, ini Hafiz baru mau menemui dokter ke ruangan nya," tutur Hafiz.
__ADS_1
"Ya sudah cepat lah nak, temui dokter dulu. Biar mama sama Oma yang menjaga Diana.
"Baik lah Oma, Hafiz titip Diana," Hafiz segera berlalu meninggalkan Oma dan Mama Hani di ruangan Diana. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju ruangan dokter.
Di dalam ruangan itu terjadilah percakapan diantara Hafiz dan Dokter spesialis yang menangani Diana.
"Silahkan duduk, Pak Hafiz! Saya akan menjelaskan tentang hasil USG dan hasil tes darah istri bapak," ucap dokter.
Hafiz memandang hasil laboratorium pemeriksaan atas istrinya dan membaca nya dengan perlahan.
"Apa maksud nya ini Dok?" tanya Hafiz pada dokter seakan tak percaya dengan apa yang ia baca.
"Istri anda mengidap kanker Serviks stadium awal Pak, saya harap bapak berbesar hati untuk menyikapi peristiwa ini. Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk melakukan tes urin dan juga pemeriksaan di area vital nya, apakah ia termasuk serviks luar atau serviks dalam," penuturan dokter membuat Hafiz terkulai lemas.
"Apa penyebab penyakit ini Dok?" tanya Hafiz lagi.
"Banyak hal, dan untuk istri anda saya prediksi penyebab nya adalah kondisi hormonal yang tidak stabil dan juga penggunaan pembalut. Dan gejala kanker ini biasanya datang agak lama, seperti mengalami datang bulan yang tidak teratur," jelas dokter lagi.
Awalnya Diana di tangani oleh dokter umum, namun setelah pemeriksaan laboratorium penanganannya di alihkan kepada Dokter Vina spesialis kandungan.
"Apa yang harus saya lakukan selanjutnya dok?" tanya Hafiz.
"Sementara ini, tetaplah untuk menjaga perasaan istri bapak agar tidak stres. Karena stres dapat memicu penyakit itu," tambah dokter Vina lagi.
*
*
*
*
__ADS_1
*
Buat para readers yang cewek2, hati2 dalam penggunaan pembalut ya. Karena bisa menyebabkan kanker serviks....