
"Diana, minggu depan kita kan udah libur. Boleh gak aku main ke rumah kamu?" Tedja sangat berharap diberi kesempatan untuk mendekati Diana.
Diana tampak memikirkan nya sejenak. Lalu....
"Maaf kak, Diana sudah ada janji", menjawab seadanya tanpa rasa bersalah.
"Lain kali kalau kamu ada waktu, boleh ya aku main ke rumah!" pinta Tedja berharap.
Diana hanya menjawab dengan anggukan ringan. Tedja pun pergi meninggalkan Diana, tampak dari wajah nya yang kembali dengan berbekal kekecewaan. Diana memang tak pernah mengijinkan teman lelaki untuk berkunjung kerumah nya. Karena dalam pandangan nya, laki laki yang datang ke rumah adalah laki laki yang sudah ingin menjalani hubungan yang serius dengan nya. Ia memiliki cita cita yang tinggi, sehingga tak ada sedikit pun terbersit di dalam hati nya untuk bermain main, apalagi bermain dengan perasaan. Sangat dihindari oleh Diana, karena menurut pandangannya seseorang yang sudah berani merasakan cinta adalah seseorang yang juga akan kuat menghadap pada luka.
*************
Siang ini Diana pulang dengan berjalan kaki. Ia memutuskan untuk bergegas pulang ke rumah dan pergi ke pasar guna membeli bahan bahan untuk membuat gantungan kunci yang sudah di pesan oleh teman teman nya di sekolah. Ia pun segera membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban nya. Dilihatnya Ifan kecil yang saat ini sudah duduk di bangku Sekolah Dasar sedang bermain dengan sepeda nya.
"Mbak, mau kemana sudah cantik begini?" tanya Ifan polos.
"Hey, kau lupa ya kalau mbak memang sudah cantik dari dulu", Diana tersenyum mendekati Ifan.
"Itu bukan jawaban dari pertanyaan ku, huhhh....", Ifan kemudian mengayuh kembali sepeda nya.
Diana tak begitu menghiraukan adik nya, ia pun segera meminta izin kepada Oma untuk pergi ke pasar. Ketika ia sudah di depan pagar, seseorang yang sedang mengendarai sepeda motor berhenti tepat di hadapan nya.
"Assalamualaikum", sapa seseorang yang ternyata kak Faiz.
"Waalaikumsalam", jawab Diana singkat.
"Mau kemana dek?" tanya Faiz.
"Mau ke pasar kak", jawab Diana singkat.
"Ayo bareng aja, kebetulan aku juga mau ke pasar di suruh ibuk", ucap Faiz menawarkan jasa nya.
Pandangan Faiz melekat pada Diana yang saat itu mengenakan gamis berwarna merah muda senada dengan hijab nya. Ia tampak mulai mengagumi gadis itu, karena penampilan Diana semakin hari semakin anggun. Tidak seperti saat ia pertama kali bertemu gadis itu.
Diana akhirnya menerima tawaran Faiz, mengingat cuaca saat itu sangat lah terik. Matahari seperti enggan berteman pada setiap insan. Membuat peluh mengucur pada siapa saja yang terjamah oleh sinar nya. Diana pun langsung naik ke sepeda motor milik Faiz. Hanya butuh waktu sepuluh menit, mereka akhirnya sampai di sebuah toko.
"Terimakasih ya kak", ucap Diana.
__ADS_1
"Iya, oh ya kamu lama tidak? Biar kakak tunggu saja", Faiz kembali lagi mencari kesempatan untuk mendekati Diana.
"Tidak usah kak, biar nanti Diana pulang nya jalan saja", tolak Diana halus dan langsung bergegas meninggalkan Faiz.
'Huft.....Jadi ada gadis yang menolak kebaikan ku'. Gumam Faiz.
Diana melanjutkan langkah kaki nya menyusuri toko yang ada di sana, mencari apa saja yang ia butuhkan untuk membuat gantungan kunci. Ketika ia sedang asyik memilih pita, tiba tiba seseorang dari arah belakang menyapa Diana dan menepuk bahu nya.
"Diana...", sapa seorang perempuan paruh baya itu.
"Bu Lani..." Diana menyalami dan memeluk Bu Lani.
Diana sudah lama sekali tidak bertemu Bu Lani, yah...tepatnya sejak ia sudah tidak bekerja lagi di sana. Bu Lani pun mengajak Diana untuk duduk di sebuah warung yang ada di pinggir pasar itu. Ia ingin melepas rindu karena sudah lama tak bertemu dengan Diana.
Di sela sela perbincangan mereka, sebenarnya Diana ingin sekali menanyakan kabar tentang Andre. Namun ia mengurungkan niat nya, karena tak mau Bu Lani salah paham dengan nya. Sampai akhirnya Bu Lani yang buka bicara.
"Diana, minggu depan kamu bisa datang kan ke rumah ibu, minggu depan kamu sudah liburan kan?" Bu Lani mencoba memastikan.
"Iya bu, Diana pasti main ke rumah ibu", ucap Diana lagi.
"Bukan untuk sekedar main, tapi kamu harus bantu bantu ibu ya. Soal nya minggu depan Andre akan bertunangan, ibu butuh bantuan kamu untuk menghias bingkisan yang akan di bawa ke rumah calon besan ibu", ucapan Bu Lani yang terdengar sedikit mengusik pikiran Diana.
Kemudian Diana mengangguk kecil. Dan tidak menunjukkan ekspresi apa apa di depan Bu Lani. Ia cukup sadar diri, sejak awal ia memang enggan menyambut Andre karena takut memiliki rasa yang belum pada tempatnya.
"Oh ya buk, setelah bertunangan kapan Mas Andre akan menikah?" tanya Diana kembali.
" Mungkin dua bulan kemudian, kalau pihak keluarga wanita setuju", jelas Bu Lani.
"Jangan lupa pesan pernak pernik ucapan terimakasih sama Diana ya bu, Diana pasti kasih harga diskon buat ibu dan Mas Andre", ucap Diana lagi sambil tersenyum ceria.
Bu Lani baru menyadari bahwa putra sulung nya dulu pernah menyukai Diana, mengingat itu Bu Lani menjadi tak enak hati.
"Maaf ya Diana, ibu tau dulu Andre pernah dekat sama kamu", ucap Bu Lani sedih.
Diana tersenyum simpul dan menjelaskan pada Bu Lani bahwa ia tidak merasa keberatan. Ia menganggap perasaan Andre dahulu pada nya hanya lah sebatas ke kekaguman saja, atau rasa iba.
Setelah dirasa sudah cukup lama berbincang akhirnya Diana pamit pada Bu Lani.
__ADS_1
*************
Di dalam kamar, Diana masih sibuk bergelut dengan pernak pernik dan pita pita yang ada di kamar nya. Sambil mengait pita dan pernak pernik itu, ia teringat pada Andre yang dulu pernah mendekati nya.
"Mudah sekali kau ucapkan itu, kau bilang aku cinta pertama mu?! Aku bahkan tak percaya di dunia ini ada cinta pertama. Bagiku cinta ku adalah mama, papa, adik, oma dan opa. Yang lain nya tak penting buat ku. Huhft....semoga saja tak kan kutemui orang seperti mu lagi", Diana berkata kata sendiri di dalam kamar nya sampai tak menyadari Kevin adik nya masuk ke dalam kamar.
"Siapa mbak?" Kevin mengagetkan Diana.
"Dasar kamu ya, ngagetin mbak aja kayak hantu", Diana melempar bantal kecil ke arah Kevin. "Mau apa?" tanya Diana lagi yang mengerti akan maksud adik nya itu, ya....selalu saja si Kevin ini kalau ada mau nya pasti mencari kakak nya.
"Hi hi....tau aja. Mbak, aku pengen ikut latihan renang, boleh ya", ucap Kevin memelas.
"Boleh....pergi lah, biar kau tak bodoh seperti mbak, laki laki itu harus bisa segalanya", ucap Diana lagi.
"Tapi....", belum selesai Kevin melanjutkan kata katanya.
"Pasti UUD....", jawab Diana yang membuat Kevin menyeringai. "Selalu begitu, ujung ujung duit. Nah ini, udah pergi sana!" ucap Diana kesal namun tetap memberikan selembar uang pada adik nya.
'Lihatlah Ma, Pa....adik adik sudah mulai tumbuh besar. Apakah kalian tidak merindukan kami....?' Diana yang tiba tiba teringat pada mama dan papa nya merasa kan sesak di dada nya, seperti akan ada air yang akan tumpah dari mata bening nya. Namun ia segera menghapus nya dan tak mau berlaku cengeng. Dering ponsel milik Diana pun membuat pandangan nya beralih ke benda kecil itu....
"Privat number called....."
Siapa?
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
bersambung.....