
Hari hari dilalui oleh Diana dengan tak bersemangat. Sejak kepergian Fadhil ia merasa sedikit sedih, walaupun ia tak menyukai Fadhil, tapi Fadhil banyak berjasa dalam hidup nya akhir akhir ini. Dengan kepergian Fadhil, Diana berpikir sesaat bahwa Fadhil memang bukan yang terbaik untuk dirinya. Fadhil pria yang terlalu rapuh. Hanya karena cinta ia rela meninggalkan pekerjaan nya yang sudah lama ia jalani. Ia malah pergi ke kota yang jauh dan mencari kerja disana. Dasar tak dewasa, begitulah pikir Diana. Ia menatap langit langit kamar nya sambil memeluk bantal berbentuk hati pemberian dari Fadhil. Dering ponsel pun membuyarkan lamunan nya.
"Halo Assalamualaikum", sapa Diana saat mengangkat ponsel nya.
"Waalaikumsalam. Diana, besok pulang sekolah kita rapat osis gak?" tanya Maryam di seberang sana.
"Kayak nya sih iya, emang kenapa Mar?" Diana balik tanya.
"Kamu jadi ikutan gak ke acara pesta Rondang Bittang di lapangan besok?" tanya Maryam lagi.
"Iya jadi, pulang sekolah deh. Pengen liat juga, kan baru kali ini aku tau ada acara begituan. Kalo di kota dulu, gak ada Mar", ucap Diana jujur.
"Oke deh bareng ya", ucap Maryam yang tak lama mengakhiri panggilan nya.
Diana kembali lagi membaringkan tubuhnya di ranjang. Tak lama kemudian ia pun tertidur.
*************
"Jadi seperti ini toh acaranya. Rame juga ya", ucap Diana kagum dengan berbagai tarian budaya ditampilkan di acara itu.
"Waktu penutupannya ntar lebih seru lagi Di", ucap Purnama.
"Apa kalian sering lihat acara seperti ini?" tanya Maryam yang juga belum pernah menghadiri acara seperti itu.
"Beberapa kali, waktu kami masih SMP dulu", jawab Nisa dan Purnama.
Mereka masih menikmati acara yang ada di hadapan mereka. Sampai akhir nya pandangan Diana tertuju pada seorang pemuda yang ia kenal.
"Purnama, liat deh. Itu...kamu inget gak?" tanya Diana pada Purnama sambil menunjuk pada seseorang.
"Siapa?" Purnama tak mengingat nya.
"Amnesia banget sih, itu loh kak Hafiz yang ikutan lomba nyanyi dulu di lapangan ini juga. Waktu ada acara festival seni", ucap Diana menjelaskan dan melihat ke arah Hafiz yang ternyata juga sedang melihat nya.
Hafiz berjalan menghampiri Diana dan menyapa Diana juga teman teman nya. Mereka pun terlibat dalam perbincangan ringan, sampai akhirnya Diana bertukar kontak kembali dengan Hafiz, Setelah hampir setahun hilang komunikasi, akhirnya mereka menyambung komunikasi lagi.
"Masya Allah, gak sangka ya Diana kita bisa berjumpa lagi", ucap Hafiz sambil tersenyum ceria.
"Iya kak", jawab Diana singkat.
"Diana ngapain disini?" tanya Fadhil.
__ADS_1
"Oh....cuma pengen liat aja kak acaranya gimana", jawab Diana. "Kakak sendiri ngapain disini?" Diana balik bertanya.
"Kebetulan aku dan teman teman yang lain mengikuti beberapa cabang perlombaan disini", jawab Fadhil seadanya.
Obrolan demi obrolan pun terjadi, hingga waktu sudah mulai sore, Purnama dan yang lain nya beranjak ingin pulang ke rumah mereka masing masing. Begitu pula dengan Diana. Hafiz dengan santai nya ingin singgah ke rumah Diana. Tentu Diana sangat keberatan, namun setelah Hafiz mengatakan bahwa rumah nya jauh dan ingin menumpang beribadah di rumah Diana, akhirnya Diana pun mengizinkan nya. Ada rasa takut di hati nya kalau kalau Oma akan marah dan juga tak menyukai Hafiz. Ya walaupun Hafiz bukan seseorang yang penting bagi Diana, tapi ia juga tak mau setiap pria yang datang tak di sukai oleh Oma nya.
************
Oma membuat kan teh manis panas untuk Hafiz, Diana menoleh heran. Sejak kapan Oma perduli dengan tamu yang dibawa oleh Diana. Sampai Diana merasa pemandangan itu sangat diluar dugaan. Bahkan Oma sesekali berbincang dengan Hafiz.
"Tinggal dimana nak?" tanya Oma.
"Di Desa K Oma, sekitar satu jam dari sini Oma", jawab Hafiz seadanya.
Bahkan adik Oma yang lain nya yang saat itu ada di rumah Diana, ikut berbincang dengan Hafiz.
Ada apa ini? Tumben sekali Oma tersenyum manis pada pria yang datang ke rumah ini, biasa nya juga selalu tak suka. Padahal kak Hafiz juga orang yang baru ku kenal. Gumam Diana.
Adzan maghrib pun berkumandang, Hafiz mengajak Diana untuk sholat berjamaah. Seumur hidup Diana baru kali ini ada pemuda yang mengajak nya sholat berjamaah, biasanya ia hanya sholat berjamaah di mesjid saja. Kali ini berbeda. Hafiz memang pemuda yang taat beragama, aura wajah nya menampakkan ketenangan dan keteduhan. Seisi rumah dibuat nya kagum dengan lantunan ayat suci yang ia bawakan saat menjadi imam sholat. Tapi jujur saja, saat itu Diana belum juga tertarik pada Hafiz.
**********
Hari demi hari berlalu. Hafiz dan Diana menjalin komunikasi via ponsel. Tak jarang Hafiz mengajak Diana untuk berpuasa bersama walau pun mereka berada di tempat yang berjauhan. Tak jarang pula Hafiz membangun kan Diana untuk sholat tahajud. Sampai akhirnya Diana ingin menguji nya.
"Waalaikumsalam, sehat Diana?" Hafiz menanyakan kabar Diana, hal itu selalu menjadi pertanyaan pertama saat Hafiz menelpon Diana.
"Alhamdulillah sehat kak, kakak sendiri bagaimana?" tanya Diana lagi.
"Alhamdulillah masih sehat walafiat juga", jawab Hafiz seadanya.
"Oh ya kak, malam ini kakak gak ada acara kan? Aku mau minta di ajarkan tajwid dong", Diana mulai menjalankan aksi manja nya untuk menguji Hafiz yang setiap malam sabtu nya mengikuti pengajian rutin remaja di kampung nya.
"Maaf ya Diana, besok mungkin bisa. Kalau malam ini kakak harus ikut pengajian. Sekali lagi maaf ya!" ucap Hafiz.
Diana tak langsung menyerah begitu saja. Ia masih membujuk Hafiz dengan berbagai cara. Namun Hafiz begitu teguh iman nya, sehingga ia tetap pada pendiriannya untuk mengikuti pengajian. Setelah panggilan itu berakhir, Diana pun menghela nafas panjang.
"Sial....baru kali ini aku merasa di tolak. biasa nya juga aku yang nolak cowok, kenapa jadi kebalik gini sih....?" ucap Diana didalam kamar nya.
Tiba tiba Oma masuk ke dalam kamar Diana.
"Diana, ini oleh oleh yang dibawa teman mu kemarin. Kelihatannya anak nya baik loh, Oma suka sama orang nya", ucap Oma sambil menunjukkan kerupuk kering yang di bawa oleh Hafiz waktu datang berkunjung minggu lalu.
__ADS_1
Apa apaan Oma ini, sejak kapan perduli dengan buah tangan yang diberikan orang lain. Dulu Mas Fadhil juga membawa lebih dari itu, tapi tak dihiraukan.
"Apaan sih Oma, baru juga ketemu dia kali udah suka aja, itu kak Faiz yang tiap hari jumpa gak suka, Mas Fadhil juga Oma gak suka. Oma aneh banget", ucap Diana sedikit kesal.
"Kamu itu ya, denger kalo dibilangin orang tua. Feeling orang tua itu lebih kuat", ucap Oma sambil berlalu.
Sejak kapan juga Oma ngerti soal feeling. Tapi yang jelas nya, Diana baru kali ini merasa di acuhkan oleh seseorang. Sikap Hafiz jauh berbeda dengan Fadhil. Sikap nya tegas, seperti nya bertanggung jawab dan dewasa. Padahal usia nya lebih muda dari Fadhil. Mungkin itu karena profesi nya sebagai seorang guru. Ya....Hafiz hanya lah seorang guru honor. Tapi entah kenapa keluarga Diana begitu menyukai nya. Membuat Diana semakin kesal saja. Sedang kan ia tak terlalu menyukai sikap Hafiz yang acuh pada nya. Sampai pada suatu malam, tepat pukul 2 dini hari, ponsel Diana berdering. Ia terkejut dan langsung mengangkat nya.
"Halo Assalamualaikum", ucap Diana.
"Waalaikumsalam", terdengar suara lirih di seberang sana. "Diana, aku cuma mau bilang, ayah ku sudah meninggal dunia", ucap seorang pria yang ternyata Hafiz di dibarengi dengan isak tangis.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Aku turut berduka ya kak. Kakak yang sabar ya", ucap Diana merasa prihatin dengan keadaan yang menimpa Hafiz.
Tak lama kemudian Diana dan Hafiz mengakhiri pembicaraan mereka, Diana bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat sunnah. Lalu ia tidur kembali.
*Mimpi
"Diana, ayo lah ke rumah ku, ayah ku sudah tiada. Aku sudah tak punya siapa siapa lagi. Aku menjemput mu untuk ku anak ke rumah ku", ucap Hafiz.
"Baiklah kak, aku akan ikut dengan kakak", ucap Diana sembari meraih tangan Hafiz*.
Astaghfirulloh ternyata cuma mimpi. Diana mengusap wajah nya dengan kedua tangan nya. Lalu mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat subuh. Setelah selesai, Diana merapikan mukena nya. Kebetulan hari ini hari minggu, Diana tidak ke sekolah.
"Apa mimpi itu lambang bahwa aku harus pergi ke rumah kak Hafiz? Ah....dia bukan siapa siapa, hanya teman yang aku kenal waktu di festival. Kenapa aku harus pergi kesana" Diana masih bimbang harus pergi atau tidak.
*
*
*
*
*
*
Jadi readers mau nya gimana?
Diana pergi atau gak ya?!
__ADS_1
pergi atau enggak, yang penting like, rate. Kalau bisa vote nya juga yah....
tinggalkan jejak biar aku mampir balik....