Hijab Dan Penantian

Hijab Dan Penantian
Mulai merasa


__ADS_3

Hafiz menarik tangan kecil Diana dan mengajak nya duduk bersama di teras rumah Oma. Hafiz menatap lekat istri kecil nya itu. Diana mulai canggung melihat tatapan Hafiz yang tak seperti biasanya.


"Mulai hari ini, aku akan memanggilmu Ana, untuk pembeda dengan yang lain nya," ucap Hafiz.


"Tidak masalah, itu juga bagian dari nama Diana kak. Sudah....? Hanya ingin bilang itu saja?" Diana kembali membuat Hafiz salah tingkah.


"Ehm, boleh aku tanya sesuatu?" Hafiz meminta persetujuan Diana.


"Silahkan, selama Ana bisa menjawab nya kak," ucap Diana.


"Apa kau ikhlas menikah dengan ku?" tanya Hafiz membuat Diana tertegun.


"Memang nya kalau Ana tak ikhlas kakak mau apa?" Diana balik bertanya.


"Kenapa pertanyaan dibalas dengan pertanyaan? Kamu ini," Hafiz menarik hidung kecil milik Diana sampai Diana meringis kesakitan.


"Apaan sih kak? Sudah menikah baru bertanya. Dari kemarin kemana aja," ledek Diana.


Diana segera berlari meninggalkan Hafiz.


"Hey, aku belum selesai bicara," teriak Hafiz yang tak dihiraukan lagi oleh Diana.


Waktu malam pun tiba. Semua anggota keluarga sudah selesai makan. Hanya Diana yang tampak tak berselera makan. Namun ia tetap makan walau pun sedikit. Pukul 21.30, setelah berbincang dengan saudara Diana, Hafiz pun masuk ke dalam kamar. Dilihatnya Diana sudah lebih dulu memejamkan mata di kamar itu. Hafiz pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Diana. Gerakan pada kasur membuat Diana membuka mata nya.


"Tumben cepat masuk kamar?" pertanyaan Diana membuat Hafiz tersenyum simpul.


"Memangnya kenapa?" Hafiz balik tanya.


"Tidak apa, ya sudah ayo tidur!" ucap Diana sambil menarik selimut.


"An, apa kamu mencintai aku?" tanya Hafiz yang membuat Diana tak jadi memejamkan mata nya.


Kenapa baru bertanya sekarang? dasar pria aneh. Diana.


"Kenapa bertanya seperti itu? Cinta atau tidak, apa itu penting? Toh sekarang kita sudah menjadi suami istri," ucap Diana datar.


"Yah...Benar juga. Baiklah ayo tidur!" ucap Hafiz.


Lalu ia menarik selimut dan mengarahkan tubuhnya menghadap Diana. Dengan sengaja pula ia meletakkan tangan kanan nya ke perut Diana.


Aduh...Apa Apaan lagi ini? Geli sekali bila sedekat ini. Aku malu. Diana.


"Kenapa wajah mu seperti itu?" ucap Hafiz yang melihat kerutan di kening Diana.


"Ah...Tidak. Tangan kakak berat," ucap Diana mencari alasan agar Hafiz menarik kembali tangan nya.

__ADS_1


"Benarkah? Masa sih? Kau harus terbiasa An, karena aku akan melakukan lebih dari ini suatu saat nanti," ucap Hafiz penuh penekanan.


Apa? Benar benar gila. Apa maksudnya lebih dari ini? Membayangkan nya saja sudah membuat bulu kuduk ku merinding. Arggghhhh.....Diana.


*********


Setelah berlibur selama tiga hari di rumah Oma, akhirnya Hafiz membawa Diana pulang ke rumah.


"Huft....lelah...." ucap Diana tanpa sadar saat memasuki pintu rumah.


"Mau aku panggilkan tukang pijat?" tawaran Hafiz membuat Diana berpikir sejenak.


"Ana tak pernah di pijat, Ana malu kalau ada orang lain yang melihat tubuh Ana kak," ucap Diana jujur.


"Hem.......Kalau gitu aku saja yang pijat," ucap Hafiz bersemangat.


"Apa? tidak tidak tidak....kak. Ana gak capek kok, beneran...." ucap Diana mencari celah agar Hafiz mengurungkan niatnya.


Hahaha....polos sekali dia. Lihat wajah nya mulai memerah. Sungguh menggemaskan kamu sayang. Hafiz.


"Aku masak dulu ya kak, buat makan malam kita nanti," ucap Diana mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Gak perlu, kamu pasti capek kan sayang. Kita beli soto aja di warung depan sana," ucap Hafiz sambil berlalu.


Pikiran Diana mulai terbang jauh. Ia benar benar malu dan takut bila Hafiz nekat untuk memijat tubuhnya. Wajar saja, bahkan mereka belum juga melakukan nya. Hahaha dasar Diana terlalu polos. Diana bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya. Lalu ia keluar dengan handuk masih lekat di kepala. Hafiz tersenyum melihat istri nya.


"Sudah, nih kan udah keluar dari kamar mandi," jawab Diana singkat.


"Bukan itu maksud ku sayang. Sudah selesai tamu bulanan nya?" tanya Hafiz lagi.


"Ehm...Su...sudah kak," jawab Diana terbata.


Hafiz hanya tersenyum simpul. Ketika Hafiz mendekat pada Diana dan ingin mencium kening nya, tiba tiba terdengar pintu diketuk.


Tok...tok...tok...


Hafiz segera menuju pintu dan membuka nya, sedang Diana segera masuk ke dalam kamar untuk mengenakan hijab nya.


"Kak Hafiz...." seorang wanita yang ada di depan pintu itu langsung memeluk Hafiz dan Diana pun terpaksa melihat nya saat ia sudah keluar dari kamar.


"Kamu bukan anak kecil lagi Nita, lepaskan!" ucap Hafiz pada Anita sambil melepaskan tangan Anita.


"Kak, kata Tante kakak mau liburan kerumah Tante. Jadi aku mau ikut. Aku rindu sama tante Mia," ucap Anita dengan manja nya.


Hafiz menghela nafas panjang. Mau tidak mau ia harus mengiyakan agar Anita tidak bertingkah aneh dihadapan nya.

__ADS_1


Dasar nenek lampir, mau apa lagi sih dia? Diana.


Diana bergegas menuju dapur untuk membuatkan teh hangat. Lalu ia membawanya ke ruang tamu.


"Silahkan diminum teh nya!" ucap Diana pada Anita yang sudah duduk di ruang tamu bersama Hafiz.


Hafiz segera meminum teh buatan Diana. Begitupun Anita. Setelah selesai melaksanakan sholat maghrib berjamaah, Diana pun menyediakan makan malam untuk mereka. Anita masih menatap Diana dengan tatapan tidak suka, namun kali ini ia bersikap lebih sopan pada Diana. Entah apa yang sedang ia rencanakan.


"Wah, makanan kesukaan kak Hafiz nih. Soto ayam," Anita mulai mengoceh. "Tapi sepertinya rasanya kurang pas," Anita mulai mencela masakan yang ia pikir adalah olahan Diana.


"Kakak beli dimana soto nya? Lain kali biar Ana aja yang masak yah kak," ucap Diana terkekeh karena berhasil membalas ocehan Anita yang sengaja ingin memojokkan nya itu.


"Aku gak mau kamu capek sayang," ucap Hafiz yang membuat Anita semakin jengah mendengar nya.


Mereka pun melanjutkan makan malam itu tanpa suara. Diana tersenyum senang melihat kerutan di dahi Anita.


*Dasar dasimun...kerjanya merusak rumah tangga orang saja. Diana.


Gagal lagi rencana ku malam ini. Kenapa juga harus ada Anita disini. Hafiz*.


Malam yang larut, Diana dan Hafiz beranjak ke kamar untuk beristirahat. Sampai di kamar Diana segera mengemas pakaian ke dalam koper, untuk di bawa ke rumah mertua perempuan yang belum pernah ia temui itu. Sebenarnya ibu Hafiz tidak menyetujui pernikahan Hafiz dengan Diana. Makanya ia beralasan sakit saat Hafiz menikah dan ia tidak bisa datang. Semua urusan pernikahan Hafiz dibantu oleh bibi Farida. Adik dari ayah Hafiz yang sudah meninggal dunia.


Diana bangun lebih awal untuk menyiapkan bekal makanan yang akan mereka bawa di perjalanan. Karena perjalanan menuju rumah ibu Hafiz memakan waktu 8 jam perjalanan darat. Diana yang tidak biasa menaiki angkutan umum itu sudah merasa tidak enak badan membayangkan perjalanan itu. Namun ia berusaha kuat di depan Hafiz.


"Sayang, pagi pagi udah di dapur aja," ucap Hafiz sambil memeluk Diana dari belakang.


Diana sangat terkejut mendapat perlakuan seperti itu dari Hafiz.


"Ehm...awas Kak. Susah masak nya ini," ucap Diana mencoba melepas pelukan Hafiz.


"Iya deh. Maaf...." Hafiz melepas pelukan nya perlahan.


Ah....Kenapa gini sih. Jantung ku kok jadi gak beraturan gini. Apa aku lemah jantung kali ya. Diana.


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


bersambung**...


__ADS_2