
Setelah selesai melaksanakan sholat subuh, Diana pun bergegas ke dapur untuk membantu Oma.
"Oma, ayah nya kak Hafiz meninggal dunia tadi malam jam 2 pagi", ucap Diana memulai pembicaraan.
"Innalillahi....Jadi kamu mau pergi melayat gak?" tanya Oma kepada Diana.
"Memang nya Oma ngizinin?" tanya Diana lagi.
"Pergi lah, ajak teman mu!" ucap Oma.
Diana langsung kembali ke kamar dan mencoba menghubungi Maryam teman yang paling dekat dengannya. Ia pun mengatakan pada Maryam tentang niat nya untuk bertakziah ke rumah Hafiz yang jarak nya memakan waktu satu jam. Maryam menyetujui ajakan Diana, dan langsung bersiap siap.
Diana sudah selesai dengan gamis dan Hijab yang berwarna putih, ia menunggu Maryam di pinggir jalan tempat yang sudah mereka sepakati. Tak lama kemudian Maryam pun muncul.
"Apa kita gak terlalu pagi Di?" tanya Maryam.
"Perjalanan kita memakan waktu satu jam, jadi kalau kita sampai cepat, ntar bisa pulang cepat juga. Karena bus arah kesana cuma ada satu Mar", ucap Diana.
"Kamu udah tau belum tempatnya?" tanya Maryam risau.
"Belum sih, tapi kata kak Hafiz gak susah kok nyari nya", ucap Diana agar tidak mengkhawatirkan sahabat nya.
Perjalanan yang mereka lalui terasa sangat lama, apalagi jalan yang mereka lalui banyak yang rusak. Hingga satu jam perjalanan, mereka pun sampai di tempat tujuan. Supir yang membawa mereka kebetulan mengenal ayah Hafiz dan keluarganya. Supir itu pun memberi petunjuk kepada Diana agar tidak kesasar.
Mereka berjalan memasuki lorong yang di kanan kiri nya terdapat banyak rumah penduduk. Baru beberapa langkah, Diana dan Maryam sudah melihat bendera merah dan ada sebuah tenda berwarna biru terpasang di depan halaman sebuah rumah. Tampak orang orang ramai melayat ke rumah itu. Diana dan Maryam pun saling menatap bingung.
"Gimana ya Mar, gak ada yang kita kenal disini", ucap Diana yang terasa mulai enggan.
"Ya sudah kita langsung masuk aja, trus nyalami yang punya rumah", ucap Maryam dengan keberanian yang penuh. Tak salah Diana memilih Maryam untuk menemani nya.
Langkah kaki Diana dan Maryam mulai dekat dengan rumah ahli bait, entah kenapa jantung Diana sedang tak bisa di ajak berkompromi. Serasa berdegup seribu kali lebih cepat dari biasanya. Ia memegang dada nya dan mencoba
menghirup nafas panjang sebelum masuk ke dalam rumah itu. Maryam menatap ke arah Diana sambil menggenggam erat lengan Diana merasa mengerti akan apa yang sedang terjadi dengan Diana. Mereka pun masuk.
"Assalamualaikum", ucap Diana dan Maryam bersamaan dan di jawab oleh orang orang yang ada di dalam rumah itu.
__ADS_1
Diana dan Maryam menyalami semua orang yang ada di ruangan itu. Sampai kepada keluarga ahli bait, yaitu adik bungsu dari ayah Hafiz yang bernama Farida. Maryam lebih dulu menyalami bu Farida kemudian Diana pun menyusul di belakang nya. Jantung seakan mau loncat saat bu Farida menyalami Diana dan langsung memeluk erat Diana. Padahal saat bersalaman dengan Maryam, bu Farida tidak memeluk nya. Diana merasa sangat terkejut, Diana bahkan baru kali pertama bertemu dengan bu Farida. Akhirnya Diana pun ikut terbawa suasana saat itu, air mata nya pun mulai mengalir dari kelopak mata nya yang indah itu. Maryam juga menatap heran pada sahabat nya. Kemudian mereka berdiri hendak ke kamar mandi, perjalan yang cukup melelahkan membuat mereka ingin segera membuang hajat kecil.
Sampai di depan pintu kamar mandi, ia berpapasan dengan pria yang ia kenal. Hafiz baru saja keluar dari kamar mandi setelah melaksanakan fardu kifayah ayah nya. Dan hendak menjadi imam sholat jenazah pula, Hafiz memang pemuda yang baik dan soleh. Hafiz memandang Diana dengan tatapan berkaca kaca. Diana merasa bibir nya kelu, hingga tak tau harus berkata apa pada Hafiz. Akhirnya Hafiz hanya melempar senyum pada Diana dan dibalas pula oleh Diana. Setelah itu Hafiz pun keluar.
Diana yang sudah selesai dan keluar dari kamar mandi, akhirnya ikut duduk di ruang dapur bersama keluarga yang lain untuk menyiapkan segala keperluan untuk pemakaman. Ia bersama bilal wanita yang bertugas mengurus perlengkapan jenazah. Ia pun mulai berbincang.
"Kamu dari mana nak?" tanya perempuan paruh baya itu pada Diana yang wajah nya tampak asing.
"Saya dari kampung Bandar Selamat bu", ucap Diana menyebutkan nama tempat tinggal nya.
"Hafiz itu anak yang soleh, ia bahkan jauh berbeda dengan almarhum ayah nya. Beruntung sekali orang tua nya memiliki putra seperti nya. Dia cuma tinggal berdua dengan ayah nya, karena ayah sama ibu nya udah bercerai saat ia masih SD", ucap bilal yang bernama bu Titin itu.
Deg. Ternyata kak Hafiz broken home juga kayak aku. Gumam Diana.
"Selama ini dia mengurus ayah nya yang sudah sakit sakitan. Sekarang ayah nya sudah meninggal, jadi lah dia seorang diri", tambah bu Titin lagi sedih.
Entah kenapa Diana merasa sangat prihatin dengan penuturan bu Titin. Ingin sekali ia menjadi teman baik Hafiz.
Hari mulai siang, Diana dan Maryam pun berpamitan hendak pulang. Mereka hanya pamit pada Bu Farida, bibi nya Hafiz. Karena saat itu Hafiz belum pulang dari pemakaman. Diana banyak berdiam di sepanjang perjalanan mereka.
"Sedih aja Mar, ternyata kisah nya kak Hafiz itu gak jauh beda sama aku", jawab Diana bernada sedih.
"Semua orang sudah hidup dengan takdir nya masing masing. Kita harus ikhlas menerima semua ketetapan Allah. Allah memberi cobaan juga pada yang sanggup menerimanya. Jadi kamu jangan sedih. Di luar sana banyak yang nasib nya lebih buruk dari pada kita", ucap Maryam mencoba menyemangati Diana.
Diana pun menyeka air mata yang jatuh tanpa ia sadari.
"Makasih ya Mar, udah mau nemenin aku", ucap Diana lagi.
"Iya", ucap Maryam singkat.
************
Diana berbaring di atas ranjang sambil menatap langit langit kamar nya. Tak lama lagi Diana akan lulus SMA, mama sudah mengatakan pada Diana bahwa tak sanggup untuk membiayai kuliah Diana. Diana merasa sangat sedih dengan ucapan mama, namun ia tak mau membebani orang tua yang tinggal satu satu nya itu. Papa entah kemana rimba nya, Diana tak pernah tau. Tapi yang jelas Papa masih hidup.
Tiba tiba ponsel Diana berdering? Ia melihat jam dinding, pukul 22.00. Siapa yang menelpon ya? Diana langsung meraih ponsel yang ada di atas meja belajar nya. Dilihat nya nama Hafiz terpampang di layar ponsel.
__ADS_1
"Assalamualaikum kak", jawab Diana bersemangat.
"Waalaikumsalam Diana. Belum tidur kan?" Hafiz mencoba memastikan.
"Belum kok, ada apa kak?" tanya Diana lagi.
"Makasih ya udah mau datang", ucap Hafiz sedikit lirih.
"Oh iya kak, aku senang kok bisa datang kesana. Cuma aku bingung mau ngomong apa waktu sampe disana tadi", ucap Diana jujur.
"Ehm....Diana....Kamu mau jadi teman hidup ku?" ucap Hafiz dengan penuh keyakinan.
Ini maksud pertanyaan nya apa ya? Jadi pacar atau apa sih? Trus harus jawab apa donk. Diana bingung sendiri.
"Ehm....", Diana berdiam beberapa detik.
"Maaf ya Diana, kamu gak perlu jawab sekarang kok", kata kata Hafiz membuat Diana sendiri kehabisan kamus.
Hafiz pun mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Sampai setengah jam berbincang, akhirnya mereka pun mengakhiri obrolan itu.
*
*
*
*
*
*
Love u semua.
Semoga kita sehat selalu.
__ADS_1
Happy reading....