Hijab Dan Penantian

Hijab Dan Penantian
Ayat ayat Cinta


__ADS_3

Akhir pekan di pagi hari yang cerah. Diana masih memikirkan tentang kontes yang akan di adakan malam ini. Festival seni malam ini sangat lah meriah, di dukung dengan banyak nya stand bazar di lapangan yang ada di kecamatan itu. Sepulang kerja, sore ini Diana mengajak Purnama untuk melihat tempat yang akan mereka datangi malam ini. Mereka pun berkeliling.


"Aku tidak jadi ikut deh", ucap Diana yang menyerah bahkan sebelum berperang.


"Apa? Enak saja. Kau mau membiarkan aku sendirian seperti orang bodoh di festival nanti hah...?!" ucap Purnama sedikit kesal.


"Tapi.....", Diana ragu untuk melanjutkan kata kata nya.


"Pokoknya ikut. Gak ada kata tapi....Kita kan mau cari pengalaman baru aja. Menang kalah urusan belakangan", ucap Purnama penuh semangat dan percaya diri.


Diana hanya menggeleng mendengar kata kata sahabat nya itu. Akhir nya mereka pulang ke rumah masing masing untuk persiapan acara malam ini. Diana sibuk mencari pakaian yang akan ia gunakan malam ini. Jelas saja ia bingung, semua pakaian nya tidak ada yang cocok untuk di bawa ke kompetisi. Oma yang melihat cucu perempuan nya sedang uring uringan, akhirnya angkat bicara.


"Kenapa sih....Sepertinya sedikit galau", ledek Oma.


"Gak punya kostum yang pantas untuk dipakai ke festival Oma", ucap nya sedih.


Oma pun tersenyum dan membuka lemari pakaian milik nya, dilirik nya semua pakaian yang sudah lawas itu. Lalu di ambil nya sebuah gantungan pakaian yang berisi tunik yang panjang nya selutut, berwarna putih dengan pernak pernik kemilau di pinggiran kancing nya. Diana yang melihat baju itu di keluarkan dari lemari merasa sangat terheran, tak menyangka bahwa Oma nya punya simpanan baju yang bagus di dalam lemari. Ia pun langsung mencoba nya. Setelah Diana berkaca di depan cermin yang menempel dilemari pakaian itu, ia berdecak kagum pada dirinya sendiri yang terlihat begitu anggun.


Beautiful. Gumam nya dalam hati. Ia lalu menyetrika pakaian itu lengkap dengan hijab dan celana panjang yang akan ia pakai. Setelah itu ia segera bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk melaksanakan ibadah maghrib.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 19.00. Diana mengambil tas kecil dan kembali berkaca sekali lagi. Setelah ia rasa cukup, akhirnya Diana bergegas melangkah menuju pagar dan Kevin adik nya sudah siap di luar rumah untuk mengantar kakak nya itu. Tak lupa pula Kevin memberi Diana semangat.


Purnama tampak sedang menunggu kedatangan Diana. Ia duduk di kursi perserta. Pandangan nya masih berkeliling, dilihatnya jam tangan yang ada di pergelangan tangan nya. Hati nya merasa risau karena Diana sahabatnya belum juga muncul. Selang beberapa menit kemudian nomor peserta 013 pun dipanggil, Purnama menyapu pandangan nya. Itu adalah nomor peserta milik Diana. Sampai MC memanggil untuk yang ke 3 kali nya, akhir nya sosok gadis berkerudung biru muda dengan tunik berwarna putih penuh kemilau dan celana panjang yang senada dengan kerudung nya itu muncul dari balik pentas. Purnama sedikit merasa lega, tapi juga sedikit kesal karena teman nya sudah datang terlambat dan tak menemui nya terlebih dahulu. Alunan musik mulai terdengar perlahan.


Desir pasir di padang tandus


se*gersang pemikiran hati


terkisah ku di antara cinta yang rumit


Bila keyakinan ku datang


kasih bukan sekedar cinta


pengorbanan cinta yang agung ku pertaruhkan


Maafkan bila ku tak sempurna

__ADS_1


cinta ini tak mungkin ku jaga


Ayat ayat cinta bercerita


cinta ku padamu...


Bila bahagia mulai menyentuh


seakan ku bisa hidup lebih lama


namun harus kutinggalkan cinta


ketika ku bersujud


Rossa*


Tak begitu buruk lagu yang di bawakan oleh Diana. Namun ia juga tak begitu yakin akan menjadi juara. Secara ia sama sekali tak ahli dalam dunia tarik suara. Ia hanya sering menemani Purnama ke studio musik untuk latihan vokal. Sesekali Ia juga ikut bernyanyi. Setelah musik berhenti, Diana pun turun dari pentas dan menghampiri Purnama.


"Kirain kamu bakal menyerah sebelum berperang", ledek Purnama.


"Meski pun aku tau aku akan kalah, tapi aku tak sepecundang yang kau bayangkan tau", ucap Diana menimpali kata kata Purnama.


"Diana, besok malam masih ada festival dangdut, besok kita liat yuk!" ajak Purnama yang sebenarnya tak yakin Diana akan menyetujui nya.


"What....? gak salah?! gak ah... kamu aja sono", Diana langsung menolak mentah mentah.


"Idih....kita cuci mata aja loh. Gak usah liat festival nya juga gak apa apa. Kita keliling stan. Kan belum sempat keliling. Yah....mau yah....temenin aku", ucap Purnama sedikit memelas.


Akhirnya Diana hanya mengangguk pelan untuk menghentikan ocehan Purnama yang tak sudah sudah.


**********


Hari ini Diana datang ke studio foto sedikit lebih siang, hingga menimbulkan tanda tanya dari Fadhil dan juga Hendra. Diana belum banyak bicara, ia langsung menyibukkan diri dengan pekerjaan nya karena merasa bersalah. Fadhil memperhatikan gerak gerik Diana untuk memastikan apakah Diana baik baik saja. Namun seperti nya Diana masih belum mau di ajak bicara, yah ia memang selalu profesional dalam menjalan kan tugas nya. Tangan nya masih lihai mengetik beberapa file yang diminta oleh customer untuk di cetak dan di foto copy.


Sampai akhirnya tiba waktu makan siang. Diana mengambil bekal makan siang dan membawa serta mukena nya ke ruang istirahat. Fadhil mengikuti nya dari belakang, Hendra bergumam kesal dalam hati melihat kedekatan Fadhil dan Diana.


"Apa kamu sakit?" Fadhil bertanya pada Diana.

__ADS_1


"Enggak mas, aku baik baik aja kok", jawab Diana santai.


"Kenapa terlambat?" pertanyaan kedua dari Fadhil.


"Tadi malam agak telat tidur nya mas, jadi kesiangan deh bangun nya", ucap nya dengan polos tanpa menceritakan pada Fadhil tentang festival tadi malam.


Fadhil pun mulai mengerti dan tidak bertanya lagi pada Diana. Diana segera membersihkan bekal makan nya, dan bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan berjalan ke musholla untuk melakukan sholat dzuhur. Diana yang sudah selesai dengan aktivitas nya, akhirnya berjalan hendak melanjutkan pekerjaannya lagi. Namun di depan pintu Fadhil mencoba menghentikan langkah nya.


"Diana, aku menyayangi mu", ucapan Fadhil lagi lagi tak begitu mengejutkan Diana, jelas saja Fadhil bukan lelaki pertama yang menyatakan cinta pada nya.


Diana hanya menjawab dengan senyuman dan tak begitu menghiraukan perkataan Fadhil. Dalam hati nya, ia tak perlu pacar saat ini. Yang ia butuh kan adalah pekerjaan dan uang untuk membantu ekonomi keluarga nya. Diana lagi lagi menyibukkan diri dengan pekerjaan di studio.


**********


"Diana, aku beli ini. Liat deh, bagus kan?!" ucap Purnama sambil menunjukkan sebuah kaos berwarna pink dan meminta pendapat Diana.


"Yah, cukup feminim. Sesuai dengan kepribadian mu", ucap Diana seadanya.


Alunan musik dangdut seperti nya mulai mencemari pendengaran Diana, ia seakan ingin lari dari tempat itu. Tapi Purnama mencoba untuk menahan nya. Sampai akhir nya mereka berdua bertemu dengan seseorang yang tak mereka kenal.


*


*


*


*


*


*


*


*


Author lagi kurang fresh ni. Butuh segeran....cukup like, trus kasi vote nya deh....pasti ide ide author bisa fresh lagi....

__ADS_1


Yuhuuuu


pantengin terus yah!! :-)


__ADS_2