Hijab Dan Penantian

Hijab Dan Penantian
Sahabat Baru


__ADS_3

"Hai Diana, nama ku Maryam", sapa seorang gadis seusia Diana yang kebetulan sekelas dengan Diana menyapa nya sambil mengulurkan tangan.


"Hai Maryam", Diana menyambut uluran tangan Maryam.


"Kamu pindahan dari kota M kan, sya juga loh Di", ungkap Maryam senang karena merasa ada teman baru.


"Benarkah....Kamu kenapa pindah ke sini?" tanya Diana heran.


"Abi ku pindah tugas disini, maka nya aku di pindah kan kesini", jawab Maryam seadanya.


"Oh....", ucap Diana singkat.


Sejak hari itu, Diana dan Maryam terlihat lebih akrab, karena mereka merasa lebih nyaman mengobrol bersama. Mungkin karena mereka sama sama pindahan dari kota.


Di sela sela percakapan mereka....


"Oh ya Di....orang tua kamu kenapa pindah kesini?" tanya Maryam.


Diana yang mendengar pertanyaan teman nya itu pun bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan itu. Lebih tepat nya ia tidak mau ada orang lain tau perihal kehidupan pribadi nya. Terlebih lagi kepada orang yang baru di kenal nya.


"Ehm....Aku ikut Oma di sini. Karena mama dan papa ku sibuk kerja", itu lah yang bisa di jawab oleh Diana.


Maryam pun tak banyak tanya lagi. Mereka pun menyambung pembicaraan ke arah lain nya, sampai akhirnya mereka masuk ke kelas dan melanjutkan pelajaran kembali.


Dua les pelajaran sudah berlalu, lonceng sekolah pun berbunyi. Diana bergegas untuk pulang.


"Diana", panggil Irma dari belakang Diana mencoba mengejar langkah Diana yang begitu cepat.


"Ya, ada apa Ir?" tanya Diana.


"Hari ini aku dan teman sekelompok ku akan belajar di rumah Reni, jadi kamu pulang sendiri ya hari ini", ucap Irma sedikit sedih. "Kalian kapan akan kerja kelompok?" sambung Irma lagi.


"Aku belum bicara pada Maryam", ucap Diana singkat.


Setelah selesai berbincang dengan Diana, Irma pun berlalu pergi. Baru beberapa langkah ia berjalan, Maryam muncul dari balik punggungnya.


"Maryam", panggilnya.


"Ya, ada apa Di?", Maryam menghentikan langkah nya.


"Kapan kita akan mengerjakan tugas kelompok yang di berikan bu guru tadi?" tanya Diana pada Maryam.


Maryam tampak berpikir sejenak.

__ADS_1


"Gimana kalau hari ini?" usul Maryam. "Hari ini kebetulan Umi ku pulang cepat. Pasti lebih enak kalau ada Umi di rumah", tambah Maryam lagi.


"Kalau gitu, aku kabari Oma ku dulu ya, aku takut nanti dia menunggu ku di rumah", ucap Diana dan di jawab dengan anggukan oleh Maryam.


Tut....tut....


Panggilan mulai di angkat oleh seseorang di seberang sana.


"......"


"Halo Oma, mbak pulang agak sorean ya Oma"


".........."


"Mau kerja kelompok di rumah Maryam Oma"


".........."


"Iya Oma"


Mereka pun berjalan bersama. Kebetulan rumah Maryam tak jauh dari sekolah mereka.


**********


"Bi, sebentar lagi Maryam tamat SMP. Rencana Abi bagaimana?" tanya Umi Hasnah, ibu kandung Maryam kepada Abi Husein, ayah kandung Maryam.


"Menurut Umi, lebih baik kita ikuti kemauan nya, toh selama ini Maryam anak yang penurut kan Bi", jelas Umi.


"Assalamualaikum", Maryam dan Diana sampai di rumah Maryam.


"Waalaikumsalam", jawab Abi dan Umi serempak.


"Eh eh....Siapa ini sayang?" tanya Umi yang heran dengan kedatangan Diana bersama Maryam.


"Teman baru Maryam Umi, namanya Diana", Maryam masuk sambil menyalami Umi dan Abi nya.


Diana ikut menyalami Abi dan Umi lalu mengikuti langkah Maryam dari belakang.


Diana menatap sekeliling rumah Maryam. Tata letak rumah itu sungguh berbau religius. Dimana banyak hiasan kaligrafi dan terdapat sebuah musholla keluarga. Lalu ia mengikuti langkah kaki Maryam menuju sebuah kamar. Ya, itu kamar Maryam. Di dalam nya ada sebuah lemari buku dan sebuah meja belajar. Juga kasur yang berukuran empat kaki. Juga banyak figura yang berisi foto liburan Maryam dan keluarga nya. Di pandangi nya foto foto itu satu per satu.


Mama papa.....Aku begitu merindukannya saat saat dimana kalian mengajak kami untuk berlibur. Berjalan jalan mengelilingi kota dan menghabiskan waktu di taman bermain. Kamu begitu beruntung Maryam, memiliki keluarga yang utuh. Diana.


Tanpa di sadari oleh Diana, Maryam sedang memperhatikan Diana yang sudah meneteskan air mata ketika memandangi foto tersebut.

__ADS_1


"Di, kamu tidak apa apa?" tanya Maryam khawatir pada Diana.


"Eh....enggak apa apa Mar, tiba tiba ada debu masuk ke mata ku. Aduh tolong tiupkan dong Mar", Diana berpura pura. Maryam langsung meniup mata Diana yang sebenarnya tidak apa apa.


Pandai sekali dia berakting, jelas jelas aku melihat nya menangis, tapi kenapa dia tak mau cerita. Maryam.


"Sudah kan?" Maryam selesai meniup mata Diana.


"Iya sudah, terimakasih ya Mar", ucap Diana.


Hampir saja dia mencurigai ku, kenapa aku jadi secengeng ini sih. Nampak nya aku harus ikut kursus tahan mental. Diana


"Anak anak, ayo makan siang dulu", ajak Umi kepada Diana dan Maryam.


"Iya Umi", jawab Maryam sambil menggandeng tangan Diana menuju meja makan.


Diana masih terlihat diam, Maryam menatap nya penuh tanda tanya.


Kenapa lagi Diana ini, tadi di sekolah begitu ceria, kenapa tiba tiba jadi pendiam. Aneh sekali anak ini.


Ayah dan Umi juga ikut memperhatikan Diana yang sedari tadi hanya diam. Mereka berkecamuk dengan pikiran mereka masing masing.


Setelah selesai makan, Maryam dan Diana membantu Umi membereskan meja makan. Setelah itu mereka masuk ke dalam kamar Maryam untuk melanjutkan pekerjaan mereka.


"Mar, di sekitar sini ada yang butuh orang kerja tidak?" Diana memulai pembicaraan.


"Ada sih, itu tetangga ujung sana. Lagi butuh orang buat bersih bersih rumah nya. Memang siapa yang lagi cari kerja Di?", tanya Maryam lagi.


"Ehm....Aku Mar. Aku butuh uang tambahan, sebentar lagi kan kita akan tamat SMP. Jadi mungkin akan memerlukan biaya yang besar", jelas Diana kepada Maryam.


"Kan kamu masih punya orang tua Di, kenapa harus kerja?", Maryam menyelidik.


"Aku cuma ingin mengurangi beban orang tua ku saja Mar, karena aku punya 3 adik yang juga butuh biaya untuk sekolah", jelas Diana lagi.


"Ya sudah lah, besok sepulang sekolah kamu ku antar ke rumah bu Lani", ucap Maryam.


"Terimakasih ya Mar", Diana memeluk Maryam kegirangan.


"Kamu ini, mendapat pekerjaan seperti menang lotre saja", ledek Maryam.


"Kamu ini tidak mengerti ya Mar, ini lebih dari menang lotre tau", tawa kecil dan senyum melebar tergambar di wajah Diana.


*********

__ADS_1


"Ma, sebentar lagi mbak ujian kelulusan. Mama kapan akan kirim uang untuk ujian?" Pesan singkat yang dikirim oleh Diana ke ponsel mama nya yang saat ini berada di luar negeri untuk bekerja.


"Sabar ya sayang, dua hari lagi mama transfer", balasan dari mama membuat Diana lega.


__ADS_2