
Diana masih berdiri tegak memandangi sekolah baru yang akan menjadi tempat nya untuk melanjutkan pendidikan. Dia melihat sekolah itu bahkan tidak ada sepertiganya dari sekolah dia dulu di kota. Sekolah Diana di kota memang merupakan sekolah elit dimana banyak anak pengusaha dan bangsawan disana. Beruntung nya Diana adalah anak yang cerdas, sehingga dia bisa masuk ke sekolah Favorit itu lewat jalur beasiswa.
"Assalamualaikum", sapa seseorang yang membuyarkan lamunannya.
"Waalaikumsalam", jawab Diana.
"Mau daftar nak?"tanya wanita paruh baya yang ada di hadapan nya itu. Dia adalah salah satu guru di sekolah itu, nama nya Bu Ira.
Diana hanya mengangguk pelan. Kemudian Diana di tuntun untuk mengisi formulir pendaftaran siswa baru. Setelah semua urusan administrasi selesai, Diana pun permisi untuk kembali ke rumah.
"Jangan lupa pakai hijab dan baju kurung ya nak!" wanita paruh baya itu mengingatkan.
Diana tak menjawab, ia hanya diam dan berpikir.
Bagaimana ini? Kenapa aku harus bersekolah di sekolah seperti ini. Aku bahkan tak tau bagaimana caranya berbusana muslimah yang semestinya. Diana.
Diana pun berlalu pergi meninggalkan wanita paruh baya tersebut. Dia memutuskan untuk tidak langsung kembali ke rumah dan memilih untuk berjalan-jalan keliling kampung dimana kampung itu telah menjadi tempat tinggal nya sekarang. Sepanjang perjalanannya, banyak mata yang memandangi Diana dengan pandangan penuh tanya. Mereka pun mulai berbisik satu sama lain. Diana yang merasa menjadi pusat perhatian pun mulai tampak tak tenang, ia mempercepat langkah kaki nya.
Tin tin....
Klakson sepeda motor dari belakang Diana. Ia pun menoleh ke belakang. Dilihatnya seorang pemuda tampan menghampiri nya. Diana yang merasa tak mengenal pria itu pun tak menghiraukan nya, dan semakin mempercepat langkah kakinya.
"Hey...Diana....", sapa pemuda itu.
Diana yang mendengar nama nya di sebutkan pun langsung menghentikan langkah kaki nya.
Kenapa dia tau nama ku? Diana
"Kamu cucu Oma Nuri kan? Aku tetangga yang tinggal di depan rumah kamu, ayo aku antar. Kita kan searah", ajak pemuda itu dengan halus.
Diana nampak berpikir.
"Ayo lah, jangan sungkan. Apa wajah ku kelihatan seperti penjahat?!" ucap pemuda itu sambil menyungginggkan senyuman manis milik nya.
__ADS_1
"Tidak usah kak, terima kasih. Kebetulan saya masih ingin berjalan-jalan", tolak Diana dengan halus.
"Ehm....ternyata benar yah kata mereka, cucu Oma Nuri yang gadis ini sangat sombong", ucap pemuda tampan yang bernama Faiz itu sambil tertawa kecil sedikit memancing kemarahan Diana.
"Apa maksud mu kak?" nada Diana mulai ketus.
"Jadi mau tidak bareng aku?" pujuk Faiz lagi.
Diana enggan untuk ikut, tapi pada akhirnya dia ikut naik ke sepeda motor Faiz.
Angan nya pun melayang tinggi.
*******
"Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan persahabatan ini Diana", ucap Adit sedih.
"Kenapa Dit?" tanya Diana sedih.
"Orang tuaku akan mengurangi jatah uang saku ku jika mereka tau aku masih bersahabat dengan mu", ucap Adit sedih.
Diana pun berlari ke belakang taman sekolah.
Aku pikir akan ada pangeran tampan yang kaya yang akan jatuh cinta pada cinderella yang berasal dari keluarga miskin. Tapi ternyata itu hanya ada di cerita dongeng saja. Malang sekali nasib ku, jangan kan untuk memiliki hubungan yang lebih, sekedar berteman saja mereka harus memilih. Dasar orang kaya semua sama, sombong dan angkuh. Diana.
********
"Sudah sampai nih Di", ucap Faiz kembali membuyarkan lamunan Diana.
"Oh iya, terimakasih kak", ucap Diana singkat.
"Aku Faiz, itu rumahku", tunjuk Faiz ke depan rumah nya.
"eh...iya kak", ucap Diana masih canggung.
__ADS_1
"Kamu udah daftar sekolah ya?" tanya Faiz lagi.
"Sudah kak", jawab Diana singkat.
"Ya sudah kalau gitu aku pulang dulu ya", pamit Faiz.
"Iya kak, sekali lagi terimakasih ya kak", jawab Diana seadanya.
Faiz hanya menyunggingkan senyum playboy nya. Ya, di kampung itu Faiz memang sangat terkenal playboy. Di sekolah SMA nya, dia termasuk pemuda paling tampan dan sering gonta ganti pacar.
Diana pun masuk ke dalam kamar nya, ia pun melihat ke arah depan rumah Faiz dari balik jendela kamarnya.
"Gimana mbak, sekolah baru nya?" tanya Dimas mengangetkan.
"Apaan sih dek, ngagetin mbak aja", ucap Diana sambil mengelus dada. "Kamu sendiri gimana? udah liat sekolah baru nya belum?" tanya Diana lagi.
"Udah mbak, kalau aku pasti nanti jadi pusat perhatian mbak, secara jadi paling kece ntar di sekolah", ucap Dimas membanggakan diri.
"Sekolah yang bener", sambil melempar bantal ke arah Dimas.
"Mbak, mbak masih sedih ya?" tanya Dimas ingin memastikan.
"Enggak kok, sudah lah. Semua akan baik-baik saja. Kamu juga sekolah yang bener, harus tamat dengan nilai yang baik", ucap Diana menyemangati adik nya.
Dimas pun berlalu keluar dari kamar Diana.
Sungguh malang memang nasib mereka, di usia yang masih dini harus hidup tanpa orang tua. Di asuh oleh Oma Nuri yang tidak begitu berkecukupan. Bahkan Diana harus melupakan semua cita-cita nya untuk melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Padahal dia sudah sekuat tenaga untuk membujuk Oma nya agar mengizinkan nya untuk tetap tinggal di kota bersama Ibu Ayu, ibu angkat yang mengurus beasiswa nya di sekolah Favorit di kota dulu. Tapi Oma tidak memberi izin dengan berbagai alasan.
Keadaan Oma yang semakin sulit di kota, ditambah Opa sudah tak bisa lagi bekerja seperti dulu karena faktor usia, maka Oma memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Dan pasti nya dengan membawa ke empat cucu nya.
Mengenang itu semua, membuat Diana kembali bersedih, mata nya mulai berkaca-kaca seakan butiran air bening akan segera mengalir deras dari sudut mata nya.
Tak lama kemudian adzan maghrib berkumandang, Diana pun segera melaksanakan kewajibannya. Diana memang tumbuh menjadi gadis yang mandiri, dan juga dewasa. Selama tinggal di kampung, ia mulai belajar untuk menjadi gadis yang soleha. Walaupun saat itu ia belum memakai hijab.
__ADS_1
Setelah selesai melaksanakan kewajibannya, Diana pun bersiap masih dengan mukena nya untuk berangkat mengaji. Itulah rutinitas baru yang akan dia jalani, selama di kota memang Diana jarang sekali mengikuti kegiatan seperti itu. Tak lupa sebelum berangkat, ia berpamitan dengan Oma dan Opa nya.