Hijab Dan Penantian

Hijab Dan Penantian
Keberanian Diana


__ADS_3

Tengah malam tepat pukul 03.00 dini hari Diana terbangun dan bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan ibadah sunnah yang biasa ia lakukan setiap hari. Ia pun mulai melaksanakan sholat, setelah selesai ia pun berdoa memohon petunjuk kepada Allah, tentang keputusan apa yang sebaiknya akan ia pilih. Banyak hal yang sebenarnya menjadi beban pikiran Diana. Antara mana yang harus ia pilih, atau ia harus menolak keduanya. Entahlah....Diana sangat dilema dengan hal itu. Ia berdoa sambil menangis. Di satu sisi lagi ia merasa belum siap bila harus menghabiskan sisa umur nya untuk menikah, padahal usia nya saat ini belum genap 19 tahun. Angan nya pun melayang jauh terbang tanpa arah. Belum lagi di hati nya masih tiada rasa cinta kepada dua lelaki itu. Bagaiamana ia harus memilih, sedang keduanya berada di posisi yang sama.


Ya Allah....


Berilah hamba mu ini petunjuk atas apa yang harus hamba putuskan.


Apakah hamba harus menikah atau tidak di usia yang masih muda ini?


Bila pun hamba harus menikah, pada siapa hamba harus menaruh pilihan.


Air mata Diana mengalir di sela sela doanya malam itu. Ia benar benar sangat bingung. Jauh di lubuk hati nya masih ingin meraih cita cita dan masa depan nya. Di satu sisi lagi, ia tak mau mengecewakan Oma. Kata kata Oma selalu terngiang di telinga nya. Oma pernah berkata tentang mama Hani yang hidup nya susah dan rumah tangga nya berantakan akibat tidak mau mendengarkan nasihat Oma dulunya. Diana tak mau mengalami hal seperti yang mama nya alami. Tapi di sisi lain, ia bingung harus bagaimana. Andre juga sangat baik padanya, kehidupannya bahkan lebih mapan dari Hafiz. Keluarga Andre juga terpandang.


Diana mengusap air mata dengan kedua tapak tangan nya. Ia pun mengakhiri doa nya, dan melipat kembali sajadah dan mukena nya. Diana kembali ke ranjang dan merebahkan tubuhnya sambil menatap langit langit. Tiba tiba ponsel nya berdering, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel nya. Ia langsung membuka pesan itu.


Assalamualaikum.


Sudah sholat istikharah Diana?


Pesan yang dikirim oleh Hafiz membuat Diana tercengang, mengapa bisa kebetulan? Diana sedikit menyimpulkan senyum di bibir nya. Namun ia tak membalas pesan itu.


**********


Seperti biasa, Diana berangkat untuk pergi kerja ke rumah Bu Lani. Hari ini ia mengenakan gamis berwarna coklat polkadot dan hijab segiempat wolfis berwarna senada. Mulai hari ini juga Diana mendapat tugas tambahan dari bu Lani untuk mengajari Miko sepulang sekolah. Karena minggu depan Miko akan ujian. Dengan semangat yang penuh, Diana pun berangkat bekerja seperti biasa. Tiba tiba saat di tengah jalan, ada sebuah mobil yang mengklakson motor yang dikendarai Kevin dan Diana. Diana menoleh ke arah kaca, tampak seorang wanita menyetop mereka. Akhirnya Diana meminta Kevin untuk berhenti.


"Hei pelakor, kamu digaji berapa sih kerja di rumahnya Andre? Aku bisa kasi kamu gaji lebih besar asal kamu mau bantu aku balikan lagi sama Andre," ucap wanita yang tidak tau malu itu yang tidak lain adalah Meli mantan istri Andre.


"Astagfirullohaladzim....," Diana mengelus dada nya.


"Gak usah sok suci kamu, dasar perempuan kampung gak tau malu. Aku peringatkan ya sama kamu, jangan coba coba menggoda Andre. Karena aku gak kan tinggal diam," ancam Meli kepada Diana.


"Hei, siapa lo. Jangan kurang ajar sama mbak ku ya," ucap Kevin tak terima kakaknya di hina seperti itu.

__ADS_1


"Udah dek, gak apa apa. Ini urusan mbak," ucap Diana menenangkan Kevin.


"Ini yang kamu mau, ambil. Setelah itu jangan kembali lagi kerumah Andre," ucap Meli sambil menaruh amplop coklat berisi uang ke tangan Diana.


"Maaf ya mbak, saya tidak seperti yang mbak tuduhkan. Saya jauh lebih dulu mengenal mas Andre dari pada Mbak. Tapi saya gak pernah pakai cara kotor seperti mbak. Dan satu lagi ya mbak, bukan saya yang mengejar mas Andre, tapi mas Andre yang mengejar saya. Bahkan baru semalam dia melamar saya. Saya memang orang susah, tapi saya gak pernah merendahkan diri saya seperti mbak," ucap Diana dengan lantangnya.


Kevin menatap heran kepada kakaknya. Karena selama ini, Diana banyak diam saat menghadapi situasi dan kondisi yang bagaimanapun. Kevin tak menyangka bahwa kakak nya begitu berani berhadapan dengan orang seperti Meli.


"Jangan kurang ajar kamu ya," ucap Meli sambil melayangkan tangan kanan nya hendak menampar wajah Diana, Diana yang mengetahui gelagat Meli langsung menangkap tangan Meli.


"Apa seperti ini sikap seorang yang berpendidikan? Jangan mengotori tangan mbak dengan perbuatan dosa. Ini ambil uang mbak, mungkin mbak lebih membutuhkan dari pada saya. Satu lagi, tanpa mbak minta pun. Saya gak akan mau menikah dengan Andre yang sudah pernah tidur dengan wanita kejam seperti mbak," ucap Diana ketus sambil mencampakkan amplop coklat itu kepada Meli dan dengan kode sedikit Kevin sudah tau untuk segera melakukan motor nya.


Di perjalanan Kevin kembali bertanya kepada kakaknya.


"Mbak yakin gak apa apa?" tanya Kevin was was.


"Tenang aja dek, mbak bukan anak kecil yang bisa dia ancam," ucap Diana mencoba untuk baik baik saja.


"Kamu ini anak kecil, gak boleh ikut campur urusan mbak," ucap Diana sambil turun dari boncengan karena ternyata mereka telah sampai.


*********


Pukul 10.00 Miko telah pulang dari sekolah di jemput oleh Bu Lani. Sementara Diana masih berada di dapur memasak untuk makan siang.


"Diana, nanti mengajar Miko habis zuhur aja ya Di," ucap bu Lani.


"Oh iya bu gak apa," ucap Diana singkat.


"Soalnya sebentar lagi Miko mau belajar ngaji dulu, ibu udah minta tolong wali kelas nya untuk datang kerumah. Alhamdulillah dia mau," ucap bu Lani lagi.


"Maksudnya kak Hafiz bu?" ucap Diana menebak karena ia memang sudah mengetahui bahwa Hafiz adalah guru Miko.

__ADS_1


"Iya, kok kamu kenal sama guru nya Miko?" tanya bu Lani heran.


"Kebetulan Diana udah kenal sama kak Hafiz sejak dua tahun yang lalu bu. Cuma gak terlalu dekat," jawab Diana.


Tiba tiba dari belakang muncul sosok Miko yang sudah berganti setelan koko berwarna serba putih.


"Ma, pak guru nya Miko tampan kan Ma?" tanya Miko tiba tiba kepada bu Lani.


"Hahaha...Kamu ini sudah bisa menilai ya," ucap Bu Lani sambil tertawa.


"Buktinya aja setiap hari banyak yang kasi makanan buat pak guru. Tapi sayang nya pak guru gak suka sama mereka," ucap Miko serius yang membuat Diana dan bu Lani tambah terkekeh.


"Kamu itu ya, masih kecil. Kok udah tau gituan. Belajar yang rajin gih!" ucap bu Lani lagi.


"Mama dibilangin gak percaya. Pak guru nya Miko itu suka nya sama mbak Diana ma," ucapan terakhir Miko membuat Diana tersedak.


"uhuk uhuk....," Diana menatap Miko. "Udah siapan sana, sebentar lagi pak gurunya datang," ucap Diana kemudian untuk mencairkan suasana saat itu.


Bu Lani menatap Diana dengan penuh tanda tanya. Diana beralih ke pekerjaannya kembali. Tak lama kemudian, terdengar suara motor memasuki halaman rumah Bu Lani. Tampak Hafiz yang sedang memarkirkan motor nya.


*


*


*


*


*


Ditunggu like vote nya yah!!!

__ADS_1


__ADS_2