
Lonceng tanda pelajaran telah usai pun berbunyi. Semua siswa siswi sibuk membereskan peralatan belajar mereka masing-masing. Diana tampak sedikit murung.
Setelah ini apalagi yang harus ku lakukan? Di sekolah ini bahkan tidak ada parktikum, sangat membosankan. Aku akan pulang lebih awal dari biasa nya. Gumam Diana dalam hati.
"Di, kamu pulang naik apa?" tanya Irma.
"Oh, aku akan jalan kaki saja Ir", jawab Diana seadanya.
"Rumah kita kan searah, ayo lah bareng aku saja", ajak Irma.
"Benarkah? Wah....Kamu baik sekali. Ayo lah..." ,ucap Diana senang.
Berarti hari ini Diana tak perlu berjalan kaki untuk pulang ke rumahnya. Karena Oma masih berada di kota, Diana harus berjalan kaki setiap hari jika ingin berangkat sekolah. Sedang kan Kevin adiknya berangkat ke sekolah menggunakan sepeda mini. Dan Dimas berangkat dengan sepupu mereka yang kebetulan satu sekolah dengan Dimas.
"Di, mulai besok tunggu saja aku di depan rumah mu. Kita berangkat sekolah bersama", ajak Irma ketika menghentikan sepeda motor nya di depan rumah Diana.
"Wah....Terimakasih Irma. Kau baik sekali padaku. Besok aku pasti menunggu mu disini ya", ucap Diana lagi dengan gembira.
Irma pun pergi meninggalkan Diana. Diana membuka pagar dan masuk ke dalam rumah. Setelah berganti pakaian, ia pun langsung mengerjakan semua pekerjaan rumah yang belum sempat ia selesaikan karena harus berangkat ke sekolah. Ia pun mengambil sapu dan sebelum mulai menyapu teras, ia duduk di kursi yang terletak di teras rumah nya. Lagi-lagi pikiran nya melayang jauh terbang tinggi.
*********
Flash back
"Assalamualaikum", seorang pemuda bernama Rizki datang berkunjung ke rumah Diana yang berada di kota.
"Waalaikumsalam. Rizki....Kok tau aku tinggal disini", sambut Diana setengah tak percaya.
__ADS_1
Rizki adalah teman semasa kecil Diana. Mereka sering bermain dan belajar bersama. Rizki juga selalu menemani Diana.
"Tria yang memberitahu ku, katanya Kamu akan pindah ke kampung. Jadi aku mencari rumah mu sebelum kamu pindah ke kampung. Yah....mau ngajak kamu jalan-jalan sebelum kamu pergi meninggalkan kota ini", ungkapan sedikit lirih dari Rizki.
"Masuklah, silahkan duduk dulu. Aku mau minta izin dulu sama Oma", Diana masuk ke dalam rumah dan meminta persetujuan Oma Nuri.
Tak lama kemudian, Diana pun keluar dari kamar nya setelah berpakaian rapi. Diana menggunakan tunik lengan sepertiga yang panjang nya selutut, lengkap dengan celana jeans berwarna navy. Rambutnya yang sedikit pirang bawaan lahir itu di ikat nya dengan pita. Tanpa polesan make up, wajah nya tampak natural namun tetap cantik. Rizki yang melihat Diana sudah siap, ia pun tersenyum senang.
"Oma, kami pergi jalan-jalan dulu ya", pamit Rizki pada Oma Nuri.
"Hati-hati di jalan, jangan kebut-kebutan yah Ki, pulang nya juga jangan terlalu sore, takutnya hujan", ucap Oma Nuri berpesan pada Rizki.
"Iya Oma, siap", Rizki dan Diana pun menyalami Oma Nuri dan mereka bergegas menaiki sepeda motor milik Rizki.
Sepeda motor itu terus melaju mengelilingi area kota. Mengitari gedung-gedung yang menjulang tinggi. Mereka berdua masih tak mengeluarkan kata kata. Sampai akhirnya Rizki menghentikan sepeda motornya di suatu tempat.
"Kita ngapain kesini Ki?" tanya Diana membuka percakapan.
"Kamu belum makan tadi di rumah?" tanya Diana lagi.
Rizki hanya menjawab dengan senyuman dan mengajak Diana masuk ke dalam dan mencari tempat duduk yang paling nyaman.
"Di, kamu beneran mau pindah ke kampung?" Rizki mulai khawatir.
"Huft.....", Diana menghela nafas panjang. "Ya", jawab nya lagi singkat.
Waiter pun membawa pesanan yang sudah di pesan oleh Rizki dan Diana. Mereka masih saling berdiam. Sebenarnya Diana adalah cinta pertama bagi Rizki, namun Diana yang masih polos tak pernah menganggap lebih. Semua teman sama di mata nya.
__ADS_1
"Aku sudah membujuk Oma Ki, supaya aku tetap di izinkan untuk tinggal di kota bersama bu Ayu, ibu angkat ku yang mengurus semua masalah sekolah di sini. Tapi tetap saja Oma tidak memberi izin. Dia sangat khawatir Ki, karena kamu tau sendiri kan aku anak perempuan satu-satu nya di keluarga ku", Diana mencoba menjelaskan.
Rizki tampak sedih dengan penjelasan Diana. Akhirnya mereka hanya berdiam lagi. Setelah mereka menyelesaikan makan siang nya, Rizki pun mengajak Diana kembali untuk berkeliling. Ia mengganggap hari ini adalah hari terakhir nya bersama Diana.
"Di, mudah-mudahan setelah di kampung nanti kamu tidak lupa dengan ku ya", harapan Rizki dalam lirih nya.
"Iya Ki, terimakasih ya sudah mengajak ku jalan-jalan", ucap Diana.
**********
"Woiiiii", Dimas mengagetkan Diana yang hanyut dalam lamunan panjang nya bersama Rizki.
"Astaga....Kamu tuh ya. Hobi nya ngagetin mbak aja. Baru pulang bukan nya ngucap salam malah ngagetin mbak", Diana memegang dada nya yang terkejut mendengar kedatangan adik nya yang sudah pulang dari sekolah.
"Habisnya mbak di panggilin dari tadi juga gak menjawab, udah ucapin salam juga gak di jawab. Siang siang gini ngelamun, awas kesambet loh mbak", Dimas menertawakan ulah Diana yang sedari tadi melamun sambil memegang sapu.
"Ya sudah lah. Kamu dari mana aja dek, jam segini baru pulang?" tanya Diana pada adik nya yang terlambat pulang.
"Nongkrong mbak, sama teman baru ku", jawab Dimas merasa tak bersalah.
"Dek, kita ini jauh dari orang tua. Harus pandai pandai kalo mau jadi orang sukses", Diana mencoba menasehati adiknya yang paling susah di nasehati itu.
Dimas tak menanggapi perkataan Diana, dan berlalu pergi.
Mbak harap kamu bisa berpikir dewasa dek, karena hidup kita pasti tak semudah yang mereka jalani. Mereka yang hidup di dalam kasih sayang orang tua, mereka yang kebutuhannya selalu di cukupi orang tua. Sedangkan kita harus menjadi dewasa sebelum waktu nya. Ya Allah....kuatkan aku sebagai seorang kakak yang akan menjadi panutan untuk adik adik ku.
Faiz yang melintas di depan rumah Diana membuyarkan lamunan nya kembali. Ia melintasi rumah Diana sambil menyunggingkan senyum termanis milik nya. Namun Diana tak membalas senyuman manis milik pemuda tampan itu. Membuat Faiz mengacak acak rambut nya dan merasa sangat kesal.
__ADS_1
*Sial.....sombong sekali dia. Gadis mana yang tak mau membalas senyuman seorang Faiz. Dasar orang kota, angkuh. Lihat saja nanti, kamu pasti jatuh cinta pada ku dan bisa kujadikan pacar ku. Gumam Faiz dengan rasa percaya diri yang tinggi nya tingkat dewa.
*Dasar playboy, dia kira aku tidak tahu apa, dia kan suka tebar pesona pada semua gadis. Diana**.