Hijab Dan Penantian

Hijab Dan Penantian
Keibuan


__ADS_3

"Bu, perlengkapan si adik kok tidak ibu tuliskan disini?" tanya Diana dengan Bu Lani dalam ponsel itu dan setelah meminta persetujuan Bu Lani, Diana pun menuliskan kembali perbelanjaan yang tidak tertulis dalam nota.


Andre masih memperhatikan Diana. Tak lama kemudian Diana menutup sambungan dengan Bu Lani dan mengembalikan ponsel itu kepada pemilik nya.


Suasana kembali hening. Setelah melakukan perjalanan selama 45 menit, akhirnya mereka pun sampai di tempat perbelanjaan yang ada di kota yang jarak nya paling dekat dengan tempat tinggal Diana. Andre memasukkan mobil ke area parkir. Setelah itu mengajak Diana turun dan masuk ke dalam tempat perbelanjaan itu. Hari itu suasana di Panorama Store sangat ramai, karena kebetulan memang saat itu adalah akhir pekan. Diana berjalan cepat menuju Swalayan untuk mencari semua bahan yang tertulis dalam nota. Ketika masuk ke dalam swalayan, Diana pun mengambil sebuah troli belanja untuk meletakkan semua belanjaan yang akan dia beli.


Kenapa jalan nya cepat sekali sih. Aku bahkan hampir kehabisan nafas untuk mensejajari langkah nya.


"Mas, kalau mas capek, mas tunggu aja di kursi santai itu", Diana menunjuk kursi santai yang ada di depan swalayan.


"Oh iya tidak apa apa, aku ikut saja, siapa tau kamu membutuhkan bantuan ku", Andre menawarkan diri.


Diana pun berjalan lagi menyusuri rak tempat sayur dan buah. Kemudian mengambil bahan bahan kering lain nya. Andre masih mengikuti dan memandangi gadis itu dari balik hijab merah muda yang Diana kenakan. Lalu ia melanjutkan langkah nya ke arah perlengkapan anak. Diana memilih beberapa perlengkapan mandi untuk anak dan juga mengambil beberapa kotak susu formula. Andre yang mulai penasaran pun memberanikan diri untuk bicara.


"Kok kamu beli itu, untuk apa?" tanya Andre.


"Untuk Miko Mas, kan tadi ibu lupa menulis perlengkapan Miko yang sudah habis", ucap Diana seadanya, Diana sudah mengetahui ternyata Miko yang berusia 4 tahun itu bukan anak kandung Bu Lani, melainkan anak adik perempuan nya yang sudah meninggal ketika melahirkan Miko.


Wah....keibuan sekali dia. Padahal usia nya baru belasan tahun. Benar benar calon istri idaman pria, sudah soleha, keibuan lagi. Pasti suatu saat nanti dia bisa menjadi ibu yang baik. Andre tersenyum simpul.


"Kenapa Mas?" Diana mencoba menelaah apa yang di pikirkan oleh anak majikan nya itu.


"Oh tidak apa apa", jawab Andre singkat.


Setelah satu jam berkeliling, akhirnya Diana pun selesai berbelanja. Lalu ia mengajak Andre untuk beristirahat sebentar di kursi santai yang ada di depan swalayan.


"Mas, sudah jam berapa ya?" tanya Diana yang mulai resah.


"Pukul 13.30", jawab Andre sambil memperlihatkan jam tangan miliknya ke arah Diana.

__ADS_1


"Astagfirulloh....Mas sudah lewat waktunya, saya mau cari musholla dulu ya mas", Diana berdiri dari kursi itu.


"Ya udah ayo kita bareng aja", ajak Andre yang tak sadar langsung menggenggam tangan Diana.


Diana yang melihat tangan nya di sentuh lelaki yang bukan muhrim langsung melepaskan genggaman tangan Andre dengan lembut.


"Maaf Mas", Diana melepas tangan Andre. Andre yang sadar langsung merasa tak enak hati. Padahal selama ini dia belum pernah menyentuh perempuan yang bukan muhrim nya.


"Aduh maaf Diana, aku tak sengaja", Andre merasa malu.


Mereka pun berjalan berdampingan menuju tempat yang di cari, dan melaksanakan kewajiban nya.


**********


Andre terduduk di meja yang ada didalam kamarnya. Lalu ia pindah ke kasur dan mencoba merebahkan tubuhnya disana. Perasaan nya masih saja tak tenang. Bu Lani yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar Andre dan memanggil nama nya beberapa kali langsung masuk ke dalam kamar Andre karena Andre tak menghiraukan panggilan mama nya.


"Mama, ngagetin Andre aja", ucap Andre yang tak menyadari panggilan mama nya beberapa kali dari depan pintu kamar nya tadi.


"Ma, boleh tanya gak?", ucap Andre lagi.


"Tanya apa tuh sayang", Mama mulai penasaran.


"Ma, Diana sudah lama ya kerja di rumah kita?" tanya Andre yang mulai tertarik pada kepribadian Diana.


"Ya ampun Andre, Mama kirain mau tanya apa. Rupanya anak mama mulai tertarik ya sama lawan jenis", goda mama lagi.


"Ah...Mama...cuma tanya doang kok", timpal Andre.


Mama pun mulai menceritakan tentang kepribadian Diana, latar belakang nya dan penyebab mengapa Diana bekerja di usia nya yang masih sangat belia. Andre yang mendengar pernyataan mama semakin tertarik dengan kepribadian Diana dan ingin mengetahui lebih banyak hal tentang Diana. Mama yang mengetahui gelagat putra nya hanya bisa tersenyum simpul.

__ADS_1


"Jadi kamu libur berapa hari anak?", tanya mama pada Andre.


"Hanya sepekan ma", ucap Andre lemas. "Ma, Andre suka dengan kepribadian Diana yang keibuan, ia bahkan begitu telaten mengurus Miko", lanjut Andre lagi tanpa merasa malu kepada mama nya.


"Kamu ini, aneh sekali nak. Di kota tempat mu kuliah pasti banyak gadis, kenapa bisa tertarik pada Diana yang sangat muda", Mama mulai menggoda anak sulung nya.


"Diana beda ma, pokoknya beda lah ma", Andre menjawab sambil merebahkan kembali tubuhnya di ranjang.


"Sudah lah, ayo makan. Tadi Diana tuh yang masak", goda mama lagi.


Andre langsung bangkit dari tempat tidur dan berlari menuju meja makan. Dilihat nya ada menu favorit nya di meja makan, Ayam goreng kalasan dan tempe bacem. Ia pun langsung duduk dan mengambil piring. Dilihatnya sekeliling seperti mencari sesuatu.


"Sudah ayo makan, Diana sudah pulang", sepertinya mama tau apa yang Andre cari.


Andre menghela nafas panjang.


**********


Diana yang baru sampai dari rumah Bu Lani langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri guna menghilangkan rasa penat di tubuhnya. Setelah selesai mandi, Diana pun mencari adik nya Kevin di tempat bermain Playstation. Ketika akan melangkah masuk, Diana melihat seseorang yang ia kenali duduk di samping adiknya.


"Kevin, ayo pulang. Apa kamu tidak ada tugas sekolah, kenapa jam segini masih bermain", ucap Diana tegas.


"Iya kak, ini juga main nya di traktir kak Faiz kok", jawab Kevin polos dan langsung menyudahi permainan playstation nya


Faiz melempar senyum pada Diana, dan Diana hanya membalas dengan tatapan datar tanpa ekspresi. Diana memang sangat tidak suka jika adik nya berlama lama menghabiskan waktu untuk hal hal yang tidak berguna, apalagi harus membuang uang. Diana sangat membenci itu. Sepertinya peran orang tua telah ia gantikan sejak mama dan papa nya bercerai. Diana berusaha untuk bersabar menghadapi tingkah laku adik adik nya yang terkadang menguji kesabaran nya.


Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian


yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah (Last child)

__ADS_1


Sebuah lagu mengiringi tidur Diana.


__ADS_2