Hijab Dan Penantian

Hijab Dan Penantian
Rencana Hafiz


__ADS_3

Diana membuatkan teh manis panas untuk Hafiz yang sedang mengajar Miko. Namun sesampainya di ruang tamu....


"Maaf Diana, saya lupa bilang ke kamu kalau saya sedang puasa," ucap Hafiz dan membuat Diana membawa kembali teh itu.


Sejak kapan dia bicara formal seperti itu padaku? Gumam Diana kesal.


Diana selalu begitu, bersikap dingin pada semua lelaki. Sebenarnya ia hanya terpaksa melakukan itu agar tak mudah jatuh cinta pada lelaki.


Setelah Miko selesai belajar mengaji. Bu Lani mengampiri Miko dan Hafiz yang duduk di ruang tamu.


"Tadi kata Diana pak Hafiz sedang puasa ya? kalau ibu boleh tau, puasa apa ya? Soalnya hari ini kan hari selasa," ucap Bu Lani yang ingin tau soal agama.


"Oh....sebenarnya saya sudah lama menjalankan puasa nabi Daud bu, puasa nabi Daud yaitu puasa yang di lakukan secara berkelang. Misalnya hari ini saya puasa, besok tidak dan besoknya lagi baru puasa kembali. Begitu seterusnya buk," jelas Hafiz yang membuat Bu Lani begitu kagum pada Hafiz yang masih muda namun begitu berpengalaman soal agama.


"Oh begitu ya nak, ibu jadi pengen juga puasa gitu," ucap bu Lani yang tertarik dengan pembahasan itu.


Diana hanya mendengar dari ruang tengah sambil menyetrika pakaian.


Ternyata ilmu agama kak Hafiz cukup lumayan. Pantas saja Oma suka banget sama dia. Diana berkata kata sendiri.


Tak lama kemudian Hafiz pun permisi pulang kepada bu Lani. Diana sengaja tidak keluar untuk melihat kepergian Hafiz. Dia tak mau nantinya laki laki itu merasa di perhatikan olehnya. Tak lama kemudian ponsel Diana berdering, sebuah pesan masuk ke ponselnya.


Aku pulang dulu ya.


Jaga kesehatan. Jangan terlalu lelah.


Setelah menjadi istri ku nanti, kamu tidak akan aku biarkan bekerja.


Diana memanyunkan bibirnya setelah membaca pesan dari Hafiz. Ia pun tak membalas nya. Ketika pekerjaannya hampir selesai, tiba tiba Andre pun pulang dari kantor nya.


"Assalamualaikum," ucap Andre saat masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam," jawab Diana. Sedang Bu Lani dan Miko sudah istirahat di kamar nya.


"Diana....," Andre mendekat pada Diana.


"Ya Mas," jawab Diana tanpa menoleh pada Andre.


"Aku sayang kamu," ucap Andre sambil membuka pintu kamar nya dan hendak masuk.


"Tapi sayang nya aku enggak," ucap Diana santai.


Deg. Apa apaan gadis ini. Tega sekali dia berkata begitu padaku. Sial....


Andre pun langsung masuk ke dalam kamar dengan wajah sedikit kesal. Setelah berganti pakaian, Andre pun keluar dari kamar menuju meja makan. Dilihatnya Diana sudah membereskan pekerjaannya. Tiba tiba muncul ide jahil nya untuk mengerjai Diana.

__ADS_1


"Diana, kamu kan udah siap tuh nyetrika nya. Tolong ambilkan aku nasi dong, laper banget nih," ucap Andre mencoba mencari perhatian Diana.


"Maaf Mas, melayani mas Andre untuk makan bukan bagian dari tugas ku," ucap Diana ketus sambil berlalu ke dapur.


Kenapa dia dingin sekali sih. Liat saja kalau sudah jadi istri ku, akan ku kerjai habis habisan. Andre tersenyum sendiri


Diana masuk ke dalam kamar Miko. Dilihatnya Miko masih terlelap. Sementara waktu sudah hampir sore. Akhirnya ia pun pamit pulang ke rumah. Andre menatap kepergian Diana dengan rasa kecewa karena tak berhasil mencari perhatian gadis itu.


***********


Diana telah sampai di rumah. Dilihatnya Oma sedang menyusun bahan pangan di dapur. Terlihat belanjaan yang Oma susun di dapur lebih banyak dari biasa nya sehingga membuat Diana heran dan menanyakannya pada Oma.


"Banyak banget belanjaan nya Oma. Apa mama udah ngirim uang ya Oma?" tanya Diana.


"Ini bukan Oma yang belanja. Tapi tadi Hafiz yang ngirim sembako kesini. Dia belanja di grosir depan, trus belanjaan ini di antar sama Pak Anto," ucap Oma masih sibuk dengan belanjaan yang disusun nya di dapur.


"Apa? Buat apa kak Hafiz belanja sebanyak ini untuk kita?" tanya Diana lagi tak percaya.


"Lusa, Hafiz dan keluarganya akan melamar kamu secara formal kesini. Oma senang punya cucu menantu yang soleh seperti Hafiz. Kamu pasti bahagia," ucap Oma dengan wajah yang penuh keceriaan.


Sedangkan Diana merasa seperti tersambar petir. Habis lah sudah. Hilanglah semua yang ia cita citakan selama ini. Bagi Diana, menikah adalah akhir dari segala nya. Dimana ia sudah tak bisa berbuat apa apa lagi selain mengurus rumah tangga. Diana langsung masuk ke dalam kamar dan menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di ranjang.


Kenapa dunia ini begitu tidak adil padaku. Apa yang harus kulakukan. Apa perjalanan hidupku memang harus berakhir? Ya Allah....berilah hamba kekuatan. Karena aku tak mampu untuk melawan arus deras ini. Masih banyak mimpi yang bertabur di langit. Masih banyak asa yang ingin ku wujudkan menjadi nyata. Mengapa ya Allah....


Ketika Diana masih menangis dalam diam di kamarnya, tiba tiba ponsel nya berdering menandakan ada sebuah pesan masuk. Diana langsung membuka ponsel nya.


Diana, aku mau tanya.


Kamu suka cincin yang simpel atau yang ada permata nya?


Bunyi pesan yang dikirim oleh Hafiz. Diana masih menggenggam ponselnya, belum tergerak untuk membalas pesan itu. Namun ponselnya kembali berdering, tanda sebuah panggilan masuk. Tampak di layar terpampang nama Hafiz.


"Assalamualaikum Diana," sapa Hafiz lebih dulu saat Diana mengangkat telepon.


"Waalaikumsalam," jawab Diana singkat.


"Aku sedang berada di toko Mas, kamu sudah baca pesan ku belum? Aku hanya ingin menanyakan tentang cincin saja," ucap Hafiz lagi.


"Terserah kak Hafiz saja, aku akan memakainya bagiamana pun bentuknya," ucap Diana lirih.


"Kamu menangis ya?" ucap Hafiz saat mendengar suara Diana yang begitu lirih.


"Enggak, hanya sedikit flu," ucap Diana berbohong.


Tak lama kemudian Diana mengakhiri panggilan itu.

__ADS_1


************


"Bi, Diana bilang terserah aku aja," ucap Hafiz kepada bibinya.


"Kalau begitu yang ini saja, kalau kebesaran kan bisa dikecilkan," ucap Bibi Hafiz menunjuk pada sebuah cincin yang berbentuk belah rotan.


Semua persiapan sudah di rencanakan dengan baik oleh Hafiz. Bahkan tempat tidur dan lemari juga sudah ia beli. Rumah Bibi Hafiz tampak ramai dengan saudara Hafiz yang sedang membungkus hantaran yang akan di bawa ke rumah Diana. Hafiz duduk di teras belakang sambil memandang kolam ikan yang ada di halaman belakang rumah itu. Pikiran nya pun melayang jauh, sampai seorang sahabat nya datang dan membuyarkan lamunan nya.


"Woy, calon pengantin jangan melamun. Ntar kesambet baru tau," Ucap Ibnu yang merupakan teman dekat Hafiz dari dulu.


"Apaan sih, ngagetin aja. Aku gak ngelamun. Cuma lagi mikirin calon bidadari ku aja," ucap Hafiz santai.


"Jadi kalian udah kenal lama ya, apa kalian pacaran?" selidik Ibnu yang tau bahwa selama ini sahabatnya tak pernah dekat dengan perempuan.


"Kalau sekedar kenal sih udah dua tahun yang lalu. Tapi kami gak pacaran, mana mungkin aku pacar pacaran seperti mu. Aku terlalu takut khilaf. Hahaha...." ucap Hafiz sambil tertawa kecil.


"Kalian gak pacaran? Tapi dari mana kamu tau dia suka sama kamu?" kata kata Ibnu membuat Hafiz terdiam.


"Aku bahkan belum mengetahui tentang perasaannya yang sebenarnya bagaimana padaku, tapi yang aku tau dia gadis yang baik dan berbakti pada orang tua. Dia gak akan menolak kemauan orang tua nya, apalagi Oma yang sudah mengurus nya sejak kecil," ucap Hafiz jujur.


"Jadi maksudmu, pernikahan ini kemauan mu sepihak dong. Apa kamu mau menikah sama orang yang tidak mencintai mu," ucap Ibnu lagi.


"Aku juga belum bisa memastikan tentang perasaanku pada nya. Yang jelas aku nyaman dengan dia. Masalah cinta....aku yakin suatu saat rasa itu tumbuh dengan sendirinya," ucap Hafiz penuh keyakinan.


"Gila lu bro...ya udah deh....aku cuma bisa doain semoga semua berjalan dengan lancar," ucap Ibnu sambil menepuk bahu Hafiz.


"Terima kasih ya sobat," ucap Hafiz.


*


*


*


*


*


*


"Thor, kenape cerita lu datar amat yak kayak jalanan tol?"


"Gua gak suka yang liku liku, takut nabrak ntar. Tau sendiri kan gimana pelayanan di rumah sakit masa kini, ntar gua di kasih obat generik lagi"


"Busyet dah thor....suka suka elu aja"

__ADS_1


"jempol jempol gua, nape lu yg sewot....weekkk. hihihi...."


__ADS_2