
Andre pulang ke rumah dengan raut wajah yang berbeda dengan saat ia pergi meninggalkan rumah. Ia masuk ke kamar nya dan langsung mengunci pintu kamar. Bu Lani menatap pintu kamar Andre yang sudah terlanjur di tutup oleh nya. Bu Lani menarik nafas panjang sambil berpikir apa yang sebenarnya terjadi pada putra sulung nya itu. Bu Lani mengetuk pintu karena merasa sangat penasaran dengan keadaan putra nya. Namun tak ada jawaban dari dalam. Akhirnya Bu Lani duduk kembali ke sofa.
Di dalam kamar Andre menghempaskan tubuhnya dengan kasar di ranjang. Ia menatap langit langit kamar nya sambil menutup wajah nya dengan kedua telapak tangannya.
"Arkhhhhhh....." teriak Andre dengan kasar nya.
Ia merasa sangat sakit. Dada nya seperti teriris, jantung nya seakan ingin berhenti berdetak melihat kenyataan bahwa pujaan hatinya telah di pinang orang. Tapi ia juga tak mau langsung menyerah, sebelum Diana menikah ia akan terus berusaha untuk mendapatkan hati Diana. Andre mengambil ponsel nya dan mengirimkan pesan untuk Diana.
Diana, aku sangat mencintaimu. Aku juga ingin menjadi pendamping hidupmu. Kenapa kamu menerima lamaran orang lain. Apa kamu tidak menaruh sedikit pun perasaan padaku?
Pesan itu terkirim. Namun belum juga mendapat balasan. Andre yakin di sana pasti Diana belum membaca pesan yang ia kirimkan.
**********
Di ruang tamu, suasana tampak begitu hangat antara keluarga kedua belah pihak yaitu keluarga Diana dan keluarga Hafiz. Paman Hafiz yang menjadi protokol saat itu mulai menyampaikan kata sambutan untuk membuka acara. Diana tetap menundukkan wajahnya seakan tak berani menatap wajah Hafiz yang berada tepat di hadapan nya. Lain pula,dengan Hafiz yang begitu percaya diri untuk melihat orang orang yang ada di sekitarnya. Hafiz juga tampak sangat tampan dengan kemeja putih yang pas di tubuh nya. Ia begitu serasi dengan Diana yang juga menggunakan gamis bermotif berwarna putih dengan hijab yang berkilauan menutupi kepala nya.
Setelah acara pembukaan selesai, Paman Hafiz meminta untuk memasangkan cincin pada jari Diana. Namun Bibi Hafiz yang melakukannya mewakili Hafiz. Diana tampak gugup saat Bibi Farida mulai mendekat pada nya. Ia pun mengangkat kepalanya dengan perlahan.
"Selamat ya nak. Semoga kamu dan Hafiz akan hidup bahagia selamanya," ucap Bibi Farida sambil menyematkan cincin di jari manis Diana.
Diana hanya mengangguk pelan dalam diam. Rasa rasanya ia tak berani menatap kenyataan yang ia sendiri tidak dapat menyimpulkan akan berakhir bahagia atau tidak. Kini sudah ada cincin melingkar di jari manis Diana yang menandakan bahwa ia sudah di pinang orang. Ia menatap cincin yang begitu pas di jari nya itu. Setelah memasangkan cincin di jari Diana, bibi kembali ke tempat duduk nya. Kedua keluarga itu pun melanjutkan acara makan bersama. Suasana tampak begitu hangat antara pihak Diana dan pihak Hafiz seperti mereka yang sudah mengenal lama. Namun kedua calon pengantin hanya berdiam diri. Hafiz sesekali mencuri pandang menatap Diana.
"Oh ya, bagaimana kelanjutan nya ini pak? Kira kira kapan kita bisa melangsungkan pernikahan mereka?" ucap Paman Hafiz kepada pihak keluarga Diana.
"Lebih cepat lebih baik yah kan Pak", ucap Pakde Diana santai.
Deg. Apa yang dikatakan Pakde? Apa dia sudah gila. Enak saja memberi penawaran begitu. Gumam Diana.
"Gimana kalau dua bulan lagi?" ucap Oma yang tak mau kalah.
'Aku yang mau menikah kenapa mereka yang seantusias itu sih. Apa pendapat ku tidak penting sehingga mereka tidak menanyakan soal perasaan ku,' ucap Diana dalam hati lagi.
"Iya ya buk. Biar Hafiz juga ada yang urus. Kasihan tiap hari pulang kerja harus masak lagi untuk diri nya sendiri," tambah Bibi Farida.
Hafiz hanya tersenyum simpul mendengar percakapan antara kedua keluarga itu. Saat ini hatinya begitu berbunga bunga. Lain hal dengan Diana. Ekspresi nya tampak datar dan dingin. Tak menunjukkan apa apa. Hafiz sudah memperhatikan nya sejak awal. Namun sikap Diana yang begitu acuh membuatnya tidak menyadari semua itu.
__ADS_1
Senja yang mulai tiba membuat Hafiz dan keluarga nya pun beranjak untuk pamit pulang. Tinggallah Diana dan keluarga besar Oma Nuri disana. Diana membantu Oma dan yang lainnya untuk membereskan ruang tamu yang di gunakan sebagai tempat pertemuan tadi. Kemudian Diana kembali ke teras untuk menyapu teras. Ketika ia keluar dari pintu, tatapan nya tertuju pada seorang pria yang ia kenal juga sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. Pria itu memperlambat langkah nya agar dapat menatap wajah cantik Diana lebih lama. Dia adalah Faiz yang baru pulang dari kota M untuk mengambil berkas yang di perlukan karena ia akan kembali ke kota M.
Pernah ada rasa cinta
antara kita kini tinggal kenangan
ingin ku lupakan semua tentang dirimu
Namun tak lagi kan seperti dirimu oh bintangku....
Faiz bernyanyi dengan suara yang keras. Seperti nya lagu itu ditujukan untuk menyindir Diana yang pernah ia sukai. Diana tak begitu menghiraukannya dan kembali melanjutkan pekerjaan nya untuk menyapu halaman.
*********
"Gimana nak? Sudah lega kan?" tanya Bibi Farida dalam perjalanan mereka menuju ke rumah.
"Belum begitu lega Bi, sebelum Diana sah menjadi istri Hafiz," ucap Hafiz.
"Tapi kan kamu sudah mengkhitbah nya," ucap Paman meyakinkan.
"Sabar, mohon perlindungan kepada Allah," ucap Bibi Farida dan dijawab dengan gangguan oleh Hafiz.
"Bu, ternyata kak Diana sangat cantik. Pantas kak Hafiz sangat menyukai nya," ucap April adik sepupu Hafiz yang masih remaja itu.
Semua orang di dalam mobil tergelak mendengar komentar April tentang Diana. Perjalanan mereka menghabiskan waktu hampir satu jam perjalanan hingga akhirnya Hafiz dan keluarga nya sampai di kediaman rumah Hafiz. Hafiz mengucapkan terima kasih kepada semua kerabat nya yang telah sudi mengantarkan Hafiz untuk melamar Diana. Para kerabat Hafiz akhirnya kembali ke rumah mereka masing masing.
Hafiz masuk ke dalam kamar nya dan membersihkan diri, setelah itu melaksanakan sholat ashar. Selesai memanjatkan doa, ia pun mengambil ponsel nya dan berniat untuk mengirimkan sebuah pesan untuk Diana.
Assalamualaikum Diana.
Terimakasih karena kamu sudah mau menerima lamaran ku.
Pesan itu pun terkirim. Beberapa menit kemudian ponsel Hafiz berdering menandakan ada pesan masuk.
Waalaikumsalam.
__ADS_1
Ya.
Hafiz membuka pesan masuk itu dan membaca nya. Mata nya langsung melotot melihat balasan Diana yang begitu singkat. Namun itu membuatnya lagi lagi tersenyum simpul dan mencoba untuk mengirimkan sebuah pesan lagi.
Kamu sedang apa Diana?
Tak lama kemudian ponsel Hafiz kembali mendapat balasan.
Sedang sibuk.
Hafiz tercengang melihat balasan terakhir Diana membuatnya tak lagi berpikir untuk kembali mengirimkan pesan pada Diana. Ia menggaruk kepala nya yang tidak gatal itu sambil tersenyum.
"Aku sangat suka dengan sikap dingin mu itu my sweet...." ucap Hafiz berkata sendiri.
*
*
*
*
*
Halo readers....
Sekolah udah mulai new normal nih.
Jadi author mulai sibuk ngajar deh.
Maaf ya kalo telat up nya
Thanks buat semua yang udah like, komen and vote yah....
Semoga sehat selalu...
__ADS_1