Hijab Dan Penantian

Hijab Dan Penantian
Pilih yang mana?


__ADS_3

Suara alunan musik dangdut itu sangat terasa menyakitkan di telinga Diana, ia serasa ingin menenggelamkan diri nya saja dari pada harus mendengar musik seperti itu yang sangat tidak ia sukai. Ditengah perdebatan nya dengan Purnama, ada seorang pemuda yang menghampiri mereka dan sepertinya ingin mencari informasi dari Diana dan Purnama.


"Maaf, mbak boleh tanya gak?", ucap pemuda itu pada Diana dengan sopan.


"Iya, ada apa ya mas?" tanya Diana balik.


"Tempat daftar ulang nya dimana ya mbak?" tanya pemuda itu lagi.


"Oh itu mas, disana", Diana menunjukkan ke arah sebuah meja panitia. "Disitu ada laki laki, nama nya kak Abi, mas bisa tanya aja ke dia", tambah Diana lagi.


"Oh iya, kenalin nama saya Hafiz", Hafiz mengulurkan tangan nya, namun Diana hanya menangkupkan kedua tangan nya ke atas tanpa menyambut uluran tangan Hafiz.


"Aku Diana", ucap Diana lagi.


Tanpa terasa terjadi obrolan ringan di antara mereka bertiga, namun Purnama tidak terlalu acuh dengan obrolan antara Diana dan Hafiz. Sampai akhir nya Hafiz meminta nomor ponsel Diana, dan entah kenapa baru kali ini Diana dengan mudah memberikan nomor ponsel nya kepada orang lain. Di tengah tengah perbincangan mereka, akhir nya nomor peserta milik Hafiz pun di panggil. Hafiz pun meninggalkan Diana dan Purnama.


"Pur, ntar kalo suara nya jelek, kita kabur yuk....Malu....", ucap Diana yang masih menahan dirinya di tengah tengah acara yang tidak ia sukai itu.


"Iya deh, setelah ini kita pulang", jawab Purnama santai.


Alunan musik pun mulai terdengar, sebenarnya lagu itu bagus, hanya saja Diana yang tak terbiasa dengan alunan musik dangdut merasa sangat geli mendengar nya. Sampai tiba saat nya Hafiz mengeluarkan suara emas nya.


Betapa hati rindu pada dirimu


duhai kekasih ku


segeralah kembali pada diriku


duhai kekasih ku


Lagu berjudul Kerinduan yang pada masa nya dipopulerkan oleh Ridho Rhoma anak dari raja dangdut Rhoma Irama (Ngapa jadi lengkap bener yah? hahaha). Dinyanyikan oleh Hafiz dengan suara yang sangat merdu. Penonton seperti terhipnotis dengan penampilan Hafiz. Suara nya sangat merdu, perfect lah pokoknya. Dewan juri memberikan penilaian dan komentar yang sangat baik pada Hafiz. Diana merasa malu sendiri.


"Udah yuk pulang!" ajak Diana duluan kepada Purnama.


"Tadi katanya kalau gak enak kita kabur, gitu denger suara enak kok mau kabur juga sih?" ucap Purnama kesal.


Diana hanya tersenyum malu malu.


***********


Hari ini adalah hari terakhir Diana bekerja, karena lusa Diana akan masuk sekolah seperti biasa. Fadhil sedikit merasa sedih, karena tidak bisa sedekat biasa nya dengan Diana. Namun mereka tetap berteman baik. Bahkan kali ini Fadhil lebih sering menghubungi Diana lewat ponsel nya. Tak berbeda dengan Fadhil, Hendra juga punya cara sendiri untuk mendekati Diana. Hari ini Hendra berencana untuk mengantar kan Diana pulang, karena kebetulan hari ini Fadhil sedang ada pekerjaan di luar studio. Hendra pun berencana untuk menyatakan cinta nya pada Diana.


"Hari ini aku yang antar kamu pulang ya Di", rayu Hendra.


"Gak usah kak, ntar ngerepoti lagi", Diana mencoba menolak nya. Namun dengan berbagai cara, akhirnya Hendra berhasil membujuk Diana.


Sore hari ketika waktu kerja telah usai, Diana pun membereskan barang barang nya, mengingat mulai esok ia sudah tidak bekerja lagi. Paman Hendra pemilik studio memberikan sebuah amplop berwarna coklat yang berisi uang gaji kerja Diana selama dua pekan ini. Diana menerima nya dengan sangat senang. Hendra pun keluar dari ruang studio dan sudah memegang kunci sepeda motor milik nya yang akan ia gunakan untuk mengantar Diana pulang.


"Om, aku ngantar Diana pulang dulu ya", ucap Hendra sambil tersenyum malu dan dijawab dengan anggukan oleh Paman nya.

__ADS_1


Sesampai nya di rumah Diana, ternyata Hendra tak ingin segera pulang, ia ingin mengajak Diana ngobrol sebentar. Mengingat esok ia tidak lagi bekerja, akhirnya Diana pun tak keberatan. Diana masuk ke dapur dan membuatkan Hendra segelas teh panas. Mereka duduk di teras rumah. Diana sudah memasang muka tak nyaman saat masuk ke rumah, dan Oma hanya mencoba menerka tentang apa yang Diana pikirkan.


"Ini kak, silahkan diminum teh nya", ucap Diana sambil meletakkan segelas teh itu di atas meja.


"Oh iya, terimakasih ya Diana", ucap Hendra. "Sebenarnya ada yang ingin aku omongin sama kamu", tambah Hendra lagi.


"Mau ngomong apa mas?" Diana seperti sudah tau akan hal apa yang akan di bicarakan oleh Hendra.


"Sebenarnya aku udah lama suka sama kamu Di, aku sayang sama kamu, kamu mau gak jadi pacar aku?" ucap Hendra jujur.


Diana sudah menduga tentang hal itu, benar saja. Semua lelaki ini kalau sudah dekat dengan nya pasti selalu begini. Diana menghela nafas panjang sebelum bicara.


"Maaf ya kak, aku belum mau pacaran. Aku takut kak. Perjalanan ku masih panjang, mungkin saat ini belum saat nya. Sekali lagi maaf ya kak, aku gak bisa", kata kata terakhir Diana membuat Hendra merasa sangat kecewa, tak beberapa lama Hendra pun pamit untuk pulang.


Setelah kejadian itu Hendra tak menyerah begitu saja, ia mengatakan pada Fadhil bahwa dirinya dan Diana sudah berpacaran. Bahkan Hendra banyak menciptakan kebohongan untuk memanas manasi hati Fadhil ( kompor kali yah panas). Fadhil yang mendengar ungkapan Diana pun merasa sangat tidak terima. Ia pun berencana untuk menemui Diana.


Malam ini Diana duduk sendiri di teras rumah sambil memandang langit yang penuh dengan bintang yang bertaburan. Tiba tiba ponsel milik nya bergetar.


Assalamualaikum


Sebuah nomor tak dikenal masuk mengirimkan sebuah pesan dan langsung dibalas oleh Diana.


Apa kabar Diana? Ini aku Hafiz.


Diana tersenyum dan mulai membalas pesan dari Hafiz. Terjadilah percakapan panjang antara mereka, sampai akhirnya adik Diana si Ifan mengganggu nya.


"Mbak, temenin main PS yuk. Aku takut nanti ada yang gangguin kayak kemaren", rengekan Ifan membuat Diana akhirnya beranjak dari tempat duduk nya.


"Mas Fadhil, ngapain disini?" tanya Diana.


"Kamu sendiri ngapain disini? Liat tuh disini kamu cewek sendiri tau", ucap Fadhil.


"Nemenin si Ifan main, takut ada yang jahilin dia", ucap Diana jujur.


Fadhil tersenyum ringan lalu mengajak Diana duduk di bangku luar sambil memesan minuman. Fadhil memang sudah berencana untuk menanyakan perihal Hendra kepada Diana. Diana kemudian memasukkan ponsel nya ke dalam saku yang ada di gamis nya. Karena tak ingin mengacuhkan Fadhil. Fadhil pun mulai menceritakan apa yang di ceritakan oleh Hendra kepada Diana. Diana tampak terkejut dan marah. Karena merasa Hendra telah merendahkan harga diri nya sebagai perempuan. Diana bersumpah pada Fadhil bahwa apa yang dikatakan oleh Hendra tidak benar ada nya. Fadhil mencoba meneliti sikap Diana. Tampak tidak ada kebohongan di matanya. Fadhil mengepal tangan nya karena merasa marah pada Hendra yang telah merendahkan perempuan yang ia cintai.


"Terimakasih ya mas, udah ceritain ini ke aku. Aku jadi lebih tau, mana yang tulus mana yang tidak", ucap Diana dengan nada sedikit kecewa.


"Iya, aku cuma gak mau kalau Hendra nyakitin kamu. Aku sayang sama kamu Diana. Kalau memang kamu bener suka sama Hendra, aku akan terima. Tapi aku gak terima kalau Hendra menjelekkan kamu di depan ku", ucap Fadhil lagi.


"Kan aku udah bilang mas, aku gak mau pacaran. Aku takut nantinya ada rasa yang belum tepat datang dan menguasai hati ku. Terimakasih kalau mas mau mengerti", ucap Diana lagi.


Waktu bermain Ifan sudah selesai, akhirnya Diana dan Ifan pamit untuk kembali ke rumah.


Sejak saat itu, Diana merasa sangat marah dengan Hendra. Ia tak mau lagi dekat dengan pemuda itu dan memilih untuk menjaga jarak dengan nya. Banyak pesan Hendra yang tak ia balas. Malah akhir akhir ini ia sering menanggapi perhatian yang di berikan oleh Fadhil. Fadhil juga sering membawakan makan siang ke sekolah saat Diana ada les sore di sekolah.


***********


Pagi ini Diana masuk sekolah, ia sudah bersiap dengan tas sandang berwarna navy miliknya itu. Diana masih berdiri di depan cermin, mencoba memperbaiki bentuk kerudung nya yang sebenarnya sudah bagus. Sesekali ia memandangi ponsel miliknya, tidak ada pesan masuk. Seperti menunggu pesan dari seseorang. Hafiz seorang pemuda yang ia kenal di acara festival seni, masih sering mengirimkan pesan pada nya. Sampai pada hari pengumuman pemenang, Diana masih memberikan informasi pada Hafiz.

__ADS_1


Sebenarnya ada sedikit kekaguman dihati Diana melihat Hafiz yang memiliki suara merdu bak Qori Internasional. Namun setelah acara penutupan Festival Seni itu, Hafiz dan Diana tak lagi berkomunikasi. Mereka seperti hilang kontak. Hafiz memang seorang pemuda yang baik, dengan bakat nya sehinggga ia meraih juara pada festival seni waktu itu. Tapi sayang sekali, mereka tak lagi berkomunikasi selama setahun lamanya sampai akhirnya Tuhan kembali mempertemukan mereka. (Ntar di bahas ye....di bab lain.hihihi)


Sebelum pertemuan berulang itu terjadi, selama setahun lama nya Diana masih menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan Fadhil. Hubungan tanpa status itu membuat Fadhil nyaman, yang penting ia bisa dekat dengan Diana. Hari hari di lalui Diana. Hingga pada suatu hari, Fadhil mengajak Diana bertamasya. Tentu saja Ifan selalu ikut di antara mereka. Karena Diana tidak akan berani berdekatan dengan pemuda manapun bila tak ada yang menemani nya.


Melihat Fadhil yang pernah pergi dengan Diana di hari libur, menimbulkan kecemasan di hati Faiz yang juga mengincar Diana. Faiz mengirim sebuah pesan pada Diana.


Ntar malam aku main ke rumah ya!


Harus jawab apa ya? Gumam Diana dalam hati. Lalu langsung saja mengirimkan balasan dengan satu kata "ya"


Sebenarnya Faiz adalah pemuda yang paling tampan di desa itu, namun entah kenapa Diana tak sedikit pun tertarik pada nya. Jelas saja karena pamor nya yang terkenal playboy.


*********


Malam ini Faiz datang dengan membawa kan Diana sebatang coklat, mungkin ini yang selalu dilakukan oleh Faiz kepada cewek cewek di desa itu.


"Diana, kamu sendiri di rumah?", tanya Faiz.


"Enggak, itu si Ifan lagi nonton tv di dalam", jawab Diana polos.


"Oh iya, Diana tadi aku beli coklat nya dua, tapi yang satu udah aku makan. Rasanya gak manis loh, coba deh buka punya kamu, kali aja sama", ucap Faiz yang menyuruh Diana membuka coklat yang ada di tangan nya.


Diana langsung membuka coklat itu dan mencicipi nya.


"Manis kok kak", ucap Diana.


"Begitu memang kalo yang makan orang nya manis, coklat nya jadi lebih manis", gombal Faiz yang membuat Diana serasa mual dan ingin muntah.


"Diana, kamu mau gak jadi pacar aku?" kata kata Faiz membuat Diana tersedak.


"uhuk....uhuk.....uhuk.....


*


*


*


*


*


*


*


Maaf yah pemirsa kepanjangan kali ini yah....


Author masih bingung ini, banyak bener yang demen sama Diana. Kira kira Diana mau pilih yang mana ya....???

__ADS_1


Pilih yang ngasih jempol sama vote ah....hahaha....


__ADS_2