
Tepat pukul 00.01. Alarm di ponsel Diana pun berbunyi, pengingat hari ulang tahun suami nya. Diana segera mengambil cake yang sudah dibeli oleh bibi dan April sebelum Hafiz pulang kerja tadi sore. Lalu membawanya ke dalam kamar dan diletakkan nya di atas nakas. Dengan lembut Diana mencium pipi suaminya untuk membangunkan Hafiz yang telah terlelap.
"Kak, bangun donk. Kak....ayo lah bangun...!" Diana menggoyangkan tubuh Hafiz lembut, namun Hafiz malah mendekap erat tubuh Diana.
"Perasaan baru tidur, kok udah subuh aja sih sayang..." ucap Hafiz dengan gontai sambil mengeratkan pelukan nya.
"Ish....apaan sih. Kak, ini belum subuh. Tapi aku mau kakak bangun dulu..." ucap Diana kembali mengajak Hafiz bangkit dari tempat tidur, namun Hafiz masih enggan membuka mata nya.
Diana pun menciumi telinga Hafiz agar ia terusik dan mau bangun dari tidurnya.
"Iya sayang... sabar..." Hafiz duduk dan mengerjapkan mata nya. Diana segera mengambil cake ulang tahun dan membawanya ke hadapan Hafiz.
"Barakallah fii umrik suamiku... Semoga sehat selalu, berkah umur, berkah rezeki...." Diana membawakan cake ke hadapan Hafiz dan dengan lembut mengecup pipi Hafiz.
Hafiz langsung memeluk istri nya. Mengucapkan terimakasih sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah Diana. Kemudian Diana memotong cake dan menyuapkan nya pada Hafiz. Tampak sebuah kebahagiaan terpancar di wajah Hafiz.
"Terimakasih ya sayang untuk semuanya...." Hafiz memeluk dan mengecup Diana dengan lembut.
Diana mengeluarkan hadiah yang telah disiapkan nya untuk Hafiz di dalam laci nakas. Lalu memberikan nya pada Hafiz.
"Ini kak, semoga kakak suka dengan hadiah ini," Diana memberikan nya pada Hafiz dan Hafiz segera membuka nya.
"Terimakasih ya sayang," lagi dan lagi Hafiz memeluk istrinya.
**********
Hari ini Hafiz berencana akan mengajak Diana untuk jalan jalan. Setelah sekian lama menjalani perawatan, Diana hampir tak pernah melakukan perjalanan. Di hari ulang tahun Hafiz, ia berencana untuk mengajak istrinya refreshing, mengunjungi sebuah tempat wisata. Untuk menambah keharmonisan dan keromantisan antara mereka berdua.
"Kita mau kemana sih kak?" tanya Diana.
"Kalau aku beri tahu, gak surprise dong," jawab Hafiz.
"Ehm, trus kenapa mesti bawa baju ganti sih kak? Emang kita mau nginap?" tanya Diana lagi.
"Iya," jawab Hafiz singkat. "Sekalian kalau ada bawa gaun tidur mu ya sayang," goda Hafiz pada Diana yang spontan membuat wajah Diana bersemu merah.
"Ish....apaan sih kak," Diana malu malu.
Waktu menunjukkan pukul 08.00 pagi. Sebuah mobil sudah terparkir di depan rumah Hafiz. Diana menatap Hafiz dengan penuh tanda tanya, namun Hafiz mengisyaratkan pada Diana untuk tidak bertanya apapun. Hafiz segera menyusun barang barang ke dalam mobil. Dibantu oleh seorang supir, yang dikirim oleh Ibnu sahabat Hafiz. Hafiz sudah merencanakan perjalanan ini dibantu oleh sahabat nya Ibnu untuk transportasi dan akomodasi mereka.
Diana telah bersiap dengan gamis berwarna baby blue, lengkap dengan hijab dan cadar nya. Ia juga bergegas keluar dari kamar. Ketika hendak keluar dari pintu, Diana tertegun melihat seseorang yang bersama dengan suami nya. Orang yang pernah sangat ia kenal.
"Sudah tidak ada lagi pak barang nya?" tanya pria itu kepada Hafiz.
"Oh ya, sudah semua", jawab Hafiz. "Sayang, ayo kunci pintu nya. Kok malah bengong disitu sih," ucapan Hafiz membuyarkan lamunan Diana.
"Ah...Iya kak," ucap Diana segera mengunci pintu.
__ADS_1
Ah...suaranya mengingatkan ku pada seseorang.
Fadhil.
Hafiz dan Diana duduk di bangku penumpang. Diana masih terdiam. Hafiz tak menaruh curiga, karena Diana memang jarang berbicara jika di depan orang lain.
"Perjalanan bulan madu ya pak?" Supir itu membuka obrolan ringan.
"Yah, bisa di bilang gitu lah...," jawab Hafiz sambil mendekap erat pinggang Diana, sedang Diana hanya terdiam.
"Sudah berkeluarga mas?" tanya Hafiz pada pria itu.
"Belum pak, susah cari yang cocok," jawab pria itu seadanya. "Dulu ada sih, tapi sayang nya belum berjodoh. Sekarang saya dengar malah dia sudah menikah, yah....begitu lah hidup pak," ucap pria itu santai.
Deg. Ya Allah... Maaf mas. Diana.
"Tapi sekarang sudah bisa move on kan mas? Jadi kepo saya," ucap Hafiz sambil tertawa kecil.
"Belum bisa pak, yah...mudah mudahan akan ketemu lagi sama yang seperti itu," ucap pria itu.
"Aamiin..." Hafiz mendoakan.
Perjalanan tidak terlalu lama, setelah 2 jam mereka pun sampai di tempat tujuan. Sepanjang perjalanan Diana hanya banyak diam. Karena takut dikenali oleh lelaki yang ada di dekat nya itu yang menjadi supir mereka saat itu. Hafiz menggandeng istrinya. Ketika akan masuk ke dalam penginapan, Hafiz meminta nomor ponsel pria itu.
"Oh ya mas, saya lupa. Minta nomor ponsel nya yah mas, biar enak nanti komunikasi kita," ucap Hafiz pada pria itu.
"Waduh, ponsel saya low. Sayang, pakai handphone kamu yah," Hafiz meminta ponsel Diana. Diana yang dengan sigap memberikan ponsel nya berharap segera berpisah dengan pria itu.
"Berapa mas nomornya?" tanya Hafiz lagi kepada pria itu.
"0852xxxxxxxx..." pria itu menyebutkan nomor ponsel nya.
Hafiz terkejut saat melihat di ponsel Diana sudah tersimpan nomor ponsel pria yang baru di kenal nya itu. Di layar ponsel milik Diana tertera sebuah nama "Mas Fadhil". Namun ia tetap menyembunyikan keterkejutan nya itu agar tidak merusak suasana romantis dengan Diana.
"Nama mas tadi siapa?" Hafiz berpura pura tidak tahu.
"Saya Fadhil pak, panggil Fadhil aja pak," ucap pria yang ternyata benar bernama Fadhil itu.
Diana hanya menunduk sedari tadi menunggu suami nya. Kemudian mereka masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Diana merasa sedikit lega karena sudah tak melihat wajah Fadhil lagi. Hafiz sudah tidak sabar ingin menanyakan perihal Fadhil pada Diana. Namun ia mengurungkan niat nya.
"Gimana sayang? Kamu suka tempatnya?" tanya Hafiz pada Diana.
"Suka. Suka banget. Tempatnya bagus. Udara disini juga sangat sejuk," tutur Diana sambil membuka cadar dan hijab nya. "Aku mandi dulu ya kak, gerah nih," ucap Diana.
"Gerah...? gak biasanya sayang kegerahan. Bukannya udara disini sejuk ya," ucap Hafiz.
"Ehm, ia sejuk sih....Tapi aku lagi pengen cobain kamar mandi nya aja," tambah Diana lagi yang sebenarnya sudah frustasi berada di dalam mobil dengan Fadhil tadi. Ia begitu takut kalau kalau Fadhil mengenali nya.
__ADS_1
"Kalau gitu, kita mandi bareng yuk!" Hafiz menggoda Diana.
"Lain kali deh ya kak, ini mau sebentar aja kok mandi nya. Yah....kak..." Diana memohon agar suami nya mengurungkan niat untuk mandi bersama, karena pasti akan lama urusan nya kalau sudah berduaan di dalam kamar mandi. Hahaha...
"Ok deh sayang..." ucap Hafiz sambil mencium pipi Diana, Diana tersipu malu sambil berlari ke kamar mandi.
Hafiz mengambil ponsel milik nya lalu mengecas nya. Lalu ia teringat ada sesuatu yang belum sempat ia beli, maka ia memutuskan untuk meminta tolong pada Fadhil untuk membelikan nya.
Di saat Fadhil selesai memarkirkan mobil, tiba tiba ponsel miliknya berdering. Fadhil sangat terkejut melihat panggilan di ponsel nya. Tertera nama "Minny" di layar ponsel.miliknya. Hatinya begitu terkejut. Tanpa pikir panjang ia pun segera mengangkat telpon nya.
"Halo..."
"Assalammualaikum mas Fadhil," ucap Hafiz.
Loh, kok suara laki laki. Fadhil.
"Waalaikumsalam," jawab Fadhil singkat.
"Saya mau minta tolong sama mas Fadhil, di depan hotel tadi saya lihat ada toko kue. Tolong belikan brownis ya mas Fadhil, buat istri saya," ucap Hafiz. "Ini saya Hafiz," ucap Hafiz lagi karena lupa mengenalkan diri terlebih dulu.
Fadhil terdiam sejenak. Mencerna setiap kata yang di ucapkan oleh si penelpon yang ternyata Hafiz.
"Halo...Halo mas Fadhil, masih disitu kah?" ucapan Hafiz mengejutkan Fadhil.
"Oh, iya pak. Akan saya belikan," ucap Fadhil akhirnya sebelum menutup telepon.
"Hancur hatiku mengenang dikau,
Menjadi keping-keping setelah kau pergi,
Tinggalkan kasih sayang yg pernah singgah antara kita,
Masihkah ada sayang itu..."
Irama sebuah lagu seperti menyanyi merdu di telinga Fadhil. Dengan berat hati ia melakukan apa yang diminta oleh customer nya yang ternyata adalah suami dari gadis yang pernah ia cintai itu.
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
HAPPY READING