
2 hari telah berlalu akhirnya Diana dan hafiz pun pulang kembali ke rumah. Keadaan masih sama saja seperti biasanya, Diana masih bersikap datar terhadap Hafiz padahal habis sudah tergila-gila kepada Diana. Seperti yang telah dikatakan oleh Hafiz bahwa ia akan pergi untuk urusan Diklat pendidikan selama sepekan. Malam itu Diana pun membantu Hafiz untuk membereskan beberapa barang barang yang akan dibawa oleh Hafiz. Diana merapikan pakaian Hafiz kedalam sebuah koper kecil, lengkap dengan peralatan kerja Hafiz.
Pagi ini Hafiz bangun lebih awal dari biasanya sebelum subuh dia sudah bangun, dan melaksanakan salat tahajud. Setelah adzan subuh berkumandang Hafiz pun membangunkan Diana.
"Sayang, bangun sayang sudah subuh," ucap Hafiz pelan sambil mengelus pipi Diana. Tak butuh waktu lama untuk membangunkan Diana, Diana pun segera bangun dan bergegas ke kamar mandi.
Pagi itu suasana sarapan menjadi hening, entah kenapa Diana tak ingin berkata-kata. Hafiz memandang istrinya dengan penuh tanda tanya, apa istrinya tidak rela melepaskan kepergian nya atau sebaliknya? Namun Hafiz tetap dalam diam pula. Diana mulai menampakan kegelisahannya.
"Ehm.... kira-kira kakak kapan akan kembali?" tanya Diana mengawali pembicaraan.
Hafiz pun tersenyum sebelum menjawabnya.
'ternyata itu yang ada di dalam pikirannya dari tadi,' ucap Hafiz dalam hati.
"Kenapa sayang? Aku bahkan belum berangkat, kamu sudah bertanya kapan aku pulang," ucap Hafiz sambil tersenyum.
"Oh... tidak apa-apa kok, aku hanya bertanya saja agar bisa mempersiapkan kalau kakak pulang," ucap Diana.
Padahal dalam hati Diana ada rasa tak rela melepaskan kepergian suaminya. Entah kenapa ia merasa ingin selalu berada di dekat Hafiz. Setelah sarapan Hafiz pun berangkat bersama dengan rekan kerjanya. Mereka menaiki sebuah mobil. Diana menatap kepergian suaminya, baru beberapa menit hatinya sudah dipenuhi dengan kerinduan. Dan kehampaan pun dimulai.
********
Malam ini suasana terasa sangat hening, padahal waktu masih menunjukkan pukul 20.00. Diana menatap sekeliling ruangan rumahnya, biasanya ia duduk berdua di ruang tv bersama Hafiz. Malam ini ia makan sendiri, dia merasa tidak bernafsu untuk melanjutkan makannya. Diana pun segera berwudhu dan melaksanakan salat isya. Setelah itu ia masuk kedalam kamar. Hatinya masih saja gelisah karena sejak pagi Hafiz belum memberi kabar padanya. Akhirnya ia memutuskan untuk membaca Al-Quran untuk mencari ketenangan hati. Setelah membaca beberapa halaman ia pun berhenti, kembali memandang ke arah ke ponsel. belum ada tanda-tanda Hafiz akan mengabari nya. entah mengapa Diana merasa begitu merindukan Hafiz. Ingin sekali dia menghubungi Hafiz, namun ia takut akan mengganggu Hafiz. waktu menunjukkan sudah pukul 22.00. Diana belum juga bisa tertidur. Ada beribu tanya di kepalanya tentang mengapa Hafiz tidak mengabari nya. 'Apakah aku benar-benar tidak penting baginya?' pikir Diana dalam hati.
Sementara di tempat yang berbeda Hafiz pun merasakan kegelisahan sambil menatap kearah ponselnya. Ia menantikan kabar dari istrinya. Ingin sekali ia menghubungi Diana duluan namun ia ingin mengetahui apakah Diana merindukannya atau tidak. Digenggamnya dengan erat ponsel itu, lalu ia putuskan untuk menghubungi Diana. Namun ketika ia melihat jam menunjukkan sudah larut malam, ia takut Diana sudah tidur dan akan mengganggunya. Rasa rindu yang berkecamuk membuat Hafiz melupakan waktu yang sudah larut malam. Akhirnya ia kalah dengan rasa rindu dan segera membuat panggilan di ponselnya. Setelah beberapa detik melakukan panggilan ternyata ponsel yang dihubungi tidak aktif. Hafiz pun mulai merasa gelisah.
Di kamar Diana juga melakukan hal yang sama, dia pun menghubungi suaminya. Namun sayang ponsel yang dituju tidak aktif. Bagaimana mungkin bisa melakukan panggilan ketika mereka sama-sama melakukan panggilan, tentu keduanya akan menjadi tidak aktif. Setelah menutup ponsel ternyata ada panggilan tidak terjawab, dan tertera nama suamiku. Diana tersenyum lebar.
Hafiz pun demikian, ketika akan menutup ponsel tertera panggilan tak terjawab dari istrinya tertulis di layar sayangku. Hafiz tersenyum. lalu ia mengirimkan sebuah pesan kepada Diana.
Belum tidur sayang? (Hafiz)
Belum. Baru selesai membaca Alquran. (Diana)
Tidurlah sudah malam. (Hafiz)
__ADS_1
Belum mengantuk. (Diana)
I love u. (Hafiz)
I love u too. (Diana)
Hati Diana pun berbunga-bunga setelah mendapat kabar dari suaminya. Ia pun dapat tidur dengan nyenyak. Begitu pula dengan Hafiz disana. Hingga di pagi hari Diana bangun dengan semangat, sebelum ia membuka mata ia meraba ke samping kasur tempat ia tidur. Ia terkejut bahwa seseorang yang biasa tidur disampingnya tidak ada, setelah beberapa menit barulah ia sadar, bahwa suaminya Hafiz belum kembali dari luar kota. Diana pun kembali merasakan kesedihan. Rasanya ia tidak bersemangat untuk bangun.
"Ternyata begini rasanya kesepian," ucap Diana lirih.
Ia pun segera bangkit dari tempat tidur dan melangkah dengan gontai menuju kamar mandi. Setelah mandi dan salat subuh ia pun duduk di ruang tv. Diana seakan bingung ingin melakukan apa tanpa suaminya. Yang biasanya aktivitasnya memasak sarapan untuk Hafiz tapi kali ini Hafiz tidak ada di rumah dan membuat Diana tidak bersemangat untuk memasak karena ia tahu tidak akan ada yang memakan masakan. Ia pun tetap beraktivitas walau dengan setengah lemas, dibukanya semua ventilasi di rumah itu untuk menghirup udara pagi yang dapat menenangkan jiwanya yang kesepian. Terlihat dari luar April dan teman-temannya sedang melakukan lari pagi.
"Assalamualaikum," sapa April yang melihat Diana dari jendela.
"Waalaikumsalam," jawab Diana.
"Ayo kak kita lari pagi, kan tidak ada kak Hafiz di rumah. Kata Mama nanti setelah lari pagi kakak sarapan di rumah aja," ucap April lagi.
Diana tampak berpikir sejenak, tidak ada salahnya menerima tawaran April hitung-hitung untuk menghilangkan kan rasa jenuh di hatinya. Ia pun bergegas ikut dengan rombongan teman-teman April untuk melaksanakan aktivitas mingguan lari pagi keliling kampung. Matahari pun mulai terbit. Mereka kembali ke rumah bibi Farida.
"Kalau kamu kesepian nanti malam tidur di sini aja lah Diana," ucap Bibi.
"Enggak kok bi, gak apa-apa di rumah. Ana berani kok Bi," jawab Diana.
"Hafiz sudah memberi kabar?" tanya bibi.
"Sudah kok bi, tadi malam," jawab Diana.
"Ayo kita sarapan, April....sudah selesai belum. Ayo sarapan dulu," teriak bibi pada anak semata wayangnya itu.
"Iya ma, bentar lagi selesai," jawab April dari kamar.
Di meja makan sudah tertata rapi beberapa menu makanan. Ada sayur lodeh, tempe bacem dan sambal udang. Diana sama sekali tidak tertarik dengan menu itu, terlebih lagi dia alergi terhadap udang.
"Biasanya ini menu kesukaan Hafiz, dia sangat lahap makan kalau ada sayur lodeh dengan tempe bacem apalagi sambal udang," bibi bercerita.
__ADS_1
Oh...jadi kak Hafiz suka sayur lodeh. Diana
"Oh iya, kata Hafiz kamu nggak bisa makan udang ya Diana?" sambung bibi lagi.
"Iya Bi, mungkin kondisi hormonal yang gak stabil jadi alergi nya masih mau kambuh," jawab Diana.
Setelah April dan ayah nya datang, akhirnya mereka pun makan bersama. Suasana makan tampak hening. Diana makan dalam jumlah yang sangat sedikit. Ia masih tidak berselera. Sesekali ia memandang ke arah ponsel seperti menunggu kabar dari seseorang. Bibi dapat membaca gerak-geriknya. Tak lama kemudian ponsel milik Diana pun berdering. Ia tampak gembira, namun ketika melihat nama di layar ponsel ia kembali lemas. Ternyata bukan yang ia harapkan, namun ia tetap mengangkatnya dengan malas.
"Assalamualaikum," ucap Diana saat mengangkat ponselnya.
Ternyata yang menelepon adalah mama Diana. Setelah berbicara beberapa menit, Diana kembali membantu bibi membereskan meja makan. Bibi dapat membaca gerak-gerik Diana yang nampak tidak bersemangat. Diana mencuci piring di wastafel, tiba-tiba ponselnya berdering membuat Diana terkejut dan menjatuhkan oiring.
Pyarrrrr......
.
.
.
.
.
.
.
Alhamdulillah....
author udah punya ponsel baru.
Mudah2an bisa melanjutkan cerita ini sampai akhir.
Terimakasih untuk semua pembaca setia.
__ADS_1
Maafkan typo dimana2 yah!!!