
Pyarrrr....
Piring yang dipegang oleh Diana jatuh dan serpihan kacanya mengenai tangan dan kaki Diana. Ia pun meringis kesakitan saat tangan dan kakinya terluka. Dengan sigap ia membereskan serpihan kaca yang berserakan di lantai. Bibi Farida pun ikut panik melihat kejadian itu.
"Kamu kenapa Diana? Sudah...sudah tidak apa-apa biar April yang melanjutkan," ucap Bibi khawatir.
"Maaf ya Bi gara-gara kecerobohan Ana piringnya jadi pecah," ucap Diana penuh penyesalan.
"Iya tidak apa nak, kamu istirahat saja Bibi lihat kamu kurang sehat," ucap Bibi.
Diana segera membersihkan luka di tangan dan kaki nya, lalu mengobati nya dengan obat luka. Setelah itu ia duduk di kamar April. Lalu ia tiba tiba mengingat ponsel nya yang berdering tadi. Diana kembali ke dapur untuk mengambil ponsel miliknya. Dilihatnya di layar ponsel tertera panggilan tak terjawab dari suaminya. Ia melihat jam telah menunjukkan pukul 9 pagi, pasti saat ini Hafiz tengah sibuk di ruangan diklatnya. Diana pun mengurungkan niatnya untuk menghubungi Hafiz. Ada rasa penyesalan di dalam hatinya karena tak sempat mengangkat telepon dari suaminya. Padahal betapa ia merindu dengan suara lembut suaminya.
Diana mengetikkan sebuah pesan yang yang akan dikirimkan kepada hafidz.
Maaf kak, tadi sedang mencuci piring di rumah bibi. Diana
Dengan penuh harap Diana menantikan balasan pesan dari suaminya. 1 menit 2 menit hingga 1 jam namun tak juga ada tanda-tanda Hafiz akan membalas pesannya. Diana begitu gelisah, rasa rindu begitu membuatnya lemah. Sehingga untuk menyuapkan nasi ke dalam mulutnya saja ia tak kuasa. Apa ini yang dinamakan cinta? Sepertinya Diana belum benar-benar menyadarinya. Rasanya ia seperti ABG yang sedang berbunga-bunga. Hahaha....
*******
Di tempat yang berbeda Hafiz memegangi ponselnya mencoba menghubungi Diana untuk mendengar suara merdu milik istrinya itu. Rasanya iya ingin sekali segera kembali kerumah untuk memeluk erat istri kesayangannya itu. Satu panggilan tidak diangkat oleh Diana membuat Hafiz menjadi semakin resah, jam menunjukkan pukul 8. Hafiz segera masuk ke dalam ruangan, semua peserta wajib mematikan ponsel. Ia pun menghela nafas panjang. Ada sedikit kecewa di hatinya karena tidak bisa mendengar suara istrinya.
Jam makan siang, semua peserta diklat menuju kantin untuk melaksanakan makan siang bersama. Hafiz segera mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menyalakannya kembali. Masuklah sebuah pesan singkat yang dikirim oleh Diana. Lalu ia pun tersenyum.
"Senyum senyum sendiri ntar kesambet loh...", ledek Raihan teman sejawat Hafiz yang berasal dari kota yang berbeda.
"Begini lah pak, baru sehari saja rasanya saya sudah rindu rumah," ucap Hafiz jujur.
"Rindu rumah atau rindu sama yang di tinggal rumah?" canda Raihan lagi yang sebenarnya seumuran dengan Hafiz namun belum menikah.
"Bisa aja pak Raihan, ngomong-ngomong Pak Raihan sudah mapan kok belum menikah? maaf ya kepo saya", tanya Hafiz.
"Belum ketemu jodohnya Pak," jawab Raihan singkat.
"Belum ketemu jodoh atau bapak yang terlalu pilih-pilih", canda Hafiz pula.
"Sebenarnya yang mencoba mendekati saya sudah banyak Pak, apalagi setelah tahu saya sudah pegawai begini. Tapi belum ada yang kena di hati Pak, semua biasa aja", jelas Raihan.
"Ta'aruf aja dulu Pak, kalau soal cinta...nanti setelah berumah tangga cinta itu bisa datang dengan sendirinya, insya Allah", ucap Hafiz.
__ADS_1
"Jadi ceritanya berbagi pengalaman pribadi ini Pak", ucap Raihan.
"Bisa dikatakan begitulah Pak", jawab Hafiz.
Akhirnya terjadi perbincangan panjang antara mereka berdua sambil menikmati makan siang di kantin itu. Setelah makan siang jadwal pembelajaran kembali, mereka kembali masuk ke dalam ruangan hingga sore hari pukul 6.
*********
Sesibuk apa sih sehingga tidak bisa membalas pesanku. Diana.
Sore hari Diana kembali ke rumah, ia tak bisa tidur selama di rumah bibi. Akhirnya April ikut kerumah Diana untuk menemani nya tidur malam ini. Diana pun mulai menyibukkan dirinya dengan membersihkan rumah dan melakukan pekerjaan lain nya. Untuk melupakan segala keresahan dan kerinduan di hatinya yang sebenarnya belum benar-benar ia sadari. April sesekali ikut membantu Diana.
"April, bantuin kakak yuk!" Diana memanggil April dari dalam kamarnya.
"Iya kak, mau ngapain kak?" tanya April.
"Mau ganti suasana baru aja, bosan," ucap Diana.
"Trus yang mau di rubah posisi nya yang mana nih, bukan nya barang barang dikamar ini berat ya kak? Apa bisa kita berdua?" ucap April yang tak yakin mereka bisa melakukannya.
"Kalau tempat tidur sama lemarinya biarin aja di situ, kakak cuma mau nambahin beberapa aksesoris aja sih di dalam kamar ini supaya kelihatan lebih fresh gitu," ucap Diana.
Diana mengumpulkan barang-barang milik Hafiz yang disimpan di sebuah kardus besar. Ia ingin melihat apa saja barang yang ada di dalam kardus tersebut untuk memastikan apakah barang itu masih digunakan atau tidak. Ternyata didalamnya terdapat banyak buku-buku pelajaran semasa Hafiz sekolah. Hafiz memang tidak pernah membuang buku pelajarannya semasa ia sekolah dulu, semua masih tersimpan rapi di dalam kardus itu. Tentang apa alasannya masih menyimpannya buku-buku lawas itu mereka pun tidak ada yang tahu. Diana melihat kardus yang lain dan membukanya, di dalamnya terdapat banyak album-album foto lama yang sudah usang. Beberapa foto sudah tidak terlihat jelas lagi. Sampai Diana tertegun melihat sebuah buku yang berisi foto-foto dirinya bersama Hafiz waktu mereka baru berkenalan dulu. Sebenarnya foto itu bukan foto asli namun sudah editan, masing-masing foto berada di tempat yang berbeda namun disatukan oleh Hafiz melalui teknologi komputer. Diana tertegun melihatnya, ternyata suaminya punya bakat tersimpan.
"Bagus ya kak, foto editan nya kak Hafiz", ucap April.
"Iya", jawab Diana singkat.
Diana memasang foto itu pada sebuah bingkai dan meletakkannya di atas nakas yang berada di dalam kamar.
"Kak, boleh tanya sesuatu tidak?" ucap April.
"Ya, apa?" Diana masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Apa kakak tidak rindu di tinggal kak Hafiz? Katanya kak Hafiz akan pergi selama seminggu", ucap April.
"Kamu ini masih kecil udah ngerti soal rindu", ucap Diana sambil tertawa.
"Ish....kakak...Aku udah besar tau", ucap April sambil mengaktifkan record di ponsel nya.
__ADS_1
"Hm.....jadi kamu mau tau yang sebenarnya? Tapi janji bisa jaga rahasia ya," ucap Diana yang dijawab anggukan oleh April padahal ia sedang tidak bisa menjaga rahasia.
"Kakak gak tau sih entah ini rindu atau apa, tapi yang jelas kakak tidak bersemangat untuk melakukan apapun selama kak Hafiz nggak di rumah. Dan rasanya ingin sekali mendengar suaranya setiap malam menjelang tidur, tapi sayang sepertinya kakakmu itu tidak merasakan hal yang sama dengan kakak. Buktinya aja pesan kakak tadi pagi tidak dibalas cuma di-read doang", ucap Diana terdengar nada kekecewaan.
"Kak, kata kak Hafiz kita itu nggak boleh suuzon. Mungkin kak Hafiz membuka pesan kakak di tengah-tengah kesibukannya, atau mungkin saat sedang belajar atau Diklat gitu.... sehingga enggak memungkinkan buat dia balas pesan kakak. Ya kan...?!" ucap April.
"Astagfirullah....iya kamu bener. Makasih ya dek, terkadang pikiran mu bisa dewasa juga, hahaha," ucap Diana sambil memencet hidung April.
"Ish....kakak..." ucap April sambil memegang hidung nya.
Diam diam tanpa sepengetahuan Diana April mengirimkan audio record tadi ke ponsel Hafiz. Kejahilan April memang terkadang membawa berkah, iya senyum-senyum sendiri.
Pukul 6.00 sore hari. Proses pembelajaran selesai, Hafiz dan yang lainnya kembali ke kamar masing-masing. ia melihat sebuah pesan masuk dari nomor April. Ada sebuah audio record yang dikirimkan oleh April. Hafiz memutarnya nya sambil melepaskan pakaian kerjanya, ketika mendengar suara Diana Hafiz pun menghentikan aktivitasnya. Lalu ia mulai tersenyum. Ternyata Diana merasakan apa yang dirasakannya, mereka saling merindukan satu sama lain. Namun masih ada rasa gengsi untuk mengungkapkannya.
.
.
.
.
.
.
.
Hallo readers...
maaf ya kalau ceritanya monoton.
Tapi cerita ini tidak lama lagi akan saya tamatkan, setelah penantian Diana terwujud pastinya.
Dan....saya memang selalu berusaha buat ceritanya happy ending.
Gak suka yg sad ending guys....
cukup kehidupan aja yg sedih, cerita novel nya jangan....😃😃😅
__ADS_1