
Diana tampak sibuk mengemas semua perlengkapan nya ke dalam sebuah koper. Hari ini Hafiz mengajaknya untuk pindah ke rumah Hafiz.
"Bagaimana sayang? Apa semua sudah siap?" tanya Hafiz memastikan.
"Nama ku Diana kak," jawab Diana kesal.
"Aku tentu harus mempunyai panggilan yang berbeda dari yang lain kan. Di luar sana banyak istri yang merindukan panggilan sayang dari suami loh, masa kamu di panggil sayang gak mau," tambah Hafiz lagi.
Yah....dia mulai berdakwah... Gumam Diana dalam bisu.
Akhirnya semua terselesaikan. Diana dan Hafiz pun berangkat menuju rumah Hafiz, lebih tepatnya rumah yang di sewa oleh Hafiz selama satu bulan ini yang letaknya tidak jauh dari rumah bibi Farida. Mereka di antar oleh sepupu Hafiz yang memiliki kendaraan roda empat. Hanya 5 menit dari rumah Bibi Farida, rumah Hafiz mulai terlihat. Saat mobil itu masuk ke sebuah halaman, Diana merasa sangat heran dengan pemandangan yang ia lihat. Rumah yang di maksud oleh Hafiz ternyata tak seindah yang ia bayangkan.
Hafiz mulai menurunkan semua barang barang bawaan Diana. Ia pun mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya dan membuka pintu rumah itu. Diana masih dan tak menyangka. Tatapan nya mulai berkeliling.
Ya Allah....
cobaan apa lagi ini? Ini rumah atau gudang sih? Apa aku harus tinggal di sini selamanya? Diana mulai bertanya tanya di dalam hatinya.
Hafiz memandangi wajah Diana yang tampak murung. Sepertinya ia sudah bisa membaca apa yang sedang di pikirkan Diana.
Maafkan aku sayang, ini hanya sementara saja. Ucap Hafiz dalam hati.
"Ayo masuk, kenapa berdiam disitu?" Hafiz membuyarkan lamunan Diana.
Diana langsung melangkah masuk menuju kamar yang di tunjukkan oleh Hafiz. Mata nya langsung tertuju pada kasur kecil yang berukuran 4 kaki yang ada di kamar itu. Kemudian ia menyapu pandangan nya ke sekeliling kamar, dilihatnya dinding yang terbuat dari bambu yang dinamakan tepas itu sudah tak bercat lagi. Belum lagi banyak lubang lubang kecil di sekeliling dinding itu.
Ya Allah...
Haruskah aku bersabar dengan situasi ini. Suara hati Diana yang ingin sekali menangisi nasibnya itu.
"Kak, Diana mau ke kamar mandi," ucap Diana yang sudah tak dapat menahan kesedihan nya namun ia tetap terlihat biasa di depan Hafiz.
__ADS_1
"Oh, ayo ku antar," Hafiz menuntun Diana menuju dapur lalu membuka pintu dapur.
Diana kembali terbelalak saat menyaksikan ternyata kamar mandi yang ada di rumah itu berada di luar. Ia menutup mata nya perlahan untuk memastikan bahwa semua yang ia alami hanya lah sebuah mimpi buruk. Namun setelah ia membuka mata, ternyata yang ia lihat masih sama. Tanpa ia sadari, air mata nya pun meluncur dengan sendirinya. Seketika itu pula Diana langsung menghapus air mata nya karena tak ingin Hafiz melihatnya.
"Diana gak jadi ke kamar mandi deh kak," ucap Diana ragu pada Hafiz.
"Kenapa? Ayo biar aku temani," ucap Hafiz sambil menarik tangan Diana, namun Diana segera menepis tangan Hafiz.
Kemudian Diana pergi meninggalkan Hafiz dan masuk ke dalam kamar. Ia langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Lalu air mata itu pun tumpah dan tak lagi bisa terbendung.
Ini bukan mimpi. Juga bukan cerita novel yang isinya menceritakan gadis miskin dengan pria kaya. Ini kehidupan dunia yang sebenarnya yang mungkin tak akan pernah diceritakan dimanapun. Bahkan ini lebih buruk dari rumah Oma. Apa benar ini takdir yang harus ku jalani? Diana terus menerus mengumpat dalam hati.
Flash back On
"Apa kamu yakin nak tidak akan apa apa?" tanya bibi Farida pada Hafiz.
"Mudah mudahan tidak Bi, Hafiz cuma ingin melihat ketulusan hati Diana," jawab Hafiz.
"Tapi dia sudah menjadi istri mu nak, bagaimana jika suatu hari nanti dia mengetahui nya dan akan marah padamu?" ucap Bibi Farida mencoba mengingatkan Hafiz.
"Trus rumah kamu gimana nak?" tanya Bibi Farida lagi.
"Bibi tenang aja, nanti Hafiz minta tolong Ibnu buat ngurus rumah," jawab Hafiz santai.
Sebelum Hafiz melamar Diana, ia merencanakan untuk membangun sebuah rumah yang sederhana untuk mereka. Karena rumah peninggalan ayahnya sudah sangat tidak layak untuk di huni. Namun ia tidak memberitahukan pada Diana tentang itu. Hafiz hanya ingin melihat bagaimana kesabaran Diana menghadapai semua kesulitan yang akan mereka lalui.
*********
Hujan turun sangat deras malam ini, petir menggelegar. Diana merasa sangat ketakutan. Hafiz belum juga pulang dari Musholla mengajar ngaji. Sementara Diana hanya sendirian di dalam rumah. Saat ia hendak keluar dari kamar, ia melihat sekeliling ruang tamu sudah dipenuhi oleh tetes air hujan.
"Astagfirullohaladzim....," Diana bergegas ke dapur untuk mengambil ember dan menampung tetes air hujan yang jatuh ke lantai.
__ADS_1
"Ya Allah.. kuatkan lah hamba Mu ini," ucap Diana sambil meneteskan air mata.
Tak lama kemudian Hafiz pulang dengan keadaan pakaian nya yang sudah basah kuyup. Diana yang menyadari kedatangan Hafiz segera membuka pintu dan mengambilkan handuk untuk nya.
"Assalamualaikum," ucap Hafiz masih berdiri di depan pintu.
"Waalaikumsalam, ini kak handuknya. Kakak mandi dulu aja ya, takutnya ntar sakit," ucap Diana sambil memberikan handuk pada Hafiz.
Hafiz mengambil handuk yang diberikan Diana, lalu matanya tertuju pada ember ember yang ada di ruang tamu. Ia melihat sekeliling atap rumah tua itu, ternyata keadaan rumah itu sudah sangat tua. Lalu ia kembali menatap Diana.
"Maaf ya, rumah kita bocor," ucap Hafiz lirih.
"Kenapa kakak harus meminta maaf. Di luar sana bahkan banyak orang yang masih tak mempunyai tempat tinggal," ucap Diana polos. "Sudah kak, buruan mandi," ucap Diana lagi padahal saat itu hatinya benar benar merasa sedih.
Hafiz pun segera ke kamar mandi. Tak lama kemudian hujan pun mulai reda, Diana sangat lega karena air hujan tak lagi menetes di dalam rumah. Hafiz dan Diana lalu melakukan sholat maghrib berjamaah. Lalu mereka pun makan bersama. Hari ini adalah hari pertama Diana memasak untuk Hafiz.
"Maaf kak, Diana belum terbiasa memasak dengan menggunakan kayu bakar. Jadi mungkin ada masakan yang sedikit gosong karena api yang terlalu besar tadi," ucap Diana sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa harus minta maaf, harus nya aku yang minta maaf karena belum bisa menyediakan peralatan masak yang lengkap untuk mu," ucap Hafiz.
Mereka pun mulai makan. Hafiz makan dengan menggunakan tangan nya langsung, sementara Diana masih dengan kebiasaan nya menggunakan sendok dan garpu. Diana memperhatikan Hafiz yang makan dengan lahap. Sebenarnya ia ingin bertanya, tapi ia urungkan niat nya sampai Hafiz selesai makan.
"Apa rasanya enak kak?" tanya Diana ragu.
"Sangat enak. Kamu pintar memasak," pujian Hafiz membuat Diana tersipu malu.
"Ehm...kak, boleh tanya sesuatu gak?" tanya Diana polos.
"Boleh, tanya apa?" ucap Hafiz.
"Apa rumah ini sudah lama ya? Kok gak di renovasi sih kak?" tanya Diana selembut mungkin agar tak menyinggung perasaan Hafiz.
__ADS_1
"Ini kan rumah sewa, yah gak mungkin kita yang renovasi rumah ini," jawab Hafiz.
Astaga....Apa dia tidak punya uang untuk menyewa rumah yang lebih baik dari ini? Ya Allah....kuatkan hamba Mu ini dalam menerima cobaan hidup ini ya Allah... Diana serasa sesak dan ingin menangis, namun ia masih berusaha menutupi kesedihannya di depan Hafiz.