
Sudah 4 hari Diana dan Hafiz berada di rumah Mia, ibunda Hafiz. Besok mereka akan kembali ke rumah. Mia menyiapkan buah tangan yang akan mereka bawa. Diana menghampiri mertuanya yang sebenarnya tak pernah bersikap baik padanya. Namun ia tetap menghormati mertua nya itu.
"Ini apa ma?" tanya Diana selembut mungkin.
"Oleh oleh untuk kalian bawa, nanti berikan sama bibi Farida," ucap Mia ketus.
"Oh iya ma, terimakasih," ucap Diana lagi.
"Gak usah mencari perhatian ku. Pergi sana!" usir Mia pada Diana.
Diana beranjak pergi, namun sebelum ia benar benar meninggalkan mertuanya itu, ia kembali menoleh kebelakang dan berbicara.
"Ana sama mama, kita sama sama perempuan. Dan mama juga punya anak perempuan. Semoga Allah selalu melindungi kita sesama perempuan ma," ucap Diana sambil berlalu pergi.
"Dasar menantu kurang ajar, berhijab tapi mulutnya itu loh. Berani sekali dia berkata seperti itu, huft...." Mia mendengus kesal mendengar ucapan Diana.
Di teras rumah, tampak Yana sedang duduk bersama kakak nya. Diana melihat keakraban antara kakak adik itu. Ia pun mengurungkan niat nya untuk bergabung dengan mereka karena takut akan merusak suasana, pasalnya Yana adik Hafiz tidak begitu menyukai Diana. Yah...karena hasutan dari Mia. Diana kembali ke kamar untuk mengecek barang barang yang akan ia bawa esok hari.
Anita masuk ke dalam kamar Diana tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Diana menghela nafas melihat tingkah sepupu suami nya itu.
"Apa gadis secantik kamu tak punya sopan santun? Tak bisa kah mengetuk pintu terlebih dahulu?" ucap Diana sembari memperbaiki hijab yang ia kenakan.
"Suka suka aku dong, kenapa kamu sewot. Ini rumah Tante ku," ucap Anita ketus.
"Ada apa kamu kesini?" tanya Diana sudah tak sabar ingin mengetahui tujuan Diana masuk ke dalam kamar nya.
"Aku mau ikut tinggal di rumah Kak Hafiz yang baru. Bisa dibilang ngekost lah gitu. Soalnya tempat kerja ku dekat sama rumah kak Hafiz yang baru," ucap Anita yang membuat Diana bingung.
Rumah baru? Oh iya, aku lupa belum sempat menanyakan soal itu sama kak Hafiz. Diana.
"Hei, denger gak sih aku ngomong?" Anita membuyarkan lamunan Diana.
"Trus....?" Diana tak melanjutkan pertanyaan nya.
"Yah, pokok nya aku tinggal sama kalian," ucap Anita.
"Trus, buat apa ngomong ke aku. Kan itu bukan hak ku, toh kamu bukan meminta izin pada ku. Tapi lebih tepat nya langsung memberikan pernyataan... " ucap Diana penuh penekanan.
Anita tak percaya dengan ucapan Diana, ternyata Diana sudah berani menjawab kata kata nya. Diana juga terlihat lebih santai menghadapi tingkah Anita yang makin lama makin menyebalkan saja.
"Sayang, kamu disini rupanya. Ayo kita pergi cari oleh oleh buat orang di kampung,"ajak Hafiz.
__ADS_1
"Tapi mama sudah nyiapin oleh oleh kak," ucap Diana.
"Kalau gitu, ayo kita pergi jalan jalan sebentar sebelum pulang!" ajak Hafiz.
"Aku ikut ya kak," pinta Anita.
"No...Kalau kamu mau pergi, ajak aja Yana atau Rina," ucap Hafiz yang tak ingin Anita merusak suasana romantis mereka berdua.
"Pelit banget sih," ucap Anita sambil menghentakkan kedua kaki nya dengan kasar dan berlalu pergi meninggalkan Diana dan Hafiz.
*********
Sebuah taman bunga, dimana pintu masuk nya dipenuhi dengan bunga Bougenvile yang berwarna warni berbentuk hati. Membuat setiap orang yang baru berdiri di depan pintu masuk saja sudah merasakan kesejukan yang mendalam. Diana memang sangat menyukai bunga, ia tampak sangat antusias untuk menjelajahi tempat itu. Hafiz mengikuti langkah Diana yang sudah lebih dulu mendahului nya. Diana berlari lari kecil seperti bocah balita, menyusuri jalan jalan yang di penuhi bunga Tapak Dara berwarna warni. Lalu masuk ke taman inti yang ada di tempat itu.
"Masya Allah....Subhanallah....walhamdulillah....wa La ila ha illallah....Allahuakbar...." Diana tak henti henti nya memuji ciptaan sang pencipta itu.
"Kamu suka tempat ini sayang?" tanya Hafiz.
"Sangat suka kak. Jazakallah khoiro...." ucap Diana sambil menggenggam erat tangan Hafiz.
"Aamiin....Kalau kamu suka, berarti....besok aku boleh minta hadiah dong," goda Hafiz.
Hafiz hanya tersenyum sambil bermain mata untuk menggoda Diana.
"Ih....kakak...." Diana mencubit pinggang Hafiz.
Tawa canda itu pun hanyut begitu saja. Dunia serasa milik mereka berdua kala itu. Tampaknya mulai tumbuh benih benih cinta di hati mereka berdua. Diana dan Hafiz berkeliling tempat itu dengan santai. Sampai akhirnya mata Diana melihat sosok seseorang yang tak asing baginya. Pria berpostur tinggi dengan kemeja lengan panjang berwarna abu. Pria itu sedang membeli sebuket bunga mawar merah. Diana masih memperhatikan pria itu tanpa sepengetahuan Hafiz.
Astagfirulloh.... Mas Andre....Diana.
"Sayang, ayo kita lanjut lagi!" ucap Hafiz sambil menarik tangan Diana membuat Diana terkejut.
"Ah....iya kak, maaf," ucap Diana.
Tiba tiba Hafiz mengajak Diana ke tempat dimana Andre berdiri. Hafiz memegang sebuket bunga mawar yang ada disana. Lalu Andre melihat ke arah Hafiz. Andre menatap Hafiz lama, dan mengalihkan pandangan nya pada Diana. Diana menatap ke arah lain dan memperbaiki penutup wajah nya.
"Apa kabar Pak Hafiz?" ucap Andre menyapa Hafiz yang ia ingat adalah guru Miko adik nya.
"Ah....ia alhamdulillah saya baik. Masya Allah...kok bisa ada disini? Kakak nya Miko kan?" ucap Hafiz, Andre pun mengangguk kecil.
Mereka pun terlibat dalam perbincangan kecil. Sebenarnya, Andre tidak tau kalau yang menikah dengan Diana adalah Hafiz. Karena sebelum pernikahan nya, Andre sudah dipindah tugas kan ke luar daerah yang ternyata tempat dimana orang tua Hafiz tinggal. Diana yang berada di antara mereka hanya melihat lihat bunga tanpa ikut dalam perbincangan mereka karena ia tidak mau Andre mengenalinya.
__ADS_1
"An, ini untuk kamu," ucap Hafiz sambil memberikan sebuket bunga mawar itu pada Diana.
"Iya kak, terimakasih..." ucap Diana.
Andre langsung menoleh pada Diana. Ia merasa tak asing dengan suara itu. Tak sengaja mata mereka bertemu, Diana langsung mengalihkan pandangan nya.
"Kak, Ana pusing. Ayo kita pulang," ajak Diana pada Hafiz.
Hafiz pun segera menuruti permintaan istrinya itu tanpa banyak bertanya. Andre menyadari bahwa wanita yang ada di hadapan nya adalah Diana, cinta lama nya. Andre dengan tergesa mengejar Diana dan Hafiz.
"Tunggu," ucapan Andre berhasil menghentikan langkah kaki mereka.
"Ya, ada apa mas Andre?" tanya Hafiz dengan sopan.
"Jadi istri pak Hafiz ini Diana?" Andre ingin memastikan.
"Ya," jawab Hafiz singkat.
"Maaf beribu maaf ya Pak Hafiz. Boleh saya bertanya sesuatu pada Diana?" Andre meminta persetujuan Hafiz dan Hafiz pun mengizinkan.
"Diana, apa kabar mu? Bagaimana dengan keadaan anak kita?" ucap Andre yang sengaja ingin menimbulkan fitnah pada Diana.
"Apa maksud perkataanmu Mas?" tanya Diana yang tak mengerti dengan kata kata Andre.
"Kamu tentu masih ingat kan kejadian waktu itu?" ucap Andre lagi semakin menyudutkan Diana.
Diana segera menarik tangan Hafiz untuk meninggalkan tempat itu. Andre tersenyum puas karena berhasil menimbulkan huru hara di antara mereka.
Selama perjalanan, Hafiz dan Diana hanya membisu. Tidak ada perbincangan apapun yang keluar dari mulut mereka. Hafiz tak ingin terlalu menggebu dalam menyelesaikan suatu masalah. Terlebih lagi, ia mengetahui bahwa Andre adalah pria yang hampir mencelakai Diana. Hafiz memilih diam, sampai mereka tiba di rumah mereka nanti. Mengingat ia masih akan tidur satu malam lagi di rumah mama nya. Ia tak mau mama mengetahui ada perselisihan antara mereka.
*
*
*
*
*
Happy reading!!!
__ADS_1