
Hafiz melihat jam, ia masih menunggu kedatangan Fadhil. Ketika ia hendak menelpon, ternyata Fadhil mengirim pesan terlebih dulu ke ponsel milik Diana.
Maaf pak, mungkin saya akan terlambat membawakan pesanan pak Hafiz, di depan ada insiden tabrak lari. Saya menolong nya terlebih dulu. Mas Fadhil.
Hafiz dengan seksama membaca pesan yang dikirimkan oleh Fadhil. Setelah selesai membaca pesan itu, rasa penasaran pun mulai berkecamuk di pikiran nya. Tentang bagaimana bisa nomor ponsel Fadhil sudah ada di ponsel milik istrinya itu. Hafiz mendekati Diana yang baru selesai mandi.
"Sayang, boleh tidak aku tanya sesuatu?" ucap Hafiz sambil menuntun istrinya untuk duduk di samping nya.
"Kenapa harus minta izin kak, emang mau tanya apa sih?" ucap Diana penasaran.
"Ehm, kamu kenal ya sama Fadhil?" pertanyaan Hafiz membuat mata Diana terbelalak kaget. Ia bingung harus menjawab apa.
"Oh...Iya. Aku kenal kak. Aku pernah bekerja di tempat mas Fadhil bekerja," ucap Diana lagi.
"Hanya sebatas teman kah?" selidik Hafiz mulai curiga.
"Ehm...Iya, hanya teman," jawab Diana singkat dengan sedikit gugup.
"Lalu, kenapa kamu tidak menyapa nya bila memang mengenalnya?" jiwa detektif Hafiz meronta.
"Aku tidak yakin dia mengenaliku kak, kan aku pakai penutup wajah," ucap Diana berhasil mengalihkan.
"Benar juga sih..." Hafiz mulai percaya.
"Lagian, tidak begitu penting bagiku kak. Canggung rasa nya berbincang dengan pria yang bukan muhrim," tambah Diana lagi.
Seketika Hafiz menarik tubuh Diana dan mengurungnya dalam dekapan tangan Hafiz. Wajah nya dengan Diana sudah sangat dekat, hanya berjarak beberapa centi saja membuat jantung Diana seakan mau loncat.
"Kak...." Diana menatap suami nya dengan kelembutan.
"Ya sayang....," Hafiz memeluk erat tubuh Diana. Aroma bunga sakura begitu menusuk ke rongga hidung nya, membuat jiwa lelaki nya meronta.
"Dalam suatu hubungan, kita harus saling percaya satu sama lain. Agar kita kuat dalam menghadapi apapun yang akan datang menerpa rumah tangga kita," ucap Diana lirih.
Cup....Hafiz mengecup kening Diana dengan lembut.
"Dulu memang mas Fadhil pernah menyukai ku, tapi sekarang aku dan semua yang ada di diriku adalah milikmu kak. Hanya untuk mu seorang," Diana menengadah kan kepala nya untuk menatap mata Hafiz.
"Yah....Semoga dia segera mendapatkan jodohnya. Uhhibba ilaika...Cup..." lagi dan lagi Hafiz mengecup lembut kening Diana membuat nya seakan menjadi wanita paling dicintai di dunia.
__ADS_1
********
Hampir satu jam Hafiz menunggu kedatangan Fadhil, lama kelamaan ia merasa khawatir dengan pria itu. Karena kabar terakhir yang ia tahu bahwa Fadhil menolong seseorang yang menjadi korban tabrak lari. Akhirnya untuk menjawab segala kekhawatiran nya, ia memutuskan untuk menelpon Fadhil menggunakan ponsel Diana karena ponsel nya masih ter carge.
Setelah menghubungi Fadhil dan mengetahui bahwa keadaannya baik baik saja, Hafiz pun menunggu kedatangan nya di dalam kamar. Ia memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu karena waktu ashar akan segera tiba. Saat Hafiz masih berada di kamar mandi, tiba tiba bel pintu berbunyi. Melihat Hafiz yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi, akhirnya Diana memutuskan untuk membukakan pintu dengan terlebih dulu mengenakan hijab lengkap dengan cadar nya.
Saat ia membuka pintu, ia begitu terkejut melihat seorang pria yang dikenalnya sedang berdiri dihadapan nya membawa sebuah bungkusan berisi brownis pesanan Hafiz. Seketika ia menundukkan kepala nya terpaku dalam diam bingung harus melakukan apa.
"Maaf Minny....eh...maksud saya Diana, ini pesanan pak Hafiz," Fadhil menyerahkan bungkusan itu.
Diana spontan terkejut, bagaimana bisa Fadhil mengetahui tentang dirinya, sedangkan ia begitu rapat menutup wajah nya. Diana segera mengambil bungkusan itu dan hendak menutup.pintu dengan cepat, namun tiba tiba Fadhil mengucapkan sesuatu.
"Selamat ya Diana, semoga kamu akan selalu bahagia. Karena kebahagiaan ku adalah melihat mu bahagia," Fadhil pun segera meninggalkan Diana.
Dengan cepat Diana menutup pintu kamar nya dan beristighfar dalam hati. Ia sangat takut melihat pancaran mata Fadhil yang begitu menyedihkan. Ia masih sangat ingat dengan ekspresi terakhir Fadhil saat bertemu untuk terakhir kali nya dulu. Begitu memilukan. Seperti tiada semangat. Namun Diana bersyukur bahwa saat ini Fadhil tetap melanjutkan hidup nya dengan baik. Bekerja dengan baik walaupun saat ini profesi nya sudah berubah, namun kondisi nya masih seperti dulu.
Hafiz keluar dari kamar mandi. Melihat istrinya yang masih terdiam di depan pintu sambil memegang sebuah bungkusan. Tampaknya Hafiz mulai mengerti dengan keadaan itu.
"Sudah datang kue nya sayang?" ucap Hafiz membuyarkan lamunan Diana.
"Eh...Iya Kak...." Diana mendekati Hafiz.
"Apa Fadhil mengucapkan sesuatu?" tanya Hafiz mencari kejujuran di wajah istrinya.
"Lalu, apa yang dia katakan?" tampaknya Hafiz mulai penasaran.
"Dia hanya mendoakan agar kita bahagia," jawab Diana singkat.
"Hanya itu?" Hafiz mulai seperti detektif, Diana menjawab dengan anggukan kecil.
Akhirnya Hafiz tidak lagi mempertanyakan tentang Fadhil. Tak berapa lama, adzan ashar pun berkumandang. Mereka melakukan sholat berjamaah di dalam kamar.
**********
Sore itu Hafiz mengajak Diana untuk berjalan jalan di daerah yang dekat dengan hotel, sambil menunggu matahari terbenam. Mereka berjalan di sekitaran taman hotel yang di penuhi dengan bunga bunga yang saat itu sedang bermekaran. Lalu Hafiz mengajak Diana untuk duduk di sebuah bangku taman sambil menikmati udara segar di sore itu.
"Sayang," Hafiz mulai menggenggam erat tangan Diana.
"Ya kak," sahut Diana mengikuti Hafiz duduk di bangku taman itu.
__ADS_1
"Apakah kau mencintaiku?" tanya Hafiz tanpa menoleh ke arah Diana.
Diana terpaku dalam diam. Dia bingung harus berkata apa. Karena sejujurnya dia juga tak begitu mengerti bagaimana rasa nya mencintai. Yang dia tau saat ini ada rasa nyaman di dalam hati nya ketika bersama Hafiz.
"Hei....kenapa melamun sih...? Jawab dong," ucap Hafiz sambil mencubit hidung Diana.
"Ish....apaan sih kakak..." Diana menyentuh hidung nya.
"Ya sudah, tidak perlu di jawab," ucap Hafiz kemudian tidak ingin merusak suasana.
Hari mulai gelap, matahari mulai masuk ke peraduan nya. Adzan maghrib berkumandang, Hafiz dan Diana kembali ke dalam hotel. Setelah melaksanakan sholat berjamaah, Hafiz mengajak Diana untuk makan malam di restoran hotel, namun dengan lembut Diana menolak nya. Karena ia tidak mau wajah nya di lihat oleh orang banyak. Hafiz pun menyetujui untuk makan malam di dalam kamar saja.
Seorang pelayan membawakan makanan, dan Hafiz yang memilih untuk membawanya sendiri ke dalam kamar. Salah satu menu penutup nya ada lah salad buah, Hafiz memasukkan sesuatu ke dalam nya. Lalu ia tersenyum simpul.
Diana yang telah selesai melipat mukena, membantu suaminya menata makanan di atas meja. Hafiz menatap istrinya dengan maksud tertentu. Lalu ia mendekati Diana dan, membuka ikat rambut yang mengikat rambut panjang nya itu.
"Loh...kak. Kok di buka sih?" Diana terkaget dengan tingkah suaminya itu.
Hafiz menyisir dengan lembut rambut panjang Diana dengan tangan nya, dan menyisipkan anak rambut ke balik telinga Diana. Lalu ia mengecup pipi kanan Diana dengan lembut, membuat Diana membeku seperti es. Hahaha....
Seketika ia menundukkan kepala nya, menahan malu merasakan wajah nya yang telah merona seperti kepiting rebus. Setelah drama beberapa menit itu, mereka pun melanjutkan makan malam itu. Diana mengambil salad buah terlebih dahulu.
"Sayang, kok makan salad sih?" Hafiz menatap istrinya heran.
"Makan buah sebelum makan nasi lebih baik kak," ucap Diana sambil mulai mengaduk aduk salad buah itu.
Saat ia akan menyendokkan ke dalam mulutnya. Tiba tiba Diana melihat ada yang berkilau, dengan rasa penasaran akhirnya ia tidak jadi menyantap nya. Diana semakin mengaduk salad buah itu, dan akhirnya ia menemukan sesuatu. Mata nya terpanah pada benda itu.
"Kak...kak....lihat ini kak....Ini apa kak?" Diana menunjukkan sesuatu itu pada Hafiz, sementara Hafiz tidak terkejut dan malah tertawa kecil.
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
Thanks for u all...