
"Assalamualaikum....", Diana mengangkat ponsel nya.
"Waalaikumsalam. Diana kan?", suara seorang pria dari seberang sana.
"Iya, siapa ya?", tanya Diana tak mengenali suara pria itu.
"Ehm....Diana ini aku Tedja", ucap pria yang ternyata adalah Tedja kakak kelas Diana.
"Oh iya, ada apa kak? Kenapa pakai privat number?" tanya Diana beruntun.
Tedja pun menjelaskan maksud dan tujuan ia menghubungi Diana adalah untuk memberikan nya sebuah informasi yang menurut Tedja Diana akan suka mendengar informasi yang akan di berikan nya. Yaitu informasi tentang akan di adakan nya lomba menyanyi pop di lapangan yang ada di kecamatan tempat Diana tinggal. Diana yang mendengar informasi itu merasa sangat gembira, ia akan berusaha untuk mengikuti kompetisi itu, tentu saja tujuan utama nya hanya lah uang, apa lagi coba? Secara ia memang membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan sekolah nya sehari hari.
************
Hari ini siswa siswi hadir ke sekolah untuk menerima rapot hasil dari belajar mereka selama satu semester ini. Pembagian hadiah peserta lomba juga akan di umumkan di apel pagi. Diana sangat bersyukur kala itu, dimana namanya di sebut sebagai sang juara membaca dan menulis puisi karya sendiri. Ia menerima hadiah berupa bingkisan dan amplop yang diberikan oleh kepala sekolah dengan senang hati. Senyum indah terus mengukir di wajah nya. Membuat salah seorang pemuda di dalam barisan memperhatikan nya tanpa berkedip.
"Woy.....ngelamun aja. Ntar kesambet", goda Riko teman Tedja.
"Apa sih, lu ganggu kesenangan orang aja", Tedja tetap melihat ke arah depan.
Riko tak habis pikir melihat tingkah sahabat nya yang sedang jatuh cinta itu.
Setelah acara pengumuman pemenang lomba selesai, barisan dibubarkan dan para siswa masuk ke dalam kelas mereka masing masing untuk menerima rapot mereka. Saat jalan menuju kelas, Tedja sengaja menunggu Diana lewat di depan kelas nya.
"Diana", Tedja menghentikan langkah Diana tempat di hadapannya.
"Ya kak, ada apa?" tanya Diana.
"Selamat ya", Tedja mengulurkan tangan nya.
Diana yang melihat itu seperti enggan untuk menyambut uluran tangan Tedja. Yah wajar saja. Ia hampir tak pernah bersentuhan langsung dengan pria yang bukan muhrim nya. Tedja yang menyadari itu akhirnya menangkupkan tangan nya ke atas dan di balas dengan hal yang sama oleh Diana.
"Terimakasih ya kak", ucap Diana dan langsung berlalu dari hadapan Tedja.
Tedja yang melihat senyum Diana terukir lebar pun ikut tersenyum. Serasa nyaman dan menyejukkan hati nya. Gadis kecil itu sangat susah untuk di usik hati nya. Namun ia tetap bersikap lembut. Kemudian Tedja dan Diana kembali ke dalam ruang kelas mereka masing masing.
__ADS_1
Di dalam kelas Diana. Diana duduk di tempat ia biasa duduk dan belajar. Di dekap nya erat amplop hadiah lomba membaca puisi itu. Dalam hati nya ia sangat bersyukur karena harus membantu adik nya Kevin yang akan melanjutkan sekolah menengah pertama, yang pasti membutuhkan biaya yang sangat besar. Sementara ini belum tanggal nya mama mengirim uang. Teman teman satu kelas Diana pun menghampiri nya dan memberikan ucapan selamat kepada Diana.
"Diana, lihat ini!" Purnama salah seorang siswi teman Diana menghampiri nya dan memberikan sebuah brosur pada Diana.
Diana melihat dan membaca keterangan yang ada di dalam brosur tersebut. Lalu ia tersenyum.
"Oh....aku sudah tau tentang ini dari kak Tedja. Dia kemarin memberitahukan ku tentang kompetisi ini", ucap Diana.
"Jadi deal kita ikut", ucap Purnama bersemangat.
"Ayo...semangat", Diana menyambut teman nya dengan senyum manis.
**************
Hidup Diana memang selalu di kelilingi dengan pemuda pemuda pencari cinta yang selalu ingin mendekati nya, tapi ia selalu saja menolak. Seperti saat ini, ada pemuda lain lagi yang ingin mengenal Diana lebih dekat. Dan dengan percaya diri nya pemuda itu yang ternyata juga kakak kelas Diana menunggu Diana dari gerbang sekolah saat jam pulang sekolah dan menghampiri Diana yang sudah terlihat akan keluar dari gerbang utama.
Rasa ingin tahu dan lebih mengenal Diana kala itu membuang semua rasa malu pemuda itu, Dia bernama Chairuddin. Tapi aneh nya teman teman nya selalu memanggil nya dengan sebutan Iyun. Sama sekali tidak nyambung kan?! Wajah nya tidak terlalu tampan, namun ada lesung pipi yang terukir di kedua pipi nya. Kulitnya yang berwarna kecoklatan dan rambut nya yang sedikit keriting. Hidung nya tidak terlalu mancung, dan senyum yang selalu menampilkan gigi kelinci nya itu yang selalu membuat nya percaya diri untuk mendekati Diana.
Iyun melangkah dengan kepercayaan diri yang tinggi dan menyapa Diana.
"Ada apa yah kak?" Diana sedikit heran. Karena selama ini ia tidak pernah ada urusan dengan kakak kelas nya itu selain untuk urusan OSIS karena Diana memegang jabatan sebagai sekertaris Osis.
"Diana, aku suka sama kamu. Kamu mau gak jadi pacar ku?" ucap Iyun tanpa keraguan, entah apa yang merasukinya.
Diana yang mendengar pernyataan itu merasa aneh. Ya....mungkin karena ia tak pernah memikirkan tentang hal itu. Lalu ia mencari cara bagaimana agar bisa menolak Iyun tanpa harus menyakiti perasaan nya.
"Maaf yah kak. Seperti nya saat ini bersahabat itu lebih baik. Dan Diana gak mau kalau harus mengisi hari hari dengan hal hal yang akan merugikan diri sendiri. Yang nanti nya akan mengganggu konsentrasi belajar Diana. Diana harap kakak bisa mengerti dan akan tetap menjadi teman Diana", ucap Diana lembut yang akhirnya bisa diterima oleh manusia planet di hadapannya itu. Ha hahaha....
Diana Diana...Kenapa hidup mu selalu di penuhi dengan hal hal yang tidak penting. Selalu saja begitu. Hati nya seperti batu, mungkin keadaan yang membuat nya takut untuk mengenal cinta.
"Diana, aku heran melihat mereka itu. Apa tidak ada pekerjaan lain yah selain mengejar ngejar mu", ucap Purnama sambil tertawa.
Hari ini Diana dan Purnama memang memutuskan untuk jalan bersama mencari toko kaset untuk membeli beberapa kaset untuk di dengar sebagai bahan untuk latihan.
"Siapa yang kau maksud?" tanya Diana polos.
__ADS_1
"Siapa lagi, kalau bukan penggemar berat mu itu. Apa perlu aku mengabsen nama nama mereka", ucap Purnama dibarengi dengan tertawa kecil.
Diana yang mendengar kata kata teman nya hanya menanggapi dengan senyuman.
"Mereka itu hanya belum mampu membedakan mana suka mana kagum, aku rasa perasaan mereka ke aku masih pada level kekaguman saja", ucap Diana tegas.
"Ah kau ini, selalu saja begitu. Tapi, ngomong ngomong apa kau tak pernah menyukai lelaki Di?" Purnama kembali menggoda Diana.
"Pertanyaan mu itu tak bertepi tau, yang di maksud menyukai itu yang bagaimana? Apakah suka memandang seseorang yang tampan, apa suka melihat kecerdasannya atau yang lainnya? Kan banyak", tutur Diana lagi.
"Ah....dasar kau ini. Selalu saja mengelak jika di tanya. Aku curiga kau itu tidak normal, hahahaa", Purnama tertawa riang menggoda Diana yang mulai kesal.
"Husss.....sembarangan kau bicara.", Diana menarik sedikit rambut panjang Purnama yang terurai. Ya, Purnama tak seperti Diana yang berhijab.
"Auw.....sakit tau, sialan kau ya", Purnama menggerutu kesal dan berlari mengejar Diana yang tadi menarik rambut nya.
Dan....
Brukkkkk...... Diana yang berlari kecil tak sadar ada orang di depan nya sehingga menabrak orang itu...
*
*
*
*
*
Kira kira siapa ya yang di tabrak Diana.....?????
Kuy.....pantengin terus....jangan lupa like vote nya yah. Ni author kasih Visual Diana yah....Tapi Diana belum mau memperlihatkan wajah nya tuh. hihihi
.
__ADS_1