Hijab Dan Penantian

Hijab Dan Penantian
Kecewa


__ADS_3

Diana tampak sibuk di dalam kamar nya dengan semua pernak pernik dan pita yang akan di jadikan gantungan kunci sebagai cenderamata pesanan Bu Lani untuk acara pernikahan Andre. Kevin masuk ke dalam kamar dan melihat keadaan kamar kakak nya yang berantakan.


"Banyak banget mbak", ucap Kevin.


"Iya dek, alhamdulillah ada pesanan 500pcs", ucap Diana kepada adik nya.


"Apa gak capek mbak?" Kevin menatap bola mata kakak nya yang terlihat lelah.


"Pekerjaan itu kalau di nikmati pasti gak terasa capek dek", ucap Diana sambil menyungging kan senyum manis nya.


Kenapa raut wajah mu selalu begitu mbak? Selalu menyembunyikan kelelahan dan selalu menjadi sosok yang tegar. Aku bangga padamu mbak. Semoga Allah senantiasa melindungi mu. Kevin.


Kevin memang adik yang paling mengerti dengan keadaan Diana. Bahkan ia juga sering membantu Diana mengerjakan pekerjaan rumah. Sayang nya saat itu Kevin bernasib tak beruntung karena emosi nya yang masih labil, ia terjebak oleh pergaulan bebas dan berhenti sekolah sebelum ia tamat SMP. Nasib nya tak jauh berbeda dengan Dimas yang saat ini tinggal di kota. Keadaan ini yang selalu membuat Diana bertekad bahwa ia harus menjadi orang sukses untuk bisa membantu ekonomi keluarga.


Harapan nya satu satu nya adalah Ifan yang saat ini masih kecil dan akan ia perjuangkan agar Ifan dapat sekolah dengan baik dan menjadi orang yang sukses.


Diana masih saja sibuk dengan pekerjaan nya mengukir pita dan mengait pernak pernik gantungan kunci. Dilihatnya jam dinding yang ada di dinding kamar itu, waktu sudah menunjukkan pukul 00.30. Tak lama kemudian Opa masuk ke dalam kamar Diana dan melihat cucu nya yang masih sibuk dengan aktivitas nya.


"Diana, sudah lah. Besok saja dilanjutkan. Apa kamu tidak mengantuk nak?" Tanya Opa yang merasa kasihan melihat cucu perempuan satu satu nya itu.


"Iya Opa, sebentar lagi juga kelar kok", ucap Diana.


Opa pun pergi meninggalkan kamar Diana. Opa adalah sosok laki laki yang sangat penyayang. Opa juga lah yang menjadi pengganti Papa untuk Diana. Sayang nya, mungkin tak semua hal bisa di ceritakan pada Opa atau pun Oma. Diana tetap merindui sosok mereka yaitu mama dan papa yang menjadi penyebab adanya ia di dunia ini.


Hari ini hari minggu, liburan baru dimulai. Diana sudah menerima rapot dan tentu saja ia mendapatkan nilai yang bagus. Hari ini juga Diana berencana membantu Bu Lani untuk persiapan pertunangan Andre. Sebenarnya ia merasa sedikit kecewa, harus datang ke rumah Bu Lani untuk hal yang yah....jujur saja....membuat nya tak enak hati. Bukan karena Diana menyukai Andre, tapi hanya kecewa saja dengan sikap Andre yang begitu mudah melupakan nya. Padahal dulu Andre sangat menunjukkan perasaan suka nya pada Diana. Yah sudahlah, itu tak penting. Menurut Diana hal yang paling penting adalah hari ini ia bisa membantu Bu Lani, dan ia akan mendapat keuntungan dari gantungan kunci yang sudah ditempah oleh Bu Lani.


Diana pun mulai bersiap. Hari ini ia memakai hijab berwarna biru muda, warna favorit Diana dan juga memakai gamis yang senada dengan hijab nya. Tampilan nya begitu simpel namun tetap cantik ditambah dengan wajah polos nya. Diana pun memasukkan semua gantungan kunci yang sudah selesai ia buat ke dalam sebuah keranjang. Diana menghitungnya ulang. Setelah dirasa sudah pas, ia pun bersiap untuk berangkat menuju rumah Bu Lani. Diana meminta adik nya Kevin untuk mengantar kan nya.


Sepanjang perjalanan, Diana tampak murung. Ia bingung, bagaimana dan apa yang harus ia lakukan ketika bertemu dengan Andre nanti. Lalu ia buang jauh jauh kerisauan nya itu, dan menguatkan hati nya untuk tidak terlalu mengambil pusing dengan kejadian ini.

__ADS_1


Tak lama kemudian,mereka pun sampai di depan rumah Bu Lani. Diana terlihat sudah ramai. Ada beberapa mobil yang sudah terparkir. Diana pun segera masuk ke dalam, Kevin pun langsung kembali ke rumah.


"Assalamualaikum", ucap Diana yang langsung disambut oleh beberapa orang keluarga Bu Lani yang ada di depan rumah.


"Waalaikumsalam", mereka menjawab dengan serempak.


"Maaf bu, Bu Lani ada?" Tanya Diana dengan sopan kepada dua orang ibu ibu yang ada di teras rumah.


"Oh, ada nak. Silahkan masuk", ucap salah seorang dari ibu itu.


"Eh Diana, sudah datang. Mari nak masuk!", Bu Lani menyambut kedatangan Diana dengan pelukan hangat.


Deg. Diana. Kenapa dia kesini. Bukankah mama bilang dia sudah tak bekerja disini lagi. Kenapa dia datang. Andre.


Bu Lani menggandeng tangan Diana dan mengajak nya masuk ke ruang tengah yang sudah di penuhi hantaran yang akan di bawa ke rumah calon istri Andre.


"Nah, ini nak. Kamu bisa kan merangkai nya. Ibu dan yang lain nya tidak begitu tau soal begituan, ibu yakin kamu pasti bisa", ucap Bu Lani bersemangat.


"Wah, hebat sekali kamu Diana, bisa menyiapkan hanya dalam waktu satu minggu", ucap Bu Lani sambil membuka dan melihat isi dalam keranjang itu.


Andre yang mengetahui keberadaan Diana di ruang tengah, tak berani keluar dari kamar nya. Seperti nya ia enggan kalau harus menampakkan wajah nya di hadapan Diana. Sementara Diana masih sibuk dengan aktifitas nya, membungkus pakaian, mukena dan lain lain nya yang akan di bawa ke rumah calon istri Andre. Ketika ia sedang asyik dengan pekerjaan nya, tiba tiba terdengar ada seseorang datang dari luar rumah. Bu Lani pun menyuruh nya masuk. Ternyata orang itu adalah fotografer yang sudah di sewa oleh bu Lani untuk mengabadikan momen pertunangan Andre.


Ya, dia adalah Fadhil. Fadhil di ajak masuk ke ruang tengah oleh Bu Lani untuk mengambil beberapa foto bingkisan yang akan mereka bawa ke rumah calon istri Andre.


Ketika masuk ke ruang tengah, Fadhil tersenyum sangat ceria saat melihat gadis berhijab biru muda sosok yang sudah ia kenal itu. Namun Diana tak menoleh sedikit pun pada nya. Ia masih sibuk dengan aktivitas nya yang hampir selesai. Setelah sudah benar benar selesai, ia menghela nafas lega dan menegakkan kepala nya. Sontak Diana terkejut ketika melihat sudah ada orang di hadapan nya.


"Astagfirulloh....Mas, ngagetin aja sih", ucap Diana refleks.


"Kamu sih sibuk aja dari tadi, serius banget sampai gak menyadari ada orang datang", ucap Fadhil dengan senyum nya yang memepesona.

__ADS_1


"Kamu ngapain mas disini?" tanya Diana sedikit heran.


"Nama nya Fadhil Diana, ibu menyewa fotografer handal ini untuk mengabadikan momen hari ini. Editing foto nya Fadhil bagus banget loh Diana, nanti kalau kamu nikah, foto sama dia aja", ucap Bu Lani sedikit berisi canda.


"Diana udah kenal kok bu sama mas ini", ucap Diana lagi.


"Benarkah....Wah bagus donk. Ya udah Fadh, kamu ambil beberapa foto yang bagus yah. Terserah kamu deh gimana, ibu terima beres aja!" Ucap Bu Lani sebelum meninggal kan Fadhil dan Diana.


"Siipp beres buk", jawab Fadhil sambil mengacungkan jempol nya.


Diana yang hendak pergi mengikuti langkah Bu Lani tiba tiba di hentikan oleh Fadhil.


"Kamu mau kemana?" tanya Fadhil.


"Mau bantu bantu bu Lani ke dapur", jawab Diana.


"Trus yang bantuin aku siapa? Kamu harus disini bantu aku ya. Please!" Fadhil memohon kepada Diana.


Diana pun menjawab dengan anggukan ringan. Lalu Fadhil mulai mengambil foto yang sebenarnya bukan bagian dari acara itu, Fadhil menyuruh Diana memegang satu persatu bingkisan itu dan mengambil foto di setiap bingkisan dengan gaya yang berbeda beda. Lalu ia menyuruh Diana menyusun kembali bingkisan parsel itu menjadi satu untuk mengambil foto terakhir.


Padahal sebenarnya, Fadhil hanya butuh dua foto untuk bingkisan itu dan itu pun tanpa Diana, ternyata ia hanya ingin mencari kesempatan saja agar bisa menyimpan lebih banyak foto Diana.


Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 16.00 . Semua persiapan sudah selesai, hanya saja Diana tak melihat sosok Andre sejak ia datang tadi. Diana juga tak berani menanyakan hal itu pada Bu Lani.


"Bu, Diana pulang dulu ya", Diana pun beranjak pamit.


"Loh, Diana kamu gak mau ikut?" Bu Lani mencoba mengajak Diana.


Diana menolak dengan halus ajakan Bu Lani. Ia menyadari status nya yang bukan siapa siapa di keluarga ini.

__ADS_1


"Diana, aku boleh minta tolong gak?" Tanya Fadhil kepada Diana yang sebenarnya hanya ingin mencari kesempatan untuk mendekati Diana.


Minta tolong di kantor polisi kali. Gumam Diana.


__ADS_2