Hijab Dan Penantian

Hijab Dan Penantian
Perpisahan


__ADS_3

Sejak resepsi pernikahan Andre berlalu, hubungan Fadhil dan Diana semakin dekat. Tak jarang Fadhil mengantar kan Diana pulang sekolah, walaupun Diana tak mau di antar sampai rumah karena takut dengan Oma. Sampai pada suatu hari Fadhil mengajak Diana untuk jalan jalan ke Taman bunga, tentu saja dengan Ifan juga, Diana tak akan berani bila mereka berjalan jalan hanya berdua. Ifan yang saat itu masih kelas 2 SD hanya menurut saja dibawa kemana pun oleh kakak nya. Ia merasa sangat senang karena bisa makan dan minum es krim sepuasnya.


"Gimana menurut kamu Minny?" tanya Fadhil di sela sela perjalanan mereka.


"Apa nya mas?" Diana balik tanya.


"Taman bunga nya", jawab Fadhil.


"Bagus", ucap Diana singkat.


Semua obrolan mereka terasa sangat membosankan menurut Diana. Pasalnya, Fadhil selalu saja mengungkapkan perasaannya pada Diana. Waktu demi waktu pun berlalu, tak terasa hari mulai sore. Diana dan Fadhil pun bergegas untuk pulang ke rumah. Ifan masih sibuk dengan cemilan di tangan nya. Sampai akhirnya tepat pukul 17.00 mereka sampai di rumah. Fadhil mengantar kan Diana sampai rumah dan tak langsung pulang. Kalo ini ia ingin sekali mendekatkan diri dengan keluarga iana. Ia pun duduk sebentar di teras rumah untuk beristirahat sejenak.


Oma melihat Fadhil dengan tatapan kurang suka, namun masih bersikap biasa saja di depan nya. Tak lama kemudian Diana keluar dengan membawa segelas teh manis. Lalu ikut duduk bersama Fadhil.


"Mas, boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Diana membuka percakapan.


"Boleh, tanya apa sih?" ucap Fadhil sambil menyeruput teh yang telah dihidangkan untuk nya.


"Ehm, kenapa Mas gak nyambung kuliah?" tanya Diana.


"Mas harus bantu biaya kuliah adik mas, jadi mas gak mungkin kuliah juga", jawab Fadhil jujur.


Entah kenapa jawaban Fadhil sedikit mengecewakan di hati Diana. Ia berharap memiliki jodoh yang baik, yang bisa ia banggakan dan bisa menjadi imam bagi dirinya, sesuai dengan amanah yang pernah disampaikan oleh guru agama nya di sekolah. Bahwa dalam memilih jodoh, lihat lah 4 hal dalam dirinya:


-Paras wajah nya


-Harta yang dimiliki


-Nasab keturunan


-Agama nya (Poin terakhir ini lah yang paling penting, dimana engkau akan bahagia bila memilih calon imam yang bisa membawa mu ke surga yang sesungguhnya) Pesan yang disampaikan oleh guru Diana tempo hari.


Fadhil memang anak yang baik, tapi jujur saja, meskipun Fadhil adalah pria yang tampan dengan tinggi badan yang ideal. Namun, pekerjaan Fadhil yang hanya sebagai fotografer sama sekali tak begitu membuat Diana tertarik, apalagi Fadhil adalah sosok yang tidak terlalu taat beragama. Diana seperti enggan untuk punya hubungan yang lebih jauh lagi. Hanya saja Fadhil yang terus terusan berbuat baik kepada Diana, membuat Diana sedikit tersentuh pada nya.


Setelah Fadhil pulang, Oma pun memanggil Diana.


"Diana, kesini sebentar nak. Oma mau bicara", ucap Oma.


"Ya Oma, ada apa?" tanya Diana yang mulai penasaran.


"Mulai besok jauhi dia!" nada Oma sedikit marah.


Diana mulai tak mengerti dengan apa yang dikatakan Oma, Oma tidak menyukai Fadhil dan menyuruh Diana untuk menjauhi nya, hanya karena feeling. Oh my God. Diana seperti tersambar petir, pasalnya Fadhil selama ini sudah sangat baik pada Diana dan juga adik nya. Bahkan Fadhil tak jarang membawakan buah tangan untuk Oma setiap kali datang ke rumah. Diana tak mengerti dengan sikap Oma, namun ia tetap menurut pada Oma. Oma selalu berpesan, kalau mau hidup bahagia harus mematuhi perintah orang tua. Diana adalah anak yang baik dan selalu berbakti pada orang tua. Ia tak mau berselisih lagi pada Oma, mengingat ia dulu pernah berselisih paham gara gara Faiz yang juga tidak di sukai Oma.


Mas, mulai hari ini jangan pernah datang ke rumah dan jangan dekati aku lagi.Minny

__ADS_1


Pesan singkat yang dikirim kan Diana via sms membuat Fadhil merasa seperti tersambar petir. Dada nya tiba tiba sesak seakan tak ada oksigen yang bisa ia hirup. Ia tak membalas pesan itu, namun setelah pulang kerja ia langsung datang ke rumah Diana untuk meminta penjelasan Diana.


"Minny, jawab sekali lagi. Kenapa Minny tega ngomong seperti itu sama Mas. Apa salah Mas? Jawab Minny jangan diam aja!" Fadhil yang biasa tegar saat itu meneteskan air mata.


Fadhil sangat menyayangi Diana dan rela menunggu sampai Diana tamat SMA. Namun takdir berkata lain. Diana bahkan tak memberi penjelasan apa pun tentang maksud dari kata kata nya itu. Diana tidak begitu sedih akan dirinya, ia hanya menaruh rasa iba pada Fadhil yang sudah begitu baik pada nya dan banyak membantu nya.


Diana berangkat sekolah seperti biasa, namun sedikit tak bersemangat. Ia masih memikirkan bagaimana perasaan Fadhil saat ini. Beberapa kali panggilan Fadhil tak ia hiraukan, dan pesan yang begitu banyak juga tidak di balas oleh Diana. Ia tak mau lagi memberi harapan pada Fadhil. Inilah yang selalu ditakutkan Diana, takut akan menyakiti hati seseorang. Saat jam istirahat sekolah, Diana masih tak berniat untuk pergi ke kantin.


"Woy, ngelamun aja lu", ucap Nisa dan Purnama menghampiri meja Diana.


"Lagi mager", jawab Diana malas.


"Btw, gimana kabar nya si abang Ridho Rhoma?" Purnama sedikit mengingatkan Diana pada seseorang.


"Ridho siapa?" ucap Diana masih tak menduga kemana arah pembicaraan sahabatnya itu.


"Betapa hari rindu pada dirimu....", Purnama menyanyikan sebuah lagu sambil tertawa. "Cuy...., kemarin ada yang gak suka dangdut, eh kecantol dia nya sama penyanyi dangdut", tambah Purnama lagi sambil tertawa ringan.


"Sialan lu ah....udah ah aku mau ke mesjid dulu, sholat Duha", ucap Diana sambil berlalu meninggalkan kedua sahabat nya itu.


Apa kabar ya kak Hafiz. Udah gak pernah ngubungi aku lagi. Gumam Diana dalam hati.


Saat Diana masuk ke dalam mesjid sekolah, Diana melihat Pak Sandi sedang sholat Duha.


"Hayo.....Lagi mikirin apa?" Maryam yang juga satu sekolah dengan Diana mengagetkan nya.


"Itu loh pak Sandi, udah mau nikah aja", ucap Diana.


Maryam adalah sahabat Diana waktu ia baru pindah di SMP dulu, dan sekarang mereka satu sekolah lagi, hanya berbeda kelas. Mereka berdua juga siswi tetap penghuni mesjid sekolah saat jam istirahat pertama. Maryam bahkan lebih tertutup dari Diana, ia sama sekali tak berteman dengan lawan jenis. Setelah selesai melaksanakan sholat Duha, Diana dan Maryam pun berbincang di bawah pohon mangga dekat mesjid.


"Mar, kenapa ya Oma ku selalu saja gak suka sama cowok yang datang ke rumah. Padahal kan tau sendiri kalau aku gak pacaran, lagian kemarin aku pergi juga ngajak Ifan", Diana mulai curhat pada Maryam.


"Demi kebaikan mu juga kali Di, biar gak terjerumus pergaulan bebas....haahhah", Maryam menanggapi dengan candaan.


Pengumuman. Bagi seluruh pengurus OSIS diharapkan hadir di ruang OSIS untuk membicarakan kegiatan Pesta Rondang Bittang. Terimakasih.


Terdengar pengumuman yang baru di sampaikan oleh ketua OSIS. Maryam dan Diana pun bergegas ke ruangan yang dituju. Diana mengeluarkan ponsel dari saku nya.


"Astaga....Mar, liat ini. Banyak banget pesan dari Mas Fauzi", ucap Diana yang melihat sudah ada puluhan pesan masuk di ponsel nya.


"Bukan urusan ku", ucap Maryam acuh sambil tertawa.


Diana membaca satu persatu pesan yang dikirim oleh Fadhil.


Mas akan pergi ke kota P kalau Minny memang gak mau dekat sama Mas lagi.

__ADS_1


Mas gak akan bisa melihat semua tempat yang pernah kita lalui bersama.


Mas sangat menyayangi Minny.


Diana mulai bosan membaca pesan itu, akhirnya ia menutup ponsel nya. Lalu timbul keraguan dan membuka ponsel itu kembali dan mengirimkan sebuah pesan. "Maaf" hanya satu kata itu yang bisa di sampaikan oleh Diana. Sejujur nya ia tidak menyimpan perasaan apa pun pada Fadhil. Hanya saja ia terlalu kasihan pada pria yang sangat menyayangi nya itu. Bahkan Fadhil rela melalui apa saja demi Diana. Sampai akhirnya ia memilih untuk meninggalkan kota itu untuk bisa melupakan Diana. Isi pesan terakhir dari Fadhil, ia akan menemui Diana pulang sekolah.


************


"Minny, simpan lah ini sebagai kenangan", Fadhil memberikan sebuah bingkisan yang terbungkus kertas kado.


Diana menerima nya tanpa mengucap kan sepatah kata pun. Fadhil pun membalikkan badan dan berlalu pergi meninggalkan Diana.


Lepaskanlah.....


ikatanmu.....


dengan aku biar kamu tenang


bila berat melupakan aku


pelan pelan saja....


Alunan musik menyertai langkah kaki Diana. Ia masih menggenggam hadiah terakhir pemberian Fadhil yang isi nya adalah sebuah bantal berbentuk hati.


Sementara Fadhil yang sudah berada di dalam bus menuju kota P, menatap ke jendela dengan tatapan kosong. Mata nya mulai berkaca kaca. Nafas nya terasa sesak. "Selamat tinggal Minny", ucap nya lirih.


*


*


*


*


*


*


Hiks hiks hiks....


Sedih loh, liat vote belum nambah.


Ayo dong readers.....


Bagi bagi like, vote nya. Jangan lupa kasih bintang. Okay.....

__ADS_1


__ADS_2