
Hari itu juga Diana memohon kepada Andre untuk membawa nya pulang ke rumah. Karena ia tak mau membuat seluruh anggota keluarga khawatir padanya. Andre pun tak dapat menolak permintaan gadis yang sangat dicintainya itu. Waktu menunjukkan pukul 19.00. Diana di antarkan oleh Andre ke rumah nya. Oma dan yang lain nya pun tak menaruh rasa curiga pada Diana.
"Mbak, mana oleh oleh nya?" Tanya Ifan si bungsu.
"Oh...iya...itu....ehm ketinggalan di tas nya Maryam. Besok deh mbak ambil yah," jawab Maryam terpaksa berbohong agar mereka tak curiga.
"Mbak, tempat nya gimana? Seru gak?" Kevin ikutan nimbrung.
"Seru banget dek. Ada rumah hantu nya," Diana pun menceritakan kepada adik nya tentang wahana rumah hantu karena hanya itu yang sempat ia jelajahi.
Setelah itu Diana beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera bersiap untuk melaksanakan ibadah seperti biasanya. Diana merasa tubuhnya sangat lelah. Pikirannya juga sangat kacau. Ia merebahkan tubuhnya dengan kasar ke ranjang.
"Cobaan apa lagi ini. Siapa juga yang mau sama Mas Andre. Ogah banget aku sama duda. Kayak gak ada perjaka aja," ucap Diana sendiri sambil menatap langit langit kamar nya. Tak lama kemudian ponsel Diana pun berdering. Dilihatnya layar ponsel itu tertera nama Andre. Sebenarnya ia malas untuk mengangkat nya, tapi akhirnya ia mengangkat panggilan itu dengan malas.
"Assalamualaikum Mas," sapa Diana saat mengangkat telepon nya.
"Waalaikumsalam, Diana gimana keadaan mu? Sudah kamu minum belum vitamin nya?" Tanya Andre khawatir.
"Belum," jawab Diana singkat.
"Sudah makan belum? Minum dong vitamin nya," ucap Andre lagi.
"Iya Mas," ucap Diana lagi singkat.
"Ya udah deh kalau gitu selamat istirahat ya, have a nice dream," ucap Andre sebelum mengakhiri telepon.
Sebenarnya ia masih mau berlama lama mengobrol dengan Diana, tapi yang di telepon sepertinya tak bersahabat. Membuat Andre merasa canggung. Andre duduk di meja kerja nya sambil menatap foto Diana yang ada di ponsel nya.
Flashback on hospital
Diana yang sedang pingsan langsung dibawa ke UGD. Andre pun mendampingi Diana di ruangan itu.
"Suster, tolong buka hijab gadis ini sebentar, untuk mengurangi suhu panas tubuhnya dan lagi hijab nya sudah terlihat berantakan, setelah 15 menit nanti tolong pasangkan kembali sebelum ia sadar," ucap dokter wanita muslim yang menangani Diana.
Andre begitu terpesona melihat kecantikan wajah Diana tanpa hijab. Rambut panjang nya yang lurus dan hitam membuat nya terlihat begitu mempesona. Setelah perawat memperbaiki ikatan rambut Diana, perawat itu memasangkan kembali hijab Diana. Andre tersenyum simpul memandang Diana.
"Semua tekanan darah dan suhu tubuh nya masih normal pak, anda tidak perlu khawatir. Hanya saja sepertinya gadis ini baru mengalami trauma atau sesuatu yang membuatnya tertekan sehingga detakan jantung nya berpacu lebih cepat. Jika anda mau, bisa memeriksa nya lebih detail besok ke spesialis jantung," ucap dokter itu.
Andre hanya mengangguk pelan. Setelah itu dokter pun keluar dari ruangan. Andre masih memandangi wajah pucat Diana, sambil mengelus lembut tangan Diana. Ia sangat tau bahwa dalam keadaan sadar Diana tak akan mungkin mau di sentuh. Ia pun menggenggam erat tangan Diana.
"Diana, maafkan aku. Aku janji akan membahagiakan mu. Jadi lah istri ku Diana. Aku yakin kau gadis yang baik yang di takdir kan Tuhan untuk ku," ucap Andre lirih.
**********
Pagi ini Diana telah bersiap kembali untuk berangkat bekerja seperti biasanya. Sebenarnya ia masih merasa tak sehat, namun ia sangat sungkan bila harus minta cuti pada Bu Lani yang selalu bersikap baik padanya. Diana terlihat sudah rapi dengan hijab berwarna mocca dan setelan rok berwarna hitam.
Sesampainya di rumah Bu Lani, Diana langsung bergegas menuju dapur. Dilihatnya Bu Lani sudah selesai berbelanja, tapi kali ini Bu Lani menyiapkan bahan makanan lebih banyak dari biasanya.
"Banyak sekali bahan makanan nya bu. Apa ibu ada acara hari ini?" tanya Diana.
"Oh, nanti siang Andre mengundang teman teman kantor nya untuk makan siang di rumah nak, soalnya hari ini Andre ulang tahun," ucap bu Lani.
"Oh gitu ya bu," ucap Diana singkat dan langsung memegang pekerjaannya seperti biasa.
"Nanti ibu minta tolong kamu jemput Miko ya Diana," ucap bu Lani lagi.
"Iya bu," jawab Diana sambil mengangguk.
__ADS_1
Diana dengan sigap membantu bu Lani meracik bahan bahan yang akan di masak. Sampai akhirnya waktu telah menunjukkan jam pulang sekolahnya Miko. Bu Lani pun menyuruh Diana segera berangkat menjemput Miko. Diana pergi dengan sepeda motor Bu Lani. Hanya beberapa menit saja Diana sudah sampai di sekolah Miko, tampak Miko baru keluar dari gerbang sekolah.
"Mbak Diana. Ayo!" ucap Miko sambil menggandeng tangan Diana.
Diana pun menggandeng bocah itu dengan senang hati. Saat mesin motor baru dinyalakan oleh Diana, tiba tiba seseorang memanggilnya.
"Diana...Diana...," teriak Hafiz dari pintu gerbang sekolah sambil berjalan cepat menuju Diana.
"Iya kak, ada apa ya?" tanya Diana.
"Boleh aku mampir ke rumah mu siang ini?" tanya Hafiz.
"Gimana ya kak, ehm...Diana belum tau akan pulang jam berapa. Soalnya hari ini di rumah Miko ada acara. Jadi Diana harus bantu mama nya Miko," jawab Diana jujur.
"Tapi kamu izinkan aku main ke rumah mu kan?" tanya Hafiz lagi.
"Memang nya kak Hafiz mau ke rumah meskipun tanpa Diana?" Diana mencoba memastikan kesungguhan Hafiz.
"Kenapa tidak?! Aku bahkan ada perlu dengan Oma," ucap Hafiz sambil tersenyum ceria.
"Ya sudah kalau begitu, nanti Diana usahain pulang cepat," ucap Diana sebelum pergi meninggalkan Hafiz.
Diana dan Miko pun sampai di rumah. Diana segera membantu Miko berganti pakaian. Lalu kembali lagi ke dapur.
"Diana, ibu boleh tanya sesuatu gak mengenai hal pribadi kamu?" ucap Bu Lani.
"Tanya aja bu, gak apa kok bu," ucap Diana.
"Kamu punya pacar gak?" pertanyaan Bu Lani membuat Diana sedikit kaget.
"Ehm....Diana gak pernah pacaran bu," jawab Diana jujur.
"Loh kok alhamdulillah bu. Emang kenapa sih?" tanya Diana heran.
"Ibu pengen kamu jadi menantu nya ibu," ucap bu Lani tanpa ragu.
"uhuk....uhuk....," Diana seperti tersedak sesuatu padahal ia sedang tak memakan apapun. Ia pun segera mengambil segelas air dan meminumnya.
"Kamu tidak apa apa kan nak?" ucap Bu Lani saat melihat wajah Diana berubah.
"Enggak kok bu, gak apa apa," ucap Diana.
"Jadi kamu mau gak jadi mantu ibu?" tanya bu Lani lagi.
"Ehm....Diana belum siap menikah muda bu," ucap Diana.
Saat mereka sedang berbincang, tiba tiba Andre pulang dari kantor.
"Assalamualaikum ma," ucap Andre yang langsung masuk ke dapur.
"Kok cepet pulang nya nak?" tanya bu Lani.
"Setelah selesai semua kerjaan, Andre minta izin pulang lebih awal ma. Mana tau mama butuh bantuan Andre buat persiapan nanti," ucap Andre sambil menatap Diana.
"Kamu ini, bicara sama mama tapi yang di lihatin Diana, gimana sih," ucap bu Lani sambil tertawa ringan.
"Mama apaan sih," ucap Andre sambil berlalu.
__ADS_1
Jam telah menunjukkan pukul 13.00. Semua makanan telah tertata rapi di meja makan. Teman teman Andre juga sudah berkumpul di teras rumah. Diantara teman Andre ada yang memperhatikan Diana.
"Ndre, gadis manis itu adik mu yah, mau dong di kenalin," ucap Rifki jahil.
"Sembarangan kamu kalo ngomong. Itu calon istri ku, jangan macam macam," ucap Andre tegas.
"Sialan lu, udah mau married dua kali aja, cariin dong buat ku," canda Rifki lagi.
Diana mengambil ponsel dari tas nya dan mengirim sebuah pesan kepada Andre untuk mengucapkan selamat ulang tahun, karena ia sungkan untuk mengucapkan nya secara langsung.
Barakallah fii umrik Mas Andre.
Doa terbaik untuk Mas Andre.
Semoga Allah senantiasa selalu melindungi Mas Andre dan mengabulkan segala impian Mas Andre.
Maaf aku gak bisa kasi apa apa.
Andre membuka ponsel nya yang berdering. Tampak sebuah pesan masuk dari Diana. Belum membukanya saja Andre sudah sangat senang. Apalagi setelah ia baca itu adalah ucapan selamat ulang tahun dari gadis yang ia cintai. Hatinya begitu berbunga bunga. Ia pun membalas pesan itu.
Terimakasih Diana.
Aku menyayangimu.
Diana membuka pesan balasan dari Andre dan langsung memanyunkan bibir nya.
'Jawaban macam apa ini? Pake bilang sayang segala' gerutu Diana dalam hati.
Di tengah tengah acara itu, tiba tiba datang tamu yang tak di undang. Dia adalah Meli, mantan istri Andre.
"Halo semua. Hai sayang, selamat ulang tahun. Ini aku bawain kado buat kamu," ucap Meli manja sambil menggandeng tangan Andre.
"Ternyata kamu masih punya muka ya datang kesini," ucap Andre dengan penuh kebencian.
"Sayang, aku kan ingat kalau hari ini ulang tahun kamu," ucap Meli masih tak merasa malu.
"Ngapain kamu kesini? Saya harap kamu segera keluar dari rumah ini, karena kami tak mengundang kamu di acara ini," ucap Bu Lani tak kalah ketusnya.
Diana memperhatikan wanita itu dari dapur. Wanita yang sudah berbuat kasar padanya tempo hari. Ia ingat sekali, bahkan masih menyisakan luka di hatinya.
"Ibu kok gitu sih sama Meli, biar bagaimanapun Meli juga pernah menjadi menantu di keluarga ini," ucap Meli bangga.
"Itu dulu, tapi sekarang keadaan nya sudah berbeda," ucap Bu Lani lagi.
Akhirnya terjadi debat antara mereka sampai akhirnya Andre berhasil mengusir Meli dari rumah itu. Diana pun bernafas lega sambil duduk di meja dapur. Andre yang masuk ke dapur memperhatikan Diana. Lagi lagi ia merasa bersalah karena ulah Meli tempo hari yang menyakiti Diana.
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
Hai readers....
Salam sayang dari author buat kalian yang setia menanti....