
"Hayo.....lagi ngapain?" goda Mama.
"Ah mama", dengus Andre sedikit kesal karena merasa kaget.
Andre yang di kenal sebagai anak yang pendiam, kala itu ia berubah menjadi seperti radio yang tiada henti bersuara. Ia menyelidik semua hal tentang Diana melalui mama nya yang lebih mengenal Diana selama ini. Mama juga tak sungkan untuk menceritakan semua hal tentang latar belakang keluarga Diana. Andre yang mendengar semua keterangan mama merasa sedikit terharu dan kagum kepada gadis kecil itu. Ia tak menyangka bahwa Diana berkawan dengan sekelumit roda kehidupan yang ia yakin semua orang pasti tak mengharapkan itu. Ya....perceraian kedua orang tuanya membuat Diana tumbuh menjadi seorang gadis kecil yang tegar, namun jauh di lubuk hati nya ia merasa sangat terluka.
Setelah sepekan berada di rumah, Andre pun bersiap untuk berangkat kembali ke asrama dan menyelesaikan pendidikan nya di kota M. Setiap hari Diana datang ke rumah Andre lebih awal, karena masa sekolah telah berakhir dan ia akan libur panjang sebelum masuk ke Sekolah Menengah Pertama. Setiap hari pula selama ia di rumah ia selalu mencari kesempatan untuk mengajak Diana mengobrol, namun Diana tak sedikit pun membuka celah untuk nya. Entah apa yang ada dalam pikiran gadis kecil itu, yang jelas Andre tetap tak menyerah. Seperti hari ini, dimana ia akan berangkat kembali ke kota M.
Andre mendekati Diana yang sedang menyiram bunga. Hari ini Diana terlihat cantik dengan hijab besar berwarna hijau pupus dengan gamis berwarna senada. Tanpa riasan pun, kecantikan nya telah terpancar oleh setiap mata yang memandang nya. Sejuk seperti terhembus angin sepoi di rasakan oleh Andre yang melihat Diana melempar senyum kepada nya.
"Diana, hari ini aku akan balik ke kota M", Andre membuka pembicaraan mereka.
Diana menghentikan aktivitas nya dan menghampiri Andre.
"Trus, apa mas perlu di buatkan bekal untuk makan di jalan?", tanya Diana polos.
Bukan itu yang ku maksud, aduh kenapa jadi sulit begini sih. Andre.
Andre menggelengkan kepala pertanda bukan itu yang ia mau. Andre mulai gugup, ia bingung bagaimana cara memulai nya. Sampai akhirnya Diana melanjutkan aktivitas nya kembali karena dirasa Andre tak juga berbicara. Andre yang melihat Diana beranjak pergi meninggalkan nya merasa resah dan menangkupkan kedua tangan nya di wajah nya yang tampan itu. Kemudian mengikuti langkah Diana.
"Diana, boleh minta nomor ponsel mu tidak?" akhirnya Andre memberanikan diri.
Diana menoleh ke arah Andre dan tak menjawab. Kemudian meletakkan gembor tanaman di atas tanah. Lalu ia menoleh kepada bunga bunga yang ada di hadapan nya, sampai akhirnya Andre mengulang pertanyaan nya kembali untuk yang ke dua kali nya. Diana pun mendekat.
"Untuk apa mas? Mas kan bisa menghubungi ibu saja kalau ada perlu apa apa", ucap Diana menandakan ia tak bersedia memberikan nomor ponsel nya pada Andre.
__ADS_1
Mendengar jawaban Diana, ada rasa sakit bagai teriris pisau belati di hati Andre. Ia tak menyangka gadis kecil ini sulit untuk di usik. Hati nya bahkan tak terketuk sedikit pun sudah seminggu hampir setiap hari bertemu dengan Andre. Tapi sepertinya Diana hanya mencintai perkerjaan nya.
"Lihat bunga itu mas", Diana menunjuk ke arah mawar putih. "Indah memang, tapi sayang nya jika terkena duri nya akan terluka dan sakit. Jadi, saya rasa mas harus menjauhi nya", ucap Diana tegas.
Bagai petir yang menyambar di telinga Andre kata kata Diana barusan. Apa maksud perkataan gadis kecil ini. Diluar dugaan Andre. Apa kehidupannya terlalu buruk sehingga tak mengizinkan siapa pun mengusiknya. Andre menghela nafas panjang, dan membalikkan tubuhnya masuk menuju pintu rumah. Lalu ketika langkah kaki nya baru sampai di depan pintu, Diana memanggil nya kembali.
"Mas, lihat lah lagi mawar itu. Bahkan ia belum mekar dengan sempurna. Jika mas mendekati sebelum ia mekar, maka ia akan layu", ucap Diana sambil tersenyum.
"Berarti aku boleh mendekati nya setelah tumbuh kembang dengan sempurna donk", Andre mencoba memastikan apa yang ada dalam benak nya.
Diana menjawab dengan anggukan kecil dan senyum yang menghiasi bibir mungil nya. Andre berlari masuk ke dalam kamar dengan senyuman merekah di bibir nya. Mama yang baru keluar dari dapur merasa heran melihat ekspresi putra nya itu. Dan mengikuti langkah putra nya masuk ke dalam kamar. Dilihatnya Andre sedang merapikan semua barang barang yang akan ia bawa.
Mama pun duduk di tepi ranjang milik putra nya itu. Kemudian mama menginterogasi putra nya karena penasaran dengan raut wajah yang merona tampak di wajah putih milik Andre. Mama menanyakan perihal kesungguhan Andre dengan Diana yang masih lugu itu. Andre tak sungkan pula bercerita kepada Mama bahwa Diana adalah cinta pertama nya. Mama yang mendengar hal itu tidak merasa heran, karena selama ini memang putra nya lebih tertarik pada pendidikan dan kegiatan lain nya. Mama juga tak pernah mengenal satu pun teman wanita Andre, karena Andre tak pernah membawa teman wanita ke rumah.
************
"Maaf bu, saya mau bilang sesuatu sama ibu", Diana mengawali pembicaraan mereka saat itu.
"Katakan lah nak, tak perlu sungkan", ucap Bu Lani lembut.
Diana menjelaskan kepada Bu Lani bahwa ia akan berhenti bekerja setelah ia masuk sekolah nanti. Bu Lani yang mendengar akan hal itu pun merasa sedih. Selama ini Bu Lani sudah menganggap Diana seperti anak kandung nya sendiri. Bahkan Diana bekerja dengan sangat baik dan telaten. Bu Lani berat untuk melepaskan Diana. Namun ia juga tidak punya hak untuk menahan nya. Tapi sebelum Diana beranjak pulang, Bu Lani mengatakan sesuatu hal yang menurut nya penting untuk di sampaikan kepada Diana.
"Diana, kamu yang sabar ya dalam menghadapi semua nya. Ibu juga mau bilang, Andre sangat menyukai mu, Dan kamu itu cinta pertama Andre. Ibu berharap suatu hari nanti kalian bisa berjodoh", ucapan Bu Lani sangat mengejutkan Diana.
Diana hanya tersenyum kecil kemudian menyalami Bu Lani dan permisi pulang.
__ADS_1
************
*Dear, diary....
Hari ini aku merasa ada angin segar yang berhembus ke wajah ku. Angin itu menghembuskan udara segar yang bahkan aku tak berani untuk menghirup nya.
Bahkan untuk bermimpi pun aku tak berani. Mentari itu indah, namun hanya untuk di pandangi.
Aku takut jika mimpi tak sesuai dengan ekspektasi. Maka lebih baik pergi, sebelum ia mulai menepi di pinggir hati.
Cinta itu hanya kepada pencipta.
Ketertarikan pada nya hanya akan menambah luka*.
"Mbak......", teriak Dimas adik laki laki Diana. Dimas masuk ke dalam rumah dengan keadaan yang sangat berantakan dan peluh membasahi pakaian yang ia kenakan.
HALO READERS....
PANTENGIN TERUS NOVEL AKU YAH!!!!
MAU TAU LANJUTAN NYA KAN
JANGAN LUPA LIKE NYA YAH....
Dianty Wd.
__ADS_1