
Di sore hari yang cerah, tiba tiba awan menjadi gelap. Petir mulai menyambar pertanda akan turun nya hujan. Anita tersenyum senang, ini artinya dia berkesempatan untuk menginap di rumah Hafiz. Tentu saja ia selalu merencanakan sesuatu yang buruk pada Diana.
"Kak, hujan nya deras banget. Aku menginap di sini malam ini ya kak, please...." ucap Anita yang tentu saja dengan nada manja terasa menggelikan di telinga Diana.
"Ya sudah lah, besok suruh adik mu menjemput ya. Soalnya besok aku dan Diana mau pergi ke rumah orang tua Diana," ucap Hafiz.
"Makasih kak," ucap Anita sambil bergelayut di lengan Hafiz.
Tepat pukul 21.00. Diana sudah merasa mengantuk. Namun Anita masih saja mengajak Hafiz bercengkrama, membuat Diana mau tak mau harus berada di antara mereka. Padahal hati nya sudah sangat jenuh mendengar obrolan antara mereka. Ia seperti anti nyamuk yang hanya menjaga mereka berdua tanpa bisa ikut berbicara. Hafiz memperhatikan Diana yang hanya memasang wajah datar.
"Diana, apa kamu sudah mengantuk?" tanya Hafiz lembut pada Diana.
"Enggak kok kak, sesekali tidur lebih lama gak apa," jawab Diana menyembunyikan rasa kantuk yang sebenarnya sudah menyerang nya.
"Kamu masuk duluan aja gih! Kami masih mau cerita2," ucap Anita yang tak suka dengan keberadaan Diana.
Diana menatap wajah Hafiz, memastikan apakah Hafiz juga menginginkan kepergian nya dari ruangan itu. Hafiz pun mengerti dengan tatapan Diana.
"Kamu tidur aja disini," Hafiz menunjuk ke pangkuan nya, Diana tersenyum simpul dan merebahkan kepala nya di pangkuan Hafiz.
Sial. Berani sekali dia mencoba untuk memanasi ku. Anita.
Hahahah. Sebenarnya aku beli melakukan ini, tapi tak apa lah untuk memanasi si nenek lampir itu. Diana.
"Tidur lah, nanti akan ku gendong ke kamar," ucap Hafiz lembut sambil membelai kepala Diana yang masih tertutup hijab berwarna coklat tua itu.
Pemandangan di hadapan Anita membuatnya sudah tak bersemangat lagi untuk bercerita dengan Hafiz, akhirnya ia pun masuk ke dalam kamar yang telah di siapkan oleh Diana. Hafiz pun mengangkat tubuh kecil Diana ke dalam kamar karena ia sudah tertidur pulas di pangkuan Hafiz.
*********
Waktu subuh sudah hampir habis, Diana belum juga bangun sampai Hafiz sudah pulang dari mesjid. Hafiz mencoba membangunkan Diana.
"Sayang, bangun... Apa kamu tak sholat subuh?" tanya Hafiz di telinga Diana.
"Maaf ya Mas, aku gak bermaksud nyakitin hati kamu," ucap Diana lirih setengah sadar seperti sedang mengigau.
Hafiz mengerutkan dahi nya. Siapa yang dimaksud Diana? Panggilan itu di tujukan pada siapa ya? Hafiz bertanya tanya sendiri.
Dalam mimpi
Diana melihat sebuah mobil melintas dan menabrak tubuh seorang pria yang sangat di kenal nya. Ia pun langsung berlari melihat pria itu, namun pria yang ada di hadapan nya sudah sangat sekarat.
"Mas, bangun mas," ucap Diana sambil menangis namun pria yang ada di hadapan nya itu sudah menutup mata dengan rapat namun masih bisa berbicara dengan lirih.
"Aku mencintaimu Diana, kenapa kau menikah dengan orang lain," ucap Andre lirih dan langsung terkulai lemas.
"Maaf ya mas, aku gak bermaksud nyakitin hati kamu," ucap Diana sambil menangis.
********
__ADS_1
"Diana, bangun sayang," Hafiz menggoyangkan tubuh Diana.
Diana terkejut dan langsung terbangun.
"Astagfirulloh, jam berapa ini kak? Aduh Diana kesiangan," ucap Diana segera ingin turun dari ranjang, namun lengan nya di cekal oleh Hafiz.
"Siapa yang sedang kamu mimpikan Diana?" tanya Hafiz menyelidik.
"Mimpi? Diana gak inget kak. Udah ya, Diana mau masak buat kakak," ucap Diana sambil menyisir rambut panjang nya itu.
"Kamu gak sholat dulu?" tanya Hafiz.
"Lagi datang tamu kak," jawab Diana, Hafiz pun mengerti.
Huft....datang tamu. Berarti aku harus menunda nya. Hafiz.
Untung saja kak Hafiz gak curiga. Diana.
Anita masih saja tertidur di kamar. Ia memang gadis yang tidak begitu mengenal agama. Sampai waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Anita belum juga keluar dari kamar nya. Sementara Diana sudah menyelesaikan semua pekerjaan nya. Hidangan sarapan pagi pun telah tersedia di ruangan. Mereka duduk di atas tikar.
"Kak, apa kita gak menunggu Anita bangun dulu?" tanya Diana yang merasa tak enak dengan tamu nya itu.
"Kita makan duluan aja, nanti nafsu makan ku bisa hilang gara gara dia," ucap Hafiz.
"Kakak, apaan sih... Tega banget sarapan gak ngajak aku," ucap Anita yang baru keluar dari kamar dengan pakaian yang sangat terbuka, tank top berwarna pink dengan dada yang terbuka.
Astaga, perempuan model apa ini, apa dia mencoba menggoda kakak sepupu nya sendiri. Kucing mana yang gak suka ikan. Diana
"Gak mau ah, aku mau kakak yang antar aku ke rumah," ucap Anita merayu Hafiz.
"Aku mau pergi sama Diana, apa kamu mau menjaga rumah ini?" ucap Hafiz lagi yang akhirnya membuat Anita kehabisan kata kata.
Sial. Lain kali aku pasti datang lagi Diana. Anita.
**********
Sore ini Diana dan Hafiz telah sampai di rumah Oma Nuri. Sebelum Hafiz mengajak Diana berkunjung ke rumah orang tua nya, Hafiz terlebih dahulu mengajak Diana liburan beberapa hari ke rumah Oma. Ia tau bahwa Diana pasti sangat merindukan keluarganya.
"Assalamualaikum..." ucap Diana dan Hafiz bersamaan saat memasuki teras rumah yang di penuhi oleh keluarga Diana.
"Waalaikumsalam," Oma langsung memeluk Diana.
Setelah itu Diana langsung bergegas masuk ke dalam rumah. Hafiz masih bersenda gurau dengan keluarga besar Diana. Kebetulan Kevin dan Ifan juga berada disana.
"Gimana sekolah kamu Fan?" tanya Hafiz memulai perbincangan.
"Aman kak, masih dapat 10 besar," ucap Ifan santai.
"Assalamualaikum," ucap seseorang yang baru saja datang.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab mereka bersamaan.
"Fan, Oma dimana ya? Mau minta daun pandan dong," ucap Faiz yang baru datang dari kota M dan Ifan pun segera menuju dapur.
Sejak mendapat pekerjaan baru di kota M, Faiz tetap pulang ke kampung setiap sebulan sekali untuk menjenguk ibu dan ayah nya di hari libur. Kebetulan hari ini dia pulang dan Diana juga pulang.
"Mbak, ambilin daun pandan dong," ucap Ifan pada Diana.
"Buat apa?" tanya Diana.
"Ada tetangga yang minta tuh di depan," ucap Ifan tanpa memberitahu Diana siapa yang meminta nya.
Diana segera ke belakang rumah dan mengambil daun pandan itu, lalu segera pula ia bawa ke teras rumah.
"Dek, ini daun pandan.......nya," kalimat Diana terputus saat melihat seorang pria yang ada di teras duduk bersama Hafiz.
"Terimakasih," ucap Faiz mengambil daun pandan yang ada di tangan Diana.
"Aku permisi dulu mas, kapan kapan kita ngobrol lagi," ucap Faiz pada Hafiz. "Terima kasih ya Diana," Faiz langsung berlalu begitu saja.
Diana masih menatap kepergian Faiz, lalu seketika pula ia masuk ke dalam rumah. Hafiz melihat raut wajah Diana yang berubah. Tak lama kemudian Kevin adik Diana pulang dari bengkel tempat ia bekerja. Hafiz pun mengajak Kevin berbincang bincang.
"Dek, abang mau tanya nih, apa mbak mu sama Faiz pernah ada hubungan spesial?" tanya Hafiz penasaran.
"Oh, itu toh. Kirain mau nanya apa serius amat bang," ledek Kevin.
"Ya bukan nya gitu, soalnya tadi dia ngeliat mbak mu dengan tatapan yang aneh," tambah Hafiz lagi.
"Dulu emang bang Faiz pernah suka sama mbak Diana, tapi Oma gak suka sama bang Faiz. Jadi mbak gak ngelanjutin deh pedekate alias pendekatan nya," jelas Kevin.
"Kenapa emang nya kok Oma gak suka sama Faiz?" tanya Hafiz lagi.
"Yah....kata Oma sih bang Faiz playboy, katanya ntar kalo mbak sama dia takut di selingkuhin gitu," jelas Kevin lagi. "Udah ah, Kevin mau mandi dulu. Abang kepo amat sih, cemburu ya?" ledek Kevin sambil berlalu pergi meninggalkan Hafiz.
"Wajar dong, dia kan istri ku," ucap Hafiz yang tak sadar bahwa Diana sudah keluar sambil membawa cemilan dan teh hangat.
"Ada apa kak? Kenapa dengan Diana?" tanya Diana yang tak sengaja mendengar kata kata terakhir yang terlontar dari bibir Hafiz.
*
*
*
*
*
Mohon maaf telat up nya ya readers.
__ADS_1
Sibuk ngasih pembelajaran online, mana nge less privat juga.
Lope lope lah buat kalian semua yang setia menanti.