Hijab Dan Penantian

Hijab Dan Penantian
Gara gara Alergi


__ADS_3

Pagi yang cerah. Sinar surya mulai terpancar dari peraduan nya. Udara pagi menyejukkan setiap jiwa yang menghirupnya. Dedaunan basah penuh embun pagi. Pohon pohon hijau di sekitar halaman rumah mama Mia menyegarkan mata. Diana tetap bangun lebih awal dari semua penghuni rumah. Namun kali ini Mia tidak mengizinkan nya untuk melakukan apa pun.


"Jangan kamu sentuh peralatan dapur ini. Karena aku yang akan masak makanan kesukaan Hafiz hari ini. Nanti setelah selesai, kamu harus membersihkan semua nya!" ucap Mia ketus pada Diana, dan Diana pun mengangguk.


Diana kembali melangkah ke kamar untuk membangunkan Hafiz.


"Kak, bangun sudah subuh," ucap Diana sambil menggoyang kan lengan Hafiz. Hafiz langsung menarik tangan Diana dan memeluk nya erat.


"Kak, apaan sih. Udah subuh tau. Nanti keburu habis waktu nya," ucap Diana lagi mencoba melepaskan pelukan suami nya. Hafiz langsung mengecup pucuk kepala Diana dan melepaskan pelukannya.


"Iya sayang, bawel banget sih," ucap Hafiz sambil bangkit dari kasur itu.


Diana menatap punggung Hafiz yang sudah berlalu.


Mengapa ibu mu begitu kasar padaku kak? Padahal anaknya sungguh sangat lembut. Diana.


Diana bergegas ke teras rumah. Suasana yang masih gelap. Ia menyapu teras rumah dan mengepel nya. Setelah itu ia menyapu halaman yang lumayan luas itu. Tampak bunga bunga kering di halaman rumah itu, seperti tak terawat. Diana merapikan pot pot bunga itu dan menyirami bunga bunga itu. Ia memang menyukai bunga sejak dulu. Senyum simpul terpancar di wajahnya.


"Sudah lama memang bunga bunga itu tidak terurus. Mereka tidak terlalu perduli dengan itu," ucap Doni ayah tiri Hafiz, Diana hanya diam.


"Kamu disini rupanya?" ucap Hafiz menghampiri Diana dan Doni.


"Di rumah ini banyak perempuan, tapi tidak ada yang perduli dengan keindahan," ucap Doni sambil berlalu meninggalkan Hafiz dan Diana.


"Sayang, pagi pagi gini kok malah ngurusin tanaman sih? Gak masak buat sarapan?" tanya Hafiz.


"Mama udah siapkan makanan kesukaan mu sayang, ayo kita sarapan!" ajak Mia pada Hafiz.


"Ayo sayang," Hafiz mengajak Diana.


Diana segera membersihkan tangan nya dan ikut sarapan dengan keluarga Hafiz. Suasana makan tampak senyap, hanya ada suara sendok yang beradu dengan piring. Anita tak ikut makan bersama mereka, kebiasaan nya bangun siang membuatnya susah untuk bangkit sepagi ini. Menu pagi ini yang di masak oleh Mia adalah ebi krispi, sayur lodeh dan sambal terasi. Hafiz tampak lahap memakan makanan itu, meskipun masakan ibunda nya tidak seenak masakan Diana. Lain hal dengan Diana. Ia tampak ragu untuk memakan nya, alergi terhadap udang membuatnya hanya memakan nasi dan sayur. Hafiz memperhatikan istrinya.


"Loh, sedikit banget makan nya? nih makan yang banyak biar sehat kamu nya," ucap Hafiz sambil mengambilkan ebi krispi ke dalam piring Diana.


"Ehm....Iya Kak," ucap Diana lembut.


Aduh, bagaimana ini. Kalau alergi ku kambuh gimana? Diana.

__ADS_1


Semua orang melanjutkan makan dengan hikmat, Diana dengan sangat pelan memakan makanan nya. Hingga semua orang selesai makan, ia belum juga selesai. Sampai Anita bangun dan ikut makan dengan nya.


"Orang kalau makan aja lambat, itu mencerminkan kerja nya juga lambat," ucap Mia ketus yang di tujukan pada Diana. Diana dengan cepat ingin menyudahi makan nya.


"Habiskan makan nya, gak baik menyisakan nasi. Di luar sana banyak orang kelaparan," oceh Mia lagi pada Diana. Diana kembali duduk dan dengan segera menghabiskan sisa makanan di piring nya.


Ya Allah....berilah hamba kesabaran.Diana.


Semua orang kembali ke ruang tengah, Diana membantu Mia membersihkan sisa makanan di meja makan. Tiba tiba Diana merasa wajah nya memanas dan sekujur tubuhnya pun terasa gatal. Diana langsung bergegas ke kamar.


"Diana, mau kemana? Ini belum siap kok di tinggalkan gitu aja? Diana...Diana..." Mia berteriak keras. Semua orang menoleh pada Diana yang berlari masuk ke kamar. Hafiz pun mengikuti Diana masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan istrinya.


"Ana kamu kenapa sayang?" tanya Hafiz khawatir.


"Ehm....Ana...alergi Kak. Ana gak bisa makan ebi," ucap Diana sambil mengelus elus pipi nya yang terasa panas. Ia pun langsung membuka hijab berwarna peach yang ia pakai, dan juga langsung membuka gamis nya. Hafiz menatap nya heran, karena ini kali pertama Diana melepas pakaian di hadapan nya.


"Kak, tolong kak. Panas, perih, gatal lagi kak," ucap Diana sambil mengipas wajah nya dengan tangan.


"Maaf yah sayang, ini pasti karena aku nyuruh kamu makan ebi tadi ya?" Hafiz merasa sedih melihat keadaan istrinya.


Hafiz semakin bingung. Ia mencoba mencari sesuatu untuk membantu Diana meredakan rasa panas dan gatal di tubuhnya. Wajah Diana tampak memerah sampai ke leher bagian bawah. Hafiz segera mengunci pintu, takut ada orang yang masuk dan melihat keadaan istri nya yang hanya mengenakan tank top dan hot pants. Seketika Hafiz tersenyum.


"Kamu cantik," ucap Hafiz ditelinga Diana. Diana yang sadar dengan keadaan nya saat ini langsung menutupi dada nya dengan kedua tangannya.


"Kenapa? Aku kan suami mu. Kenapa harus malu?" ucap Hafiz sambil tersenyum.


"Ih...kakak...." Diana mencubit pinggang Hafiz.


"Ampun...ampun...Trus, sekarang gimana sayang? Aku harus apa?" tanya Hafiz.


"Ehm, kompresin pakai air hangat kak. Maaf ya kak, jadi merepotkan kakak," ucap Diana sambil menundukkan wajahnya.


"Enggak sayang, gak apa apa. Kamu kan udah jadi tanggung jawab ku. Lagian kenapa gak bilang kalau kamu alergi udang?" ucap Hafiz lagi.


"Aku malu kak, takut dibilang penyakitan," ucap Diana lirih.


Hafiz mengecup pucuk kepala Diana dengan lembut, lalu ia pun keluar dari kamar untuk mengambilkan air hangat. Diana langsung merebahkan tubuhnya di ranjang dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Mia dan Anita menunggu di depan pintu kamar Hafiz.

__ADS_1


"Kenapa itu si Diana nak?" tanya Mia yang sudah penasaran.


"Ana alergi udang ma, jadi sekujur tubuhnya panas dan gatal. Hafiz mau ambil air hangat dulu," ucap Hafiz.


"Tuh kan Tan, manja banget kan. Makan gituan aja alergi, ribet amat jadi orang," ucap Anita pada Mia.


Mereka kembali diam saat Hafiz sudah datang membawa air hangat di dalam mangkuk.


"Ma, Hafiz urus Diana dulu ya ma. Hei adik adik, jangan kemana mana ya! Kakak akan ajak kalian pergi piknik sore ini kalau kak Diana sudah baikan" ucap Hafiz pada adik adik nya yang duduk di depan tv.


"Benaran kak? yeah....asyik.. " ucap Rina dan Rani. Yana tidak tampak tertarik sedikit pun.


Mia dan Anita pun kembali melakuakan aktifitas masing masing. Hafiz masuk ke dalam kamar dan meletakkan mangkuk yang berisi air hangat itu di atas nakas. Diana membuka matanya perlahan.


"Kak, maaf yah sudah ngerepotin," ucap Diana lembut.


"Sayang, udah jangan ngomong gitu," ucap Hafiz.


"Trus, air ini gimana?" tanya Hafiz.


Diana mengambil sapu tangan dan merendamnya ke dalam air hangat lalu mengompres ke bagian wajah nya. Lalu mencoba mengompres leher bagian belakang. Hafiz mencoba membantunya.


"Sini biar aku yang kompres," Hafiz mengambil saputangan dari tangan Diana dan mengompres leher bagian belakang Diana.


Tahan Hafiz. Huft....belum tepat nih...Rasanya aku ingin sekali memakan mu sayang...Hafiz.


"Kak, disini kompres juga," ucap Diana sambil menunjuk punggung nya.


Hafiz semakin salah tingkah. Ia mengusap dengan pelan punggung Diana. Diana mulai merasa nyaman. Tapi ia tidak bisa melihat ekspresi sang suami yang sedang menahan sesuatu. Hahaha....menahan apa yah???!


*


*


*


*

__ADS_1


Maaf ya readers, udah berusaha keras buat curi curi waktu nih...


makasih buat yg tetap setia menanti.


__ADS_2