
Seminggu sudah Diana dirawat di rumah sakit. Hafiz meminta izin pada dokter untuk membawa Diana kembali ke rumah. Melihat kondisi Diana yang sudah mulai membaik. Oma dan Mama Hani sudah kembali kerumah mereka. Hafiz membawa Diana pulang ke kampung halaman nya. Kembali ke rumah mereka yang sudah lama mereka tinggalkan. Tentu saja dengan bantuan bibi Farida dan keluarganya. Perjalanan yang memakan waktu 4jam perjalanan itu cukup membuat Diana merasa sangat kelelahan duduk di dalam mobil. Hafiz segera meletakkan kepala Diana ke pangkuan nya.
"Kak, maaf yah. Gara2 Ana sakit, kita jadi harus kembali ke rumah. Kerjaan kakak juga jadi nya gimana kak?" Diana berkata dengan penuh kesedihan.
"Sayang, jangan lagi bicara seperti itu yah. Aku mencintaimu. Aku akan lakukan apapun untuk kesembuhan mu," ucap Hafiz mencoba meyakinkan Diana.
"Kakak...., sakit gini doang ngomong nya kayak Ana nih sakit parah aja," ucap Diana membuat Hafiz terdiam.
Diana mulai memejamkan mata indah nya di pangkuan Hafiz. Perjalanan memakan waktu 4 jam lamanya. Barulah mereka sampai di rumah.
*******
Ponsel milik Hafiz berdering, ia segera mengangkat nya. Tampak di layar sebuah nama My Mom.
"Assalamualaikum ma," sapa Hafiz pertama kali.
"Waalaikumsalam, Gimana kabar nya istri mu nak? Mama dengar dari bibi Farida, katanya istri mu sakit," ucap mama.
"Iya ma, tapi ini sudah pulang dari rumah sakit. Alhamdulillah," ucap Hafiz.
"Istri penyakitan begitu gimana bisa ngurus kamu dengan baik. Yah sudah lah. yang penting kamu sehat," ucap mama dengan nada kesal.
Hafiz tak menjawab apa pun, untuk menghindari perdebatan dengan mama nya itu. Ia juga tak mau berpanjang lebar karena ingin mengurus Diana. Setelah sambungan nya terputus, Hafiz kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang untuk Diana. Bibi Farida dengan telaten turut membantu keponakannya yang sudah ia anggap seperti anak kandung nya sendiri itu. Bibi Farida memasakkan bubur untuk Diana. Hafiz membawakan nya ke dalam kamar dan meletakkan nya di atas nakas. Dipandanginya wajah istri nya yang putih pucat itu.
"Sayang, bangun sayang. Kamu harus makan siang biar bisa minum obat," ucap Hafiz sambil membelai pipi Diana dengan lembut.
"Iya kak, jam berapa ya kak?" tanya Diana sambil membenarkan posisi duduknya.
__ADS_1
"Sudah jam 12.15. Sebentar lagi adzan zuhur. Kamu harus makan yah," ucap Hafiz lagi.
Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut kecil Diana. Hafiz dengan sabar menyuapi istrinya. Bibi memperhatikan dari pintu kamar, menatap Diana dengan penuh kesedihan. Belum lama mereka berumah tangga, sudah mendapat ujian seperti ini. Mengingat Hafiz yang juga begitu mencintai Diana.
Adzan zuhur berkumandang. Diana telah selesai makan. Hafiz bergegas untuk berangkat ke mesjid. Diana di temani oleh Bibi Farida di rumah.
"Bi, April mana bi,? kok gak ikut kemari?" tanya Diana pada bibi Farida.
"Lagi ada teman teman nya di rumah, jadi dia gak bisa ikut kesini," ucap bibi Farida.
Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba Diana merasakan sakit yang begitu hebat di sekitar perut nya. Ia sedikit meringis sambil memegangi perutnya. Bibi Farida terlihat panik melihat raut wajah Diana yang berubah, namun tak bisa berbuat apa-apa. Diana langsung meminta bibi untuk mengambilkan tote bag yang berisi obat-obatan serta berkas dari rumah sakit. Bibi pun dengan sigap memberikannya dan membantu Diana meminum obatnya. Setelah 10 menit, akhirnya rasa sakit itu pun mereda. Diana kembali melihat isi di dalam tote bag dimana ada sebuah amplop berwarna putih berlogo rumah sakit tempat ia dirawat. Saat ia hendak mengeluarkan isi di dalam amplop itu, tiba tiba terdengar ucapan salam dari Hafiz yang sudah pulang dari mesjid.
"Sudah minum obat sayang?" tanya Hafiz sambil mengambil amplop itu dari tangan Diana.
"Kakak, kok di ambil sih. Ana mau lihat kak," rengek Diana.
"Kamu harus banyak istirahat," ucap Hafiz mengalihkan pembicaraan. "Dilarang membantah," ucap Hafiz sedikit penekanan.
"Eits....mau kemana?" Hafiz mulai siaga.
"Mau ke kamar mandi kak, mau wudhu," jawab Diana.
"Ya sudah ayo ku antar," Hafiz membantu Diana.
Sampai nya di kamar mandi, Diana melihat begitu banyak darah pada pakaian dalam yang ia kenakan. Ia langsung membersihkan dirinya. Dibantu oleh Hafiz. Lalu Hafiz melarang nya untuk bergerak lagi. Setelah selesai, Hafiz menggendong Diana kembali ke kamar dan merebahkan nya ke kasur. Diana kembali beristirahat. Hafiz menyibakkan rambut halus yang ada di kening Diana. Lalu mencium kening Diana dengan sangat lembut. Kemudian meninggalkan Diana dan menemui bibi yang sedang menyapu halaman di luar rumah.
Bibi membaca aura kesedihan di wajah Hafiz. Ia pun menghentikan kegiatan nya. Hafiz pun duduk di bawah pohon di ikuti oleh Bibi.
__ADS_1
"Bi, apakah di desa kita ini ada pengobatan tradisional? Hafiz sangat takut melihat kondisi Diana. Dia kembali mengeluarkan begitu banyak darah", Hafiz mulai berkaca kaca.
"Kenapa tidak dirawat kembali di rumah sakit aja nak", saran Bibi.
"Aura rumah sakit hanya akan membuatnya stress, dan itu akan menurunkan daya tahan tubuhnya. Sekarang bagaimana caranya membuat hati nya tetap bahagia bi, agar imun nya semakin kuat dan ia bersemangat untuk sembuh," jelas Hafiz lagi.
"Cari tau apa yang ia sukai, coba hibur dengan itu", saran bibi.
Hafiz mengangguk perlahan. Ia menatap ke pintu rumah. Lalu memandang sekelilingnya. Sewaktu ia baru menempati rumah itu dengan Diana, Diana telah berhasil mengubah teras rumah itu menjadi seperti taman bunga. Dengan beberapa pot bunga kesukaan nya. Kenangan itu membuat Hafiz semakin bersedih. Lalu ia memikirkan sesuatu.
"Bi, Hafiz titip Diana ya bi. Nanti sore sebelum maghrib Hafiz akan pulang. Bibi tolong temani Diana ya bi", pinta Hafiz.
Bibi pun menyetujui nya. Hafiz segera menaiki sepeda motor nya. Ia pun berkeliling desa. Ternyata ia berniat untuk membeli bunga di beberapa wali murid dimana tempat ia dulu mengajar. Ia ingin membawakan bunga2 yang indah untuk istrinya sebagai hadiah. Di tengah perjalanan, tiba tiba ada seorang gadis menyapa nya.
"Assalamualaikum mas Hafiz", sapa seorang hari berkerudung merah pada Hafiz.
"Waalaikumsalam", Hafiz menjawab singkat.
Seorang gadis yang pernah menyukai Hafiz di desa nya. Ia bernama Halimah. Hafiz tak begitu menghiraukan nya. Ia segera berlalu pergi. Namun Halimah memandang nya dengan sedikit kerutan di kening nya, menandakan kekecewaan. Halimah anak salah seorang ulama di desa tempat Hafiz tinggal. Hafiz juga mengetahui perasaan Halimah sejak dulu. Namun ia lebih tertarik dengan kepribadian Diana.
*******
Mohon maaf buat para readers.
Sepertinya saya akan segera menamatkan cerita ini.
Berhubung situasi dan kondisi kesehatan yang sangat tidak memungkinkan untuk tetap menulis.
__ADS_1
terimakasih banyak kepada pembaca setia ku.
Mohon maaf, kali ini tanpa pengeditan.