Hijab Dan Penantian

Hijab Dan Penantian
Aura Bahagia


__ADS_3

"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar"


(Quran Surat Al-Baqarah Ayat 153)


Di setiap tengah malam, Hafiz selalu bangun untuk melaksanakan sholat Lail memohon kepada sang pencipta untuk kesembuhan istri tercinta nya. Semua kelakuan Hafiz juga diperhatikan oleh Diana, Diana merasa semakin bersyukur dan terharu mempunyai suami sebaik dan sesoleh Hafiz. Semua upaya Hafiz untuk kesembuhan Diana ternyata tak sia sia. Kondisi Diana berangsur pulih. Wajah nya kini tampak lebih segar dan cerah. Sampai suatu pagi ada beberapa teman Hafiz menjenguk Diana di rumah.


"Assalamualaikum," ucap beberapa perempuan berkerudung putih dan dua orang pria dari luar pintu.


"Waalaikumsalam," Hafiz menjawab sambil berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.


Ternyata mereka adalah beberapa teman kerja Hafiz dan teman semasa Hafiz di Aliyah. Hafiz mempersilahkan tamu nya untuk masuk.


"Kami dengar istri antum sakit, jadi kita sama teman teman mau jenguk istri antum," ucap Pak Edi selaku yang tertua di antara mereka.


"Iya Pak, alhamdulillah sudah banyak peningkatan selama pulang dari rumah sakit. Sebentar biar ana panggil kan," Hafiz masuk ke dalam kamar untuk mengajak Diana menemui tamu nya.


Diana segera mengenakan hijab dan cadar nya lalu keluar menemui para tamu. Diana pun mengulurkan tangan nya kepada tamu perempuan, dan menangkupkan tangan pada laki laki.


"Ini ukh ada sedikit bingkisan dari kami, semoga ukhti segera sehat ya," ucap Halimah istri Edi.


"Masya Allah....jazakallah khoiron katsiron yah Um..." Diana menerima bingkisan itu dengan senang hati.


Terjadi lah percakapan di antara mereka, dimana para lelaki berkumpul di luar rumah dengan pembahasan mereka dan perempuan di dalam menemani Diana. Halimah berusaha menghibur Diana agar bisa tegar dalam melewati ujian dari Allah. Di samping Halimah, seorang gadis bernama Rahma hanya banyak diam dan sesekali melempar senyum. Diana hanya memandang sepintas lalu. Mungkin karena belum terlalu kenal pikirnya. Setelah lama berbincang, akhirnya para tamu beranjak mengundurkan diri.


********


"Kak, kenapa ya tadi si Rahma itu kok diam aja?" Diana mengawali percakapan sebelum tidur.


"Kenapa emangnya, bukannya wajar ya kalau ketemu orang yang belum terlalu kita kenal kita akan sedikit bicara," ucap Hafiz sambil membelai rambut Diana.


"Atau....jangan jangan si Rahma pernah jadi teman spesial kakak ya?" selidik Diana sedikit cemburu.


"Tidak juga, tapi bisa dibilang begitu juga lah..." Hafiz tertawa kecil membuat raut wajah Diana semakin cemberut. "Memang nya kenapa sayang? Kamu cemburu?" ucap Hafiz sambil mencubit hidung kecil Diana.


"Ih...apaan sih kak," Diana menyentuh hidung nya yang di cubit oleh Hafiz.

__ADS_1


"Siapa pun dia, yang jelas aku sayang dan cinta nya sama kamu sayang. Dan sekarang kamu yang jadi istri ku, yang akan menjadi ibu dari anak-anak ku," Hafiz mencium lembut kening Diana. Diana mendekap erat suami nya.


"Maaf ya kak, karena Ana belum bisa kasih anak buat kakak," tiba tiba butiran bening membasahi pipi Diana.


"Sayang, kamu jangan bilang gitu. Aku menerima kamu apa adanya. Kamu jangan memikirkan hal hal yang akan membuat kondisi kamu akan memburuk. Berpikirlah positif, dan selalu berhusnudzon pada Allah. Maka Allah sesuai dengan bagaimana prasangka hamba Nya," nasihat Hafiz membuat Diana lebih tenang dari sebelumnya.


Malam itu berlalu dibarengi dengan hujan rintik yang membasahi bumi. Diana tertidur dengan pulas. Kondisi nya juga berangsur pulih. Hari hari berlalu dengan sangat baik. Sehingga Hafiz pun sudah dapat bekerja kembali dengan mengurus perpindahan dinas kerja nya di sekolah yang dekat dengan rumah mereka. Diana sudah tampak sangat sehat. Wajahnya tampak begitu ceria, sampai saat ia sedang bersenang dengan tanaman hias nya, datang seseorang yang mengacaukan kembali keadaan hari nya.


"Hai....Udah sehat aja," sapa seorang wanita berambut panjang kepada Diana yang tak lain adalah si Anita.


"Astagfirulloh... Apa kamu gak bisa ucapan salam apa?" ucap Diana dengan mengelus dada nya akibat terkejut dengan kedatangan Anita yang tiba tiba.


"Mana kak Hafiz?" tanya Anita secara tak sopan dengan Diana. Diana tak menjawab sepatah kata pun karena merasa kesal dengan tingkah laku Anita yang tidak sopan padanya.


"Hei tuli, ditanya malah diam aja," Anita terus mengoceh dengan suara keras. Namun Diana tetap tak bergeming, ia tetap tak mau menjawab.


Bibi Farida melihat kedatangan Anita dari jauh, dan melihat ketidaksopanan Anita pada Diana. Bibi kemudian mendekati mereka berdua.


"Ada apa sih Anita, ngomong kok kayak mau demo gitu," ucap bibi.


"Kamu sih nanya nya gak sopan, pake marah marah pula," ucap Bibi berpihak pada Diana.


"Aku mau nyampein pesan dari Tante ku Bi," ucap Anita lagi.


"Ya sudah, kenapa gak di sampaikan aja sama Diana. Kan dia istrinya," ucap Bibi.


"Enggak ah, aku tunggu aja sampai kak Hafiz pulang," Anita si keras kepala tetap bertahan.


Diana tersenyum licik di balik cadar nya. Sambil mengajak bibi masuk ke dalam rumah. Sedangkan Anita tetap menunggu di halaman rumah. Sampai di dalam, Diana menceritakan soal kepergian Hafiz yang mengurus surat pindah dan kartu keluarga mereka. Dan kemungkinan Hafiz akan kembali larut malam, karena perjalanan nya agak jauh dari rumah. Hafiz juga berpesan agar Diana pergi ke rumah Bibi sebelum ia pulang. Lalu bibi melihat ke arah Anita, sambil tersenyum simpul.


"Lalu, bagaimana dengan dia?" tanya Bibi.


Diana hanya mengangkat kedua tangan nya tanda tak tahu akan apa yang harus ia lakukan pada gadis keras kepala yang menjadi adik sepupu Hafiz itu. Diana kemudian mencoba menjelaskan dengan baik kepada Anita tentang kepergian Hafiz yang akan pulang terlambat. Namun Anita tidak menerima penjelasannya dan tetap berkeras untuk menunggu Hafiz. Akhirnya Bibi dan Diana pun meninggalkan Anita di halaman rumah.


"Di, gimana keadaan kamu selama beberapa hari ini? bibi lihat kamu udah seger dan ceria," tanya Bibi.

__ADS_1


"Alhamdulillah bi, ini berkat bibi juga yang gak pernah bosan ngurusin Ana," ucap Diana sambil merapikan meja makan milik bibi.


"Trus, perut kamu gimana Di? Apa udah gak sakit sakit lagi?" tanya Bibi lagi.


"Alhamdulillah enggak kok bi, udah biasa aja. Ramuan herbal dari bibi juga masih tetap Ana minum," jawab Diana. "Oh ya bi, Ana mau tanya. Hamil itu gimana sih rasanya?" pertanyaan Diana membuat Bibi terdiam sejenak.


"Nanti kamu juga pasti akan merasakan nya," jawab Bibi singkat.


"Mudah-mudahan ya Bi, Ana udah gak sabar banget pengen cepet cepet punya beby, biar gak sepi kalo ditinggal kerja sama kak Hafiz," ucap Diana.


Waktu telah menunjukkan pukul 21.00. Terdengar suara sepeda motor Hafiz mendekat ke halaman rumah Bibi. Diana langsung menyambut kedatangan suami nya dengan suka cita. Namun dilihatnya Anita ada di balik tubuh Hafiz, yang tak lain Anita berboncengan dengan Hafiz di sepeda motor. Diana mengurungkan niat nya untuk membuka pintu.


"Bi, Ana pusing banget. Nanti kalau kak Hafiz tanya, Ana tidur di kamar adik April ya Bi," Bibi mengangguk mengiyakan.


*


*


*


*


*


HALLO READERS


mohon maaf untuk semua.


Setelah mengalami pendarahan, baru ini saya bisa menulis kembali.


Terimakasih sebesar besar nya untuk yang tetap setia.


Mohon doanya, agar author bisa update tiap hari ya.....


Love u so much....

__ADS_1


__ADS_2