
Dengan setengah gontai Fadhil berjalan menuju toko kue yang dipesan kan oleh Customer nya yaitu Hafiz. Separuh semangat nya hilang begitu mengetahui bahwa customer nya adalah suami dari wanita yang pernah ia cintai. Ingin sekali rasanya ia memeluk Diana dan menanyakan tentang kabar nya selama ini. Namun hal itu sungguh sesuatu yang sangat tidak mungkin untuk ia lakukan, terlebih Diana sudah menjadi milik orang lain. Fadhil merasa sangat frustasi, namun sebisa mungkin ia untuk tegar menghadapi kenyataan hidup ini.
"Selamat datang mas, ada yang bisa saya bantu?" ucap seorang pelayan yang ada di toko kue tersebut, namun Fadhil masih dalam lamunan nya.
"Maaf mas, mau cari kue apa ya?" Sekali lagi gadis itu memanggil Fadhil dan akhirnya Fadhil pun tersadar.
"Eh...iya. Saya cari brownis, tolong bungkuskan yah yang ini dan yang ini," Fadhil menunjuk ke beberapa kue sesuai pesanan Hafiz.
"Ini mas kue nya, dan totalan nya," gadis itu memberikan bungkusan kue kepada Fadhil dan Fadhil segera membayar nya.
Ketika Fadhil ingin segera beranjak dari tempat itu, gadis itu kembali memanggil Fadhil.
"Mas...Mas...ini kembalian nya," gadis itu setengah mengejar Fadhil yang saat itu seperti tak mendengar nya.
Karena terburu buru, gadis itu tidak melihat ke arah jalan saat ada sepeda motor yang melintas di depan nya. Dan....
BRAKKKK....
"Arghhhh...." teriakan gadis itu seketika di dengar oleh Fadhil dan membuat Fadhil langsung menoleh ke belakang. Melihat kejadian itu Fadhil langsung menolong gadis itu.
"Hei....kamu kenapa...., bangun lah..." ucap Fadhil khawatir pada gadis itu yang tengah pingsan.
Orang orang berlarian ingin melihat kondisi gadis yang terserempet sepeda motor itu. Sementara pengendara sepeda motor telah kabur entah kemana. Sang pemilik toko ikut keluar.
"Ya Allah....Aara......kamu kenapa nak?" ucap bu Laksmi pemilik toko.
"Biar saya yang membawa nya kerumah sakit buk. Ini tolong simpan kan ya bu," Fadhil memberikan bungkusan kue yang dibeli nya tadi kepada bu Laksmi.
Dengan sigap ia membopong tubuh Aara menuju parkiran hotel. Lalu membawa Aara dengan mobil nya menuju rumah sakit. Selama perjalanan, Fadhil mengirimkan sebuah pesan singkat ke ponsel Hafiz untuk memberitahukan perihal kejadian itu agar Hafiz tidak menunggu nya.
Tak butuh waktu lama, Fadhil pun sampai ke sebuah klinik terdekat. Ia lalu membawa Aara masuk ke dalam klinik. Beberapa perawat yang melihat segera menolong Fadhil.
"Tolong sus, dia terserempet sepeda motor," ucap Fadhil panik.
"Baik pak, kami akan segera menangani nya. Silahkan bapak tunggu di luar," ucap salah seorang perawat dan Fadhil pun duduk di ruang tunggu.
15 menit sudah, perawat pun keluar dari ruangan. Fadhil segera berdiri menghampiri nya.
"Bagaimana keadaan nya sus?" tanya Fadhil.
__ADS_1
"Bapak bisa melihat nya sendiri, di dalam masih ada dokter," ucap perawat itu mempersilahkan Fadhil masuk ke ruangan.
"Bagaimana keadaan nya Dok?" tanya Fadhil pada dokter.
"Gadis ini hanya mengalami luka ringan, sepertinya bapak tidak perlu khawatir. Hanya saja mungkin dia mengalami syok karena baru mengalami insiden itu. Sebentar lagi ia akan segera sadar," ucap dokter sambil berlalu meninggalkan Fadhil.
Fadhil memperhatikan dengan seksama gadis itu, terlihat usianya yang masih sangat muda. Kepolosan begitu terlihat di wajah Aara. Kerudung berwarna salem menambah kecantikan Aara. Fadhil termenung dalam diam, ia seakan bingung harus berbuat apa. Beberapa menit kemudian Aara pun sadar dari pingsan nya.
"Auww...." Aara meringis saat ingin mengangkat tangan kanan nya yang terluka.
"Kamu sudah sadar?" Fadhil mengejutkan nya.
Aara mengingat akan hal yang terjadi sebelum nya. Dia begitu ingat bahwa ia terserempet sepeda motor saat akan mengembalikan uang milik Fadhil.
"Ehm...maaf Mas. Tadi saya mau mengembalikan uang nya mas. Tapi....sekarang saya gak tau uang nya dimana," Aara tertunduk sedih.
"Astaga...jadi tadi kamu ngejar aku? Jadi gara gara kamu ngejar aku, kamu terserempet sepeda motor?" Fadhil mencoba memastikan.
"Maaf ya mas," Aara tertunduk sedih, matanya mulai berkaca kaca.
"Ya ampun, mestinya aku yang minta maaf ke kamu. Gara gara aku gak dengar kamu manggil aku, kamu jadi celaka begini... Maafin aku yah," ucap Fadhil sedih.
"Oh ya, nama kamu siapa? Dari tadi kita belum sempat berkenalan," tanya Fadhil.
"Panggil saja saya Aara mas," ucap Aara.
"Aku Fadhil," ucap Fadhil.
Setelah berkonsultasi dengan dokter, akhirnya Aara diperbolehkan pulang oleh dokter karena tidak ada luka yang parah. Fadhil mengantarkan Aara.
"Mas, ehm...masalah biaya nya, ntar kalau saya dapat gaji dari bu Laksmi, pasti saya akan segera ganti uang nya mas Fadhil," dengan berat hati Aara mengucapkan kalimat itu, ia menyadari kecelakaan ini akibat kecerobohan nya sendiri.
"Tidak perlu kamu pikirkan, aku lah yang paling bertanggung jawab atas kejadian ini," ucap Fadhil karena merasa gadis di hadapan nya saat ini memang sedang butuh pertolongan.
"Maaf ya mas, Aara jadi tidak enak. Apalagi kita baru kenal," ucap Aara lagi.
"Sudahlah, tak perlu dipikirkan. Oh ya, tolong save nomor hp kamu disini yah," Fadhil memberikan ponsel nya pada Aara.
"Ehm...Aara tidak punya ponsel mas," kata kata Aara mengejutkan Fadhil. Bagaimana mungkin di zaman modern seperti ini masih ada orang yang tidak memiliki ponsel.
__ADS_1
"Hah?" spontan Fadhil tak menyangka. "Ehm...kenapa tidak punya ponsel? Atau ponsel kamu rusak atau hilang?" selidik Fadhil lagi.
"Ehm...masih ada yang mau nampung kita berdua aja udah syukur alhamdulillah mas, mana mungkin berpikir jauh buat punya ponsel segala," ucap Aara kemudian.
Kenapa hati Fadhil jadi sedih mendengar penuturan Aara. Malang sekali gadis itu, namun ia tidak mau mengorek lebih dalam tentang Aara, takut gadis itu merasa tidak nyaman bila ia mengintrogasi nya lebih lanjut.
Tak lama kemudian mobil Fadhil telah terparkir di depan toko bu Laksmi. Tampak bu Laksmi dan seorang anak lelaki muda sudah menanti kedatangan mereka. Aara begitu bersemangat untuk segera menemui mereka.
"Alhamdulillah...kamu sudah pulang nak, gimana keadaan mu sekarang?" tanya bu Laksmi.
"Gak apa apa kok bi, cuma cedera ringan aja," ucap Aara santai.
"Terima kasih ya nak, sudah menolong Aara," ucap bu Laksmi sambil mempersilahkan Fadhil masuk.
Namun Fadhil teringat pada customer nya yang sudah sedari tadi menunggu di hotel. Ia langsung meminta titipan yang tadi diberikan nya pada bu Laksmi, dan segera bergegas dari tempat itu. Fadhil pun berpamitan pada mereka semua. Belum lagi Fadhil menyalakan mesin mobil nya, ponsel nya telah berdering. Tampak panggilan masuk dari ponsel Diana yang bertuliskan "Minny". Fadhil sangat yakin pasti yang menelpon nya adalah Hafiz.
"Assalamualaikum pak,"
"..."
"Iya pak, sudah kelar urusan nya, saya segera mengantar pesanan bapak,"
"...."
"Ya, baik pak,"
Fadhil menutup telpon nya dan segera mengemudikan mobil nya kembali ke hotel dimana tempat Hafiz dan Diana menginap.
Aara memandang kepergian Fadhil. Bersyukur bahwa masih ada orang sebaik Fadhil di zaman sekarang ini. Tanpa sadar senyum simpul terukir indah di bibirnya.
*
*
*
*
*
__ADS_1
Happy reading....