Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 11


__ADS_3

“Quirinus Hugo, nama yang bagus, aku suka,” ucap Annora. Dengan santai ia berjalan menuju arah pria yang sedang menatapnya secara intens, yakin kalau terkejut karena melihatnya bisa berkeliaran bebas padahal pintu sudah dikunci. “Usia tiga puluh tahun. Oke, lebih tua dua tahun dari aku.” Bibirnya semakin mengembangkan senyum kala mendapati kernyitan di kening pria itu semakin dalam.


Annora begitu santai, berani, dan tak ada takutnya. Dia langsung duduk di kursi kosong yang tak jauh dari Quirinus. “Kenapa menatapku sampai tak berkedip? Mulai terpesona?” Kedua sikut ditumpukan pada meja, lalu tangan untuk menopang dagu.


Quirinus menarik sudut bibir sinis. “Siapa kau sebenarnya?” Jika Annora tahu banyak tentangnya, berarti bukan orang sembarangan. Dan ia harus hati-hati terhadap manusia seperti itu. Mendapatkan informasi saja mudah, berarti melakukan apa pun juga bisa. Sinyal waspada langsung ia aktifkan.


“Annora, apa kau lupa? Aku pernah memperkenalkan diri,” ulangnya mengingatkan kembali. “Aku model terkenal, apa kau tak tahu?”


Dia mengedikkan bahu, hidupnya setidak peduli itu dengan orang lain. Bahkan nama-nama yang sudah pernah ditiduri pun selalu dilupakan. “Siapa koneksimu sampai tahu tentangku sedetail itu?” Quirinus sembari menikmati rokok dan sengaja ia keluarkan asapnya di wajah Annora supaya wanita itu terusik.

__ADS_1


Annora hanya mengibaskan tangan di depan wajah supaya menghalau asap. Dia tidak terlalu suka rokok. “Kau tidak tahu keluargaku? Dominique, sangat terkenal di Finlandia, bahkan Eropa.” Matanya sampai membulat. Perlu diragukan ketenaran keluarga besarnya kalau masih ada yang tidak tahu tentang mereka.


Lagi-lagi Quirinus mengedikkan bahu acuh. “Perlu aku tahu keluarga apa itu?” Suaranya sinis sekali.


“Jadi, kau tak tahu? Dominique? Keluarga pengusaha yang merajai banyak bisnis di Eropa?” Annora menganga seakan tak percaya.


“Tidak juga. Tapi, kau sungguh tak mengetahui?” Annora masih belum bisa percaya. Secara keluarga mereka sering dimuat dalam berita atau masuk televisi.


“Apa untungnya tahu ataupun tidak? Akan merubah kehidupanku? Tidak, kan?” Quirinus bangkit dari tempat duduk, dia masuk ke dalam dan meninggalkan Annora begitu saja.

__ADS_1


Sementara Annora tetap mengekor, mengikuti Quirinus yang memasukkan sesuatu di coffee maker. “Mustahil saja kalau ada orang yang tak tahu tentang keluargaku. Apa kau tidak pernah membaca berita atau menonton televisi?”


Quirinus memijat pelipis yang terasa berdenyut, pusing mendengar ocehan Annora yang tak ada habisnya. “Apa kau tidak bisa diam dan biarkan aku menikmati kehidupan yang tenang?” Matanya melotot marah. “Lagi pula bagaimana bisa kau keluar dari pintu itu, sementara sudah ku kunci dari luar.”


“Mudah, aku cukup mencari kawat atau benda apa pun yang bisa digunakan untuk merusak kunci. Tapi ternyata, justru aku menemukan ini.” Annora menunjukkan sebuah benda kecil. “Kalau mau mengurungku, pastikan dulu kau tidak menyimpan kunci cadangan di dalam kamarnya.” Dia tersenyum mengejek.


Quirinus berdecak, dia memang selalu menyimpan kunci cadangan di dalam tiap kamar. Bisa-bisanya lupa akan hal itu. Kakinya pergi meninggalkan Annora, hanya secangkir kopi yang dibawa untuk kembali menikmati pekatnya malam.


Bukan Annora namanya kalau tetap diam dan tak melakukan apa-apa saat diacuhkan. Kali ini dia menggeser kursi sampai berada di samping Quirinus persis. Duduklah di sana, melingkarkan tangan di lengan yang terasa sangat kekar dan keras, kepala juga disandarkan pada bahu yang nyaman sekali. “Apa enaknya sendirian kalau ada teman mengobrol lebih asyik.”

__ADS_1


__ADS_2