Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 26


__ADS_3

Quirinus sampai harus berperang sendiri di dalam kamar mandi. Entah sudah berapa lama ia tidak menggunakan tangan kekar itu untuk menggenggam bagian tubuhnya yang kini sedang tegak berdiri, terlihat menantang, tapi di matanya justru seperti sedang memperolok karena tidak mampu menghantarkan pada kenikmatan yang semestinya.


Lama sekali Quirinus tidak melakukan pengeluaran cairan dengan cara menggunakan tangan. Atau mungkin justru belum pernah karena baru tiga menit berlangsung pun ia sudah merasakan frustasi karena tak kunjung selesai dan tidak ada kenikmatan seperti saat ada lawan mainnya.


Sepertinya sejak Quirinus mengenal hubungan badan antara pria dan wanita, dia tidak pernah menggunakan tangan sebagai salah satu alat pemuas. Pria itu sudah rusak sejak dini, dan yang membuatnya seperti itu adalah orang-orang terdekat. Sungguh biadab memang.


Quirinus menggigit bibir dengan kuat. Telapak tangan kiri ditempelkan pada dinding seolah mencari tambahan kekuatan. “Annora ... kau berhasil membuatku gila,” erangnya seraya mempercepat gerakan tangan.


Meski sedang berada dalam mode berhasrat, tapi Quirinus berusaha menahan diri supaya tak keluar batas. Dia juga tidak mencari wanita lain untuk menuntaskan sesuatu yang terlanjur mengeras. Pria itu justru memilih bersusah payah sendiri, perjuangan menggunakan tangan yang nampaknya baru satu kali ini ia lakukan karena biasanya sudah pasti ada lawan main yang bisa dihentak atau menggoyangnya.


Akhirnya, setelah berjuang sendiri, berhasil juga membuat dinding kamar mandi disembur oleh noda-noda sialan. Quirinus menghembuskan napas lega. Ia menggerakkan tangan karena merasa pegal. Ternyata tidak enak bermain sendiri.


Quirinus lekas mengguyur dinding sebelum cairan mengerak di sana. Dia juga membersihkan diri sekalian dengan mandi supaya pikiran lebih dingin.


“Annora harus diatasi.” Quirinus mengambil selimut untuk dibawa ke bawah. Dia mandi tak lebih dari lima menit.

__ADS_1


Annora sejak tadi duduk di ruang makan. Matanya yang melihat Quirinus membawa selimut pun mengernyitkan kening sedalam rasa bingungnya. Pria itu terlihat berkilat basah di bagian rambut. “Kedinginan?” tebaknya.


“Tidak.” Quirinus menjawab seraya semakin mendekati Annora.


“Lalu, itu untuk apa? Mau dicuci?”


“Tidak juga.”


“Lantas?”


Annora menaikkan sebelah alis seraya mengikuti pergerakan Quirinus yang berjalan dan duduk di kursi hadapannya. “Tapi aku gerah.” Dia hendak menyingkirkan selimut itu.


Quirinus melotot pertanda jangan. “Nanti kau sakit, udara menjelang musim dingin itu lumayan menusuk kulit.”


“Pemanas ruanganmu sudah ku hidupkan sejak tadi, aku tidak merasakan kedinginan juga,” protes Annora. “Memangnya kau tidak merasakan kalau di sini terasa hangat?”

__ADS_1


Jelas saja Quirinus tak akan peka dengan suhu ruangan, tadi tubuhnya jauh lebih panas karena gairah. Jadilah mana paham dia.


“Jangan berani-berani kau lepaskan itu!” peringat Quirinus dengan suara lebih tegas dan memaksa.


“Kalau tidak dilepas, bagaimana caraku makan? Tanganku tertutup oleh kain tebal ini.” Annora menggerakkan tangannya yang tak nampak.


“Aku suapi.” Quirinus menarik piring di depan Annora, menggenggam garpu dan siap menyuapi wanita itu.


“Dengan senang hati.” Annora justru bahagia kalau Quirinus berubah perhatian dan tidak ketus seperti saat pertama bertemu. Dia membuka mulut ketika suapan pertama ada di depannya.


Quirinus makan secara bergantian dengan satu garpu yang sama. Dia terus mendapatkan ulasan senyum dari Annora yang membuat wanita itu tambah mempesona.


“Bisa kau berhenti senyum?” pinta Quirinus.


“Why?”

__ADS_1


Quirinus berdecak, dia tak pernah mengatakan kalimat ini pada wanita manapun, termasuk orang-orang yang pernah bercinta dengannya. Jadi, ini adalah kali pertama. “Kau terlalu cantik, dan itu sangat mengganggu.”


__ADS_2