
“Annora, keluar!” usir Daddy Danesh saat sang putri ikut masuk ke dalam ruang kerjanya.
“Kenapa? Aku juga ingin tahu obrolan Daddy dengan Qui.” Namun Annora tak langsung beranjak pergi. Namanya juga keras kepala.
“Aku ingin bicara berdua dengannya. Ini urusan antar lelaki,” tutur Daddy Danesh semakin diperjelas supaya sang putri tak banyak menimpali.
Annora mencebikkan bibir seakan menunjukkan kalau ia keberatan meninggalkan Quirinus. Padahal dirinya yang terlalu penasaran dengan topik obrolan.
Quirinus mengangguk memberikan pertanda supaya sang wanita keluar. “Aku berani di dalam sini, kau ke kamar saja tak apa.” Ia usap lengan Annora supaya menurut.
“Jangan katakan hal-hal buruk tentangku, Dad.” Annora melayangkan tatapan peringatan pada orang tuanya.
“Iya ... sudah sana.” Daddy Danesh mengibaskan tangan.
Annora memeluk Quirinus terlebih dahulu. Daddy Danesh sampai bergeleng kepala melihat sepasang anak manusia yang nampak lengket itu.
Daddy Danesh pun berdeham. “Tidak akan ku sakiti priamu itu. Hanya ku pinjam sebentar sudah seperti mau dipisahkan seribu tahun saja.”
__ADS_1
“Belum jadi suamiku ini. Takutnya nanti dia berubah pikiran dan tak jadi menikahiku kalau Daddy ada salah bicara.” Annora menyeletukkan keresahan hatinya.
“Tenang.” Quirinus mengusap puncak kepala sang wanita supaya tak banyak berpikir hal yang aneh-aneh.
Annora pun mengalah ditandai dengan hembusan napas pasrah. Dia mengayunkan kaki meninggalkan ruang kerja sang Daddy.
Kini tersisalah Quirinus dan si pemilik mansion. Mereka duduk saling berhadapan, hanya meja kerja sebagai sekat keduanya.
Suasana mendadak terasa tegang. Baik Quirinus dan Daddy Danesh, tidak ada yang memiliki wajah ceria. Mereka memasang mimik datar, memang pembawaannya seperti itu.
Meski dalam hati Quirinus sedikit tegang, terasa seperti akan menghadapi ujian. Tapi, pria itu berusaha untuk menunjukkan ketenangan.
Daddy Danesh tidak menanggapi berupa suara. Sosok itu menarik sebuah laci di meja, lalu mengeluarkan amplop putih, dan diletakkan ke hadapannya.
Quirinus bisa melihat sekilas dari logo dan tulisan pada amplop. Tertera nama sebuah rumah sakit.
“Maaf jika aku lancang,” tutur Daddy Danesh seraya membuka amplop dan memasukkan tangan ke dalamnya untuk mengambil sebuah dokumen.
__ADS_1
Quirinus mengerutkan kening karena tak paham dengan maksud pemicaraan. “Lancang karena?”
“Melakukan tes darah dan urine tanpa izin darimu.” Daddy Danesh meletakkan beberapa kertas berisi hasil laboratorium ke depan Quirinus.
“Kapan kau mengambil sampel dariku?” Quirinus tak pernah merasa diminta secara diam-diam. Jadi, masih bingung kenapa orang tua Annora berkata seperti itu.
“Kau ingat saat medical check up sebelum mulai menjadi model?” Dijawab anggukan oleh Quirinus. “Dan dokter mengambil sampel darah juga urine?”
“Benar.”
“Itu adalah perintahku pada agensi yang menaungimu supaya meminta kau melakukan medical check up.”
“Kenapa harus secara diam-diam?”
“Siapa tahu kau tak bisa diajak kerja sama jika tahu tujuanku adalah ingin menguji apakah kau memiliki penyakit menular akibat riwayat profesimu atau tidak. Sorry, aku hanya ingin melindungi putriku.”
Quirinus tak mempermasalahkan atau tersinggung. Merasa wajar jika seorang Daddy mencoba melindungi anak kesayangan. Justru dia sangat iri karena Annora memiliki keluarga yang sangat peduli. “It’s ok, aku paham dengan tujuanmu.”
__ADS_1
“Kalau begitu, bacalah hasilnya!” titah Daddy Danesh kemudian.
Quirinus memegang beberapa kertas tadi, dibaca dengan seksama seluruhnya. Banyak sekali yang diuji laboratorium. Mulai HIV, Gonore, Klamidia, Trikomoniasis, Sifilis, Herpes kelamin, dan masih banyak lagi. Nampaknya keluarga Annora sangat waspada terhadap penyakit yang bisa saja ia bawa dan merugikan.