
Dinginnya udara hari ini tidak berhasil menghalangi yang ada di bawah sana, diantara ujung paha itu agar tetap tertidur manis seakan tak terpengaruh oleh kondisi di depan mata. Nyatanya, milik Quirinus yang akhir-akhir ini tak pernah dipuaskan pada tempat yang semestinya itu mulai mendesak, meronta, hingga dia bisa merasakan kalau sekarang sudah pasti berubah wujud menjadi lebih besar. Mungkin, kalau dikeluarkan bisa membuat Annora menjerit melihat ukurannya. Keras, gagah, lurus tanpa bengkok, dan berurat. Jangan remehkan bagian lunak yang tak bertulang tapi mampu tegak dan memuaskan kaum wanita itu.
Ternyata, kemolekan tubuh seorang model, Annora Gemala Dominique jauh lebih membakar gairah di tubuh. Jadilah suhu udara yang kini berada di kisaran lima derajat celcius itu tak ada pengaruh apa pun.
"Kau itu mudah sekali birahi, ya?” tanya Annora dengan sangat santai seraya menunjuk bagian celana Quirinus. Baru sekarang ia menali handuk kimono itu hingga bagian depan tubuh tertutup.
Quirinus tidak menanggapi. Tapi, Annora itu benar-benar bukan wanita yang mudah diremehkan. Padahal tahu betul kalau ia sangat cepat turn on ketika melihat tubuh seksi Annora, tetap saja mencari masalah. Bahkan sekarang memakai bikini pula. Wajarlah ada kebakaran darah di seluruh aliran badan si gigolo itu.
__ADS_1
Kaki Quirinus terayun kian mendekati penghuni baru rumahnya yang tidak sopan dalam berpakaian. Tatapan mata terus mengunci seolah menunjukkan sebuah peringatan. Bukan salahnya kalau hari ini tidak bisa menahan diri lagi. Annora yang keterlaluan karena terus memancing. Gairahnya tidak sekuat baja atau beton, tapi setipis tisu dan sekecil bakteri kalau sudah Annora yang ia hadapi.
Annora sadar kalau jarak mereka kian menipis. Maka dari itu, sebelum diterjang, dia bergeser. “Aku mau mandi air hangat, sebelum membeku.” Dia hendak berjalan melalui Quirinus.
Tapi, mana mungkin pria itu membiarkan begitu saja. Tangan kekar Quirinus langsung mencekal pergelengan Annora, menarik sosok itu bertepatan dengannya yang memutar tubuh. Jadilah dada mereka saling bertubrukan.
Annora menaikkan sebelah alis. “Memangnya aku anak kecil, main-main. Ada-ada saja kau itu.”
__ADS_1
Tangan Quirinus yang ada di pinggul Annora kian turun dan berhenti pada area belakang yang empuk, menarik bagian bawah kimono supaya lebih naik, dan telapaknya kini berada persis di atas kulit. Dia mengusap dengan sentuhan sensual. “Selama ini aku berusaha menahan diri supaya tidak menyentuhmu. Tapi, nampaknya kau yang selalu mencari masalah denganku.”
“Masalah apa? Aku tidak pernah melakukan apa pun,” elak Annora.
“Masih tidak sadar, ya?” Baiklah, akan ia tunjukkan kesalahan besar Annora yang mau masuk ke dalam kehidupannya.
Kaki Quirinus semakin maju dan mendorong Annora supaya ikut bergerak. Dia terus mendesak wanita itu hingga terpentok di dinding berlapis kayu, sehingga tak bisa bergerak lagi.
__ADS_1
Jangan salahkan Quirinus, Annora sendiri yang masuk ke kandangnya. Disuguhkan makanan lezat, sayang sekali jika dilewatkan begitu saja. Kepalanya kian turun hingga hembusan napas menerpa leher Annora. “Sepertinya, diamku tidak membuatmu sadar diri kalau ... tubuhmu itu menggoda.” Dia melanjutkan kalimat berikutnya dengan berbisik di telinga. “Kurasa, kau memang perlu mendapatkan pelajaran yang ... mengenakkan.”