Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 70


__ADS_3

Beberapa hari terakhir ini Annora selalu menemani Quirinus ke sebuah lembaga pendidikan swasta. Itu bukan tempat layaknya sekolah pada umumnya yang mendapatkan pembelajaran berupa akademik. Tapi, di sana khusus untuk membantu orang-orang mengenali jati diri, kemampuan, dan ketertarikan akan suatu hal. Juga selalu diberikan motivasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan.


Annora tentu saja tahu lokasi seperti itu. Dahulu, dia juga dimasukkan ke dalam sana supaya mengenali bakat dan membangun keinginan akan sesuatu. Hampir seluruh keluarganya yang belum mengetahui minat bakat diusia lima belas tahun akan dimasukkan ke lembaga tersebut.


Satu sesi selalu berakhir dalam waktu tiga jam. Lumayan lama memang. Annora sampai ketiduran di ruang tunggu. Untunglah tempat itu memiliki sofa yang nyaman sehingga ketika kepala bersandar pun empuk.


Waktu menunjukkan pukul empat sore, tandanya sesi Quirinus sudah selesai. Ia lekas keluar dari ruangan yang isinya hanya tiga orang murid. Biaya pendidikan di sana sangat mahal, wajar kalau semuanya serba eksklusif. Satu pengajar hanya boleh mendapatkan maksimal lima orang demi menghasilkan sumberdaya manusia dengan kualitas bagus. Jadi, proses pembelajaran sangat efektif dan efisien karena satu grup berisi murid dengan minat dan bakat sama. Semua dikelompokkan setelah melakukan berbagai rangkaian ujian.


Quirinus berhenti berjalan saat di ruang tunggu melihat Annora tengah terlelap dalam posisi duduk. Ia dekati wanita itu dan menghempas pelan pantat di sisi kosong.

__ADS_1


“Nora, bangun, aku sudah selesai,” bisik Quirinus seraya tangan mengusap wajah Annora dengan sangat lembut.


Annora mengerjapkan mata, lalu perlahan membuka kelopaknya. “Sorry, aku lelah sekali. Tadi pulang pemotretan langsung menyusul ke sini.”


“Mau ku gendong ke mobil? Sepertinya kau masih mengantuk,” tawar Quirinus kemudian.


Namun Annora menggeleng. “Masih sanggup jalan.”


“Ya, sudah sore juga.” Annora menyatukan telapaknya dengan pria yang kini belum berstatus sebagai suami. Masih harus menunggu sampai Quirinus mendapatkan pekerjaan dan penghasilan. Tapi, tak masalah, asal penantian itu akan berakhir dengan indah.

__ADS_1


Awalnya mereka berjalan bergandengan. Tapi, lama-lama Quirinus melepaskan tautan tangan, dan berganti merangkul Annora. Mungkin terkesan biasa saja. Namun, hal-hal romantis seperti itu merupakan sesuatu yang baru pertama kali dilakukan olehnya. Wajar jika masih terkesan kaku.


“Duduk di belakang saja, aku bawa supir,” ucap Annora saat Quirinus hendak menuju bagian kemudi. Untung tangan sang pria sudah ditahan supaya tak langsung menyelonong.


Keduanya pun masuk ke dalam secara bergantian. Bagaikan tak ingin kehilangan satu sama lain, Annora dan Quirinus duduk dalam posisi berdempetan. Kepala si wanita juga menyandar terus pada bahu nyaman selain milik daddynya.


“Bagaimana hasil hari ini? Kau sudah mendapatkan referensi profesi apa yang cocok?” tanya Annora seraya tangan mengusap permukaan kulit Quirinus yang terus menggenggamnya.


“Profesi di bidang entertainment. Katanya wajah dan postur tubuhku sangat menunjang untuk itu.”

__ADS_1


“Oh ... good. Kau bisa menjadi model seperti aku, atau mau aktor juga oke. Nanti kita kursus lagi.” Annora sangat antusias. Walau sejak awal ia ingin menyarankan profesi itu, tapi lebih baik biarkan Quirinus mengetahui jati diri sendiri supaya bisa bekerja atas kemauan hati.


Quirinus selalu dibuat berdesir di bagian dada tiap kali Annora memberikan dukungan. Ia raih kepala wanita itu untuk ditahan supaya tak bergerak, lalu bibirnya maju hingga mendarat di kening. Kecupan itu sebagai tanda betapa sayangnya pada Annora. “Terima kasih karena kau sudah selalu ada untukku, memberikan pelukan dalam gelapku, mengulurkan tangan untuk menarikku menemukan cahaya dalam kehidupan ini, dan menuntunku mencari jalan baru.”


__ADS_2