Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 44


__ADS_3

Malam sekali Annora baru pulang ke rumah Quirinus. Dia mendapatkan omelan sepanjang rel kereta api oleh Agathias. Telinga juga sampai panas karena dijewer terus. Tapi, setelah dipikir-pikir, semua yang dikatakan kembarannya ada benar juga. Mungkin selama ini hanya obsesi oleh rasa penasaran tentang kehidupan Quirinus, bukan cinta. Semua debaran yang sering dirasakan bisa jadi karena pesona pria itu memang sangatlah kuat dan mendominasi.


Annora menekan jajaran angka di pintu, dan membuka kayu di hadapannya dengan lunglai. Sekarang ia mulai terpengaruh oleh nasihat Agathias yang terngiang terus di dalam kepala.


Kaki wanita itu pun melangkah perlahan. Lampu yang awalnya gelap seolah tak ada penghuni itu mendadak menyala semua, membuatnya terkejut karena sudah ada si pemilik rumah yang tengah berdiri tegak di depan sana. Hanya berjarak kurang lebih tiga meter.


Untuk sesaat Annora dan Quirinus terlibat saling pandang tanpa ada yang mengeluarkan suara satu pun. Pria itu mengamati dari atas sampai bawah, hanya melihat apakah Annora baik-baik saja atau tidak. Sebenarnya ingin sekali bertanya. Dari mana? Kenapa baru pulang saat malam hari? Tapi, semua kalimat tersebut tidak mungkin keluar dari bibir seorang Quirinus. Sadar diri dan posisi. Cukup memastikan kalau pulang dengan selamat.

__ADS_1


Quirinus berjalan begitu saja menuju dapur, mengambil air minum. Seolah-olah ia tidak peduli dengan kepulangan Annora. Padahal dalam hatinya cukup lega karena wanita itu masih mau menginjakkan kaki di sana.


Sementara Annora, menghembuskan napas lemas. Keputusannya semakin bulat untuk pulang. Melihat bagaimana respon Quirinus yang tetap dingin sampai sekarang, jadi otaknya membenarkan ucapan Agathias kalau selama ini yang ia lakukan hanyalah sia-sia.


Merasa diabaikan, Annora pun masuk ke dalam kamar. Dia mengemasi semua pakaian ke dalam koper yang sejak awal dibawa karena kehadirannya saat itu bertepatan dengan kepulangannya dari pekerjaan di luar negeri.


Annora kembali keluar dari kamar dengan menyeret koper. Si pemilik rumah yang melihat pun langsung menatap dengan alis naik sebelah.

__ADS_1


“Mau ke mana?” tanya Quirinus. Suaranya terdengar datar bagi orang yang penasaran.


“Pulang, aku sudah terlalu lama tinggal di sini dan mengusik hidupmu,” jawab Annora. Wajahnya jelas tidak bersahabat. Sama, datar.


Quirinus bangkit dari duduknya yang sejak tadi memang sengaja di sana karena menanti apakah Annora mungkin lapar atau tidak. Dia tadi sudah memasak untuk wanita itu, hitung-hitung gantian. “Sudah malam, kenapa tak besok saja pulangnya?” Tubuh kekar itu berdiri menghalangi jalan Annora.


Annora menggeleng. “Lebih cepat semakin baik.” Dia menepuk dada Quirinus yang terasa keras, lalu berbicara tanpa mendongak. Akan tetapi, kepalanya sedikit menunduk hingga ujungnya menyentuh pada dada pria itu. “Aku sudah memutuskan untuk menyerah, berhenti mengusik ketenanganmu. Kau sekarang bebas, Qui. Tidak akan ada lagi seorang Annora yang mengganggu di rumahmu.”

__ADS_1


Tangan Annora lalu meraih koper. Baru sekarang ia mendongak dan menunjukkan mata berkaca-kaca. “Bye ... Quirinus. Ku harap hidupmu jauh lebih baik setelah aku pergi.”


__ADS_2