Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 55


__ADS_3

Seharusnya Annora senang karena ia bisa terbebas dari Virza dan ditolong oleh Quirinus. Tapi, wajah cantiknya justru terlihat muram bukannya menunjukkan lega serta bahagia.


Annora memang bersyukur masih mempertahankan diri sampai detik ini. Namun, yang membuat dia tak bisa selega itu adalah pria di depan matanya. Quirinus terlihat santai sekali meski semalam sudah melihat betapa kacau dirinya karena hendak dijahati oleh orang lain.


Dari ratusan juta manusia di muka bumi ini, kenapa harus Quirinus yang menolong? Annora bukan tidak bersyukur setelah dibantu, tapi ... tahu sendiri bagaimana selama ini mencoba menjauh dan melupakan sosok itu, sangat sulit. Lalu, sekarang ia dihadapkan oleh kebaikan Quirinus. Argh ... rasanya ingin berteriak kesal karena usaha yang dilakukan sejauh ini seakan sia-sia.


“Kenapa diam saja di situ? Masih pusing?” Quirinus kembali berbicara karena Annora hanya mematung dan melamun.


Tak mendapatkan tanggapan, Quirinus pun membawa gelas berisi ramuan herbal untuk mengurangi pengar. Dia dekati Annora yang tak berkedip sedikit saja.

__ADS_1


“Masih terkejut dengan kejadian semalam?” Quirinus menyodorkan gelas ke depan Annora.


Barulah wanita itu berhenti melamun dan melihat ke arah benda yang disodorkan padanya. Annora meraih itu. “Thanks,” ucapnya dengan sedikit kaku. Ia berusaha untuk menunjukkan sikap dingin dan tidak menampakkan betapa senang diperhatikan oleh Quirinus.


Ingat! Pria itu tidak jelas perasaannya padamu! Dia melakukan semua ini bisa jadi karena iba, bukan cinta. Annora berusaha sadar diri supaya tak terlalu menggebu, walau pada kenyataannya adalah sampai detik ini pun perasaan pada Quirinus masih tetap sama.


Annora meneguk habis cairan tersebut. Menghiraukan Quirinus yang terus mengawasi. Mungkin sebatas memastikan ia tidak menyisakan sedikit saja, bukan tertarik dengannya.


Annora mengedikkan bahu acuh. “Lumayan.” Dia berjalan begitu saja melewati si tuan rumah, menuju dapur untuk mencuci gelas kotor yang ada di tangannya. Sekaligus membasuh wajah supaya lebih segar.

__ADS_1


Quirinus menatap heran, meski hanya punggung yang bisa ia saksikan. Annora jauh sekali berbeda. Tidak ada antusias seperti sedia kala, tak ada perilaku menggebu-gebu untuk mendekatinya, dan kini sosok itu acuh juga dingin dalam merespon setiap interaksi dengannya.


“Apa aku memiliki salah denganmu, Nora?” Quirinus bertanya seraya mendekati Annora. Namun berhenti ketika berada dalam jarak lima langkah.


Iya! Ada, salahmu adalah karena tidak mencintaiku! Rasanya Annora ingin menjawab seperti itu. Tapi, semua tertahan dalam hati. Dia tidak mau memberikan kesan masih mengejar Quirinus.


Lagi-lagi hanya kedikan bahu yang diberikan sebagai tanggapan. Annora memasang wajah sedatar mungkin, seperti halnya Quirinus yang tak pernah menatapnya dengan sorot penuh rasa.


“Jaketmu aku pinjam, aku tak bisa pulang hanya menggunakan dalaman saja.” Annora mengibaskan tangan setelah mencuci dan masih meninggalkan jejak basah.

__ADS_1


“Nanti akan ku kembalikan setelah dicuci bersih,” imbuh Annora kemudian. Dia tidak bisa terlalu lama di rumah Quirinus, harus segera pergi karena takut kalau usaha melupakan pria itu akan gagal. “Aku pulang dulu,” pamitnya kemudian seraya melewati sosok tinggi, gagah, dan bertubuh sangat kekar.


__ADS_2