Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 27


__ADS_3

Annora sadar betul kalau dia terlahir cantik tanpa operasi, hanya rutin dirawat dan memakai skincare. Badan bugar karena rajin olahraga. Tubuh terbentuk kencang semua akibat pola hidupnya bagus dan sehat.


Banyak orang yang selalu memuji paras Annora. Dia merasa biasa saja ketika ada yang mengatakan cantik dan lain sebagainya. Seperti bukan sesuatu yang istimewa.


Tapi, kenapa rasanya lain kalau kata itu terucap dari bibir Quirinus? Annora menjadi tersanjung dan hatinya seperti digelitik oleh sesuatu. Mungkin karena yang memuji adalah orang yang ditaksir? Atau disebabkan oleh bibir pria dingin yang mengucapkan? Apa pun alasannya, yang pasti wanita itu sedang berbunga-bunga karena Quirinus memperhatikan penampilannya.


“Namanya juga model, kalau tak cantik mana laku.” Annora mengerakkan kepala hingga rambut terkibas dan berkumpul di satu sisi bagian kanan. Leher kiri begitu bebas terekspose.


Quirinus sampai harus mengembuskan napas kasar, lalu berusaha mengalihkan pandangan supaya tidak tertuju pada Annora terus. Bisa-bisa bermain di kamar mandi jilid dua kalau miliknya bertransformasi lagi.

__ADS_1


Selama belum bisa menemukan cara mengontrol pikiran, Quirinus buru-buru menghabiskan makannya sebelum kejadian beberapa saat lalu terulang lagi. Mungkin ini efek dari dua minggu lebih tidak melakukan pengeluaran cairan, jadilah melihat Annora langsung menjadi seperti cacing kepanasan.


“Mau ke mana?” tanya Annora saat Quirinus berdiri begitu saja dan terlihat hendak melangkahkan kaki.


“Atas, istirahat.”


“Enak saja, obat yang satu hari tiga kali belum diminum.” Annora lekas bangkit hingga meninggalkan selimut teronggok begitu saja di kursi.


...........

__ADS_1


Sudah dua minggu ini Annora tinggal di rumah Quirinus. Wanita itu tidak pernah pulang ke mansion orang tuanya, meliburkan diri dari aktivitas model, hanya mengurus pekerjaan kantor melalui ponsel untuk mendapatkan report via chat atau telepon. Sudah seperti tempat tinggal sendiri saja.


Annora santai tinggal satu rumah dengan pria yang ditaksir. Toh sampai sekarang ia baik-baik saja. Dia sangat percaya pada Quirinus yang tak akan berani macam-macam. Buktinya, hingga detik ini pria itu tak pernah melakukan apa pun, menyentuh juga tidak. Justru beberapa kali membuat jarak beberapa meter, tapi ia yang selalu mendekat.


Sementara Quirinus, si pemilik rumah tentu saja terganggu. Bagaimana tidak? Annora setiap hari berkeliaran di depan mata dengan pakaian yang selalu menampakkan area paha. Hei ... dia tidak buta, meski berusaha tidak melihat, tetap saja ada momen yang membuatnya sulit memalingkan wajah. Tapi, untung saja semakin lama ia bisa mengendalikan diri supaya tidak turn on sembarangan seperti saat itu. Selain agar tak memalukan, juga tidak mau menyiksa diri karena harus bermain menggunakan tangan.


“Apa kau bisa menggunakan baju dan celana yang lebih panjang lagi?” protes Quirinus ketika Annora baru saja menghempaskan tubuh di sofa sampingnya. Tentu saja hal itu membuat mata jelalatan melirik ke arah paha mulus sialan.


“Memangnya kenapa? Aku suka dengan style seperti ini kalau di rumah. Simple dan tidak membuatku gerah.” Annora masih berkutat dengan ponsel, mengurus pekerjaannya dari sana.

__ADS_1


Quirinus meraih pundak Annora dan mengarahkan wanita itu hingga menatapnya. “Penampilanmu terlalu seksi, meski katamu simple dan nyaman.” Perlahan kepalanya semakin mendekat dan berhenti tepat di samping telinga. Dia membisikkan sesuatu. “Tapi, bagiku sangat mengganggu. Jangan salahkan seandainya batas kesabaranku habis karena setiap hari kau goda.”


__ADS_2