
Jangan harap Quirinus akan menjawab dengan kata cinta, tertarik, atau berniat menikahi Annora. Sepanjang hidupnya tidak pernah merasakan semua itu. Dia memang nyaman dan tidak ingin wanita itu pergi menjauh. Tapi, bukan berarti langsung disimpulkan kalau ada perasaan.
Jadi, jawaban yang Quirinus berikan pada Danesh adalah sebuah kedikan bahu. “Anakmu yang tidak mau pergi, bukan aku yang menahannya.”
Danesh diusia menjadi orang tua benar-benar dibuat harus mengusap dada menghadapi pria yang ditaksir oleh Annora. Tapi, dia tetap memahami karena memang anaknya yang keras kepala. “Aku mohon padamu, jaga dia.” Hanya itu yang bisa dia sampaikan dan minta.
Quirinus tidak menanggapi, dia justru melihat jam di pergelangan tangan yang sudah menunjukkan kalau obrolan mereka berlangsung selama tiga puluh menit. “Aku harus pulang.”
__ADS_1
Tanpa mendapatkan persetujuan dari tuan rumah, Quirinus langsung berbalik badan dan melangkah pergi. Tidak peduli mau dianggap tak sopan atau semacamnya. Seacuh itu memang dengan pemikiran orang lain terhadap dirinya. Toh dia tak ingin dipandang atau dinilai baik, hidupnya itu buruk, sangat suram. Tak ada untungnya berpura-pura baik di depan orang lain, bahkan orang tua Annora sekali pun.
Quirinus segera menaiki motornya lagi. Dia melaju kencang karena mengantuk kalau kecepatan lambat. Lumayan, dalam waktu dua puluh lima menit sampai ke area yang penuh pepohonan tinggi. Langsung memarkirkan kendaraannya ke dalam garasi supaya tak beku kalau di luar. Udara sudah mulai terasa dingin.
Masuk ke dalam melewati ruang santai. Dia sudah tak mendapati Annora di sana. Terakhir kali pergi, wanita itu tertidur di atas sofa.
Quirinus meletakkan papperbag ke atas meja. Dia mencari keberadaan Annora. Bukan karena takut wanita itu pergi, tapi siapa tahu terluka atau semacamnya. Mengingat rumahnya ada di tengah hutan yang pasti ada hewan liar bisa saja menyusup masuk. Misal ular, kalajengking, dan sebagainya.
__ADS_1
Quirinus pun memastikan, apa benar itu Annora? Dan ... saat ia berhenti di ambang pintu dan menyandarkan tubuh di bingkai pintu, kepalanya bergeleng. Dia gila atau aneh? Cuaca sedang dingin masih saja berenang.
Sudah dipastikan air pun suhunya ikut turun karena Quirinus tidak membuat kolam renang dalam versi hangat. Kalau berendam bisa di dalam, ada jacuzzi.
Quirinus tersenyum miring sembari bergeleng kepala saat Annora menyadari kehadirannya di sana. Tak lama kemudian, wanita itu menepi dan mulai naik.
Dua bola mata si pemilik rumah langsung membola seketika. Annora hanya memakai bikini dan berjalan santai ke arahnya. Hei ... Quirinus baru bertemu orang tua wanita itu dengan segala macam ancaman dan permohonan yang tak pernah ia sepakati. Lalu, sekarang langsung disuguhi pemandangan yang menggoda. Bagaimana bisa tahan kalau setiap hari seperti itu terus. Yang ada dia gila.
__ADS_1
“Airnya dingin, seperti kau,” ucap Annora seraya meraih handuk kimono yang ada di atas kursi. Dia tidak menutupi penuh karena tali tidak diikat, sehingga bagian depan tubuh tetap bisa dilihat jelas oleh Quirinus yang sejak tadi tidak berkedip.
Quirinus mengepalkan tangan. Kilatan matanya tidak lagi bisa ditahan dari gejolak yang sudah mendesak.