Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 47


__ADS_3

Quirinus hidup sendirian lagi bukan sekedar dalam hitungan hari maupun minggu, tapi sudah terhitung lebih dari satu bulan. Selama kepergian Annora, suasana rumah jadi kembali sepi, makan sehari-hari pun tidak teratur karena tak ada yang mengomel kalau ia terlambat mengisi perut.


Si pemilik rumah itu hampir setiap hari duduk di ruang makan, seperti sekarang. Quirinus tidak melakukan apa pun di sana, hanya menatap kosong ke arah tempat-tempat yang sering digunakan Annora beraktivitas. Dapur, sofa, lokasi yang kini ia duduki, kolam renang.


Quirinus merasakan hari-hari yang dilalui sangatlah sepi. Padahal, dahulu sebelum ada Annora masuk ke dalam kehidupannya pun selalu sendiri. Entah kenapa kali ini berbeda, ada sesuatu yang membuat hampa, tapi ia tak tahu kenapa.


Dahulu Quirinus jarang memegang ponsel, kalau ada yang menghubungi saja. Tapi, sejak tak ada Annora, pria itu sering memandangi layar berukuran enam koma tujuh inch. Walau pada kenyataannya sampai detik ini tidak ada yang menghubungi. Hanya ponsel khusus menerima klien saja sering mendapatkan panggilan.


Quirinus sempat berpikiran ingin menghubungi Annora. Tapi, diurungkan karena ia tidak mau mengganggu. Mungkin wanita itu memiliki kesibukan atau sudah menemukan pria lain yang bisa membuat hati lebih berdebar. Dia mencoba untuk sadar diri kalau kehidupan mereka memanglah berbeda bagaikan langit tertinggi dan kerak bumi.

__ADS_1


Namun, alasannya tak sekedar itu saja, Quirinus juga bingung kalau menghubungi Annora mau memakai alasan apa? Dia bukan seseorang yang mau menghubungi orang lain. Bahkan bisa dibilang tidak sekalipun pernah menelepon terlebuh dahulu. Jadilah selama satu bulan terakhir tak ada interaksi dengan Annora.


Pernah—bahkan hampir sering Quirinus keluar rumah dan tanpa sadar menuju area mansion keluarga Annora. Tapi, hanya berhenti sampai di gerbang karena untuk masuk ke dalam pun tidak sembarangan. Berjam-jam ia hanya menanti, siapa tahu terlihat mobil Annora keluar atau masuk. Nyatanya, tidak pernah nampak sosok wanita yang berhasil membuat kesehariannya jungkir balik.


Quirinus terhenyak dari lamunan panjangnya saat ponsel berbunyi. Dia langsung mengalihkan pandangan pada layar. Menekan tombol matikan karena itu adalah suara dari alarm, bukan telepon dari seseorang.


Quirinus segera bersiap. Tadi adalah alarm pertanda kalau ia harus pergi ke yayasan. Itu hanyalah pengingat supaya tidak lupa untuk melakukan donasi rutin.


Dari penampilan, pekerjaan, dan kebiasaan Quirinus sangatlah mencerminkan seorang berandalan. Tapi, sebagian dari uangnya tidaklah dinikmati sendiri. Dia selalu mendonasikan tujuh puluh lima persennya karena merasa tidak terlalu membutuhkan banyak uang untuk kehidupan sehari-hari.

__ADS_1


Tidak perlu lama, Quirinus cukup memakai jaket tebal. Selama musim dingin, ia tidak mengendarai motor, tapi mobil yang memang jarang dikeluarkan dari garasi.


Butuh waktu kurang lebih tiga puluh menit untuk sampai ke yayasan yang selalu dikunjungi tiap bulan. Biasanya bisa lebih cepat, tapi berhubung jalanan sudah pasti licin, dia tidak mengebut.


Saat Quirinus memarkirkan mobil, ternyata sudah ada kendaraan roda empat yang terparkir lebih awal di sana. Nampak mahal dan kinclong, pasti milik donatur juga. Dia tidak peduli, tujuan datang ke sana adalah menyerahkan sebagian uangnya.


Quirinus lekas turun dan tidak lupa membawa sebuah cek yang sudah ia bubuhkan nominal beserta tanda tangan. Ia berjalan dengan fokus ke depan dan tak peduli dengan sekitar.


Namun, saat Quirinus hendak membuka pintu, ternyata ada orang yang terlebih dahulu mendorong dari dalam. Seharusnya ia tidak peduli seperti biasanya. Tapi, kali ini tak bisa karena yang ada di depan mata adalah wanita yang akhir-akhir ini selalu membuatnya melamun. Annora.

__ADS_1


__ADS_2