Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 25


__ADS_3

Penampilan Annora sangat tidak ramah dipandang terlalu lama. Padahal wanita itu masih berbusana, bukan bikini atau tanpa sehelai benang pun. Tapi, begitu saja berhasil membuat Quirinus tidak berkutik dengan segala pikiran kotornya terus berkeliaran dalam otak.


Sudah tahu tanda bahaya, masih saja Quirinus berdiam diri di ujung tangga paling bawah. Dia tidak berkedip sedikit pun, memandangi setiap lekuk tubuh Annora dari atas hingga bawah. Rambut dicepol acak, turun ke leher yang mulus. Uh ... pinggang nampak pas sekali tidak terlalu berlebihan, pantat juga terisi dengan volume yang semestinya. Semakin ke bawah, paha sampai kaki itu terlihat panjang dengan ukuran kecil dan putih tanpa noda. Semua terawat dengan sempurna. Perpaduan pas jika digabungkan bersama wajah cantik dan buah dada kencang. Cocok, pantas saja memilih menjadi model.


Mau memalingkan wajah ke semparang arah tapi sayang, pemandangan di depan sangat bagus. Namun, kalau tetap mempertahankan diri pun ia merasa gerah. Celananya sesak sakali, padahal memakai boxer. Ia menunduk sebentar untuk memastikan. Ya ... pantas saja seperti terhimpit sesuatu, ternyata ada yang meronta di bawah sana.


Momen paling tersiksa dalam hidup Quirinus adalah saat bergairah tapi tak mampu menyentuh orang yang berhasil membangunkan hasrat. Semua terbentur oleh aturannya sendiri yang tak ingin merusak wanita baik-baik.

__ADS_1


Annora memang keras kepala, terus berusaha berada di sisi Quirinus tanpa takut mara bahaya. Tapi, pria itu tahu dan bisa membedakan mana orang yang sudah rusak dan belum. Jelas sekali Annora bagaikan bunga mekar yang indah dan wangi di samping bunga bangkai yang busuk. Sangat berbeda dan pasti tidak pantas disandingkan.


Anehnya, cukup dengan memandang tanpa berniat memiliki pun Quirinus merasa puas. Mungkin dia terlalu sadar diri dengan hidupnya yang penuh kekurangan, tanpa memiliki kelebihan satu pun.


“Loh ... sudah bangun? Nyenyak tidurnya?” Annora langsung mengeluarkan suara saat berbalik badan dengan membawa dua piring berisi makanan.


Quirinus lekas tersadar dengan seluruh imajinasi liar dan tidak pantas untuk dihayalkan. Dia buru-buru berbalik badan untuk menyembunyikan sesuatu yang tengah mengeras. Annora tidak boleh melihat kalau saat ini ia sedang turn on.

__ADS_1


“Iya, lima jam aku tidur, lelah juga kalau terlalu lama,” jawab Quirinus tanpa memandang Annora. Dia sembari mengusap-usap yang membengkak di bawah sana supaya lekas kembali tidur pulas sebelum ketahuan.


“Tadinya mau aku bangunkan kalau selesai masak masih tidur. Tapi, ternyata sudah turun duluan. Baguslah.” Annora menaikkan sebelah alis karena berkomunikasi dengan punggung kekar Quirinus. “Are you ok?”


“Ya.”


“Biasanya kau selalu menatap lawan bicara kalau sedang mengobrol. Kenapa sekarang memunggungiku? Apa ada sesuatu yang salah?”

__ADS_1


Kepala Quirinus menggeleng. “No ... aku mau naik ke atas sebentar.” Dia menjejakkan kaki ke anak tangga lagi karena miliknya tak kunjung kembali dalam bentuk normal.


Biasanya, saat bekerja menjadi pemuas para wanita, Quirinus perlu banyak pemanasan untuk membangunkan predatornya. Tapi, dengan Annora sungguh gila, hanya menatap body yang seksi pun berhasil bertransformasi tanpa banyak usaha.


__ADS_2