
“Kau punya rumah, sudah cukup untuk tempat kita tinggal nantinya.” Ada saja sanggahan yang diberikan oleh Annora. Wanita itu terus mendesak, mungkin sampai Quirinus berkata iya baru menyerah.
Quirinus mulai gemas, dia tarik tubuh wanita itu hingga posisi Annora menjadi di pangkuannya. “Aku tetap memintamu untuk menunggu. Tapi, jika selama rentang waktu itu kau menemukan pria yang jauh lebih baik dariku, silahkan berhenti menanti dan mulailah bersama dia. Cinta tak harus memiliki, kalau ada yang lebih baik, untuk apa bersama yang buruk? Iya, kan?”
“Tapi aku maunya bersama yang buruk.” Annora menyengir saat mendapati wajah Quirinus mulai menyerah menanggapi timpalannya.
Terlalu gemas oleh tanggapan Annora yang tidak pernah kehabisan kata, Quirinus pun kian mendekatkan wajah dan menempelkan bibirnya. Dia cium wanita itu supaya diam dan tak menimpali lagi. Setiap tarikan di lidah yang ia lakukan bukan diikuti oleh napsu, tapi murni ada rasa terkandung di sana.
Annora juga tak pasif, dia bisa mengimbangi dengan membalas tiap sesap yang dilakukan. Kali ini terasa lebih mendebarkan karena sudah tahu kalau mereka memiliki perasaan satu sama lain.
“Oke, aku akan menunggumu. Tapi, izinkan aku untuk membantumu mencarikan pekerjaan, oke?” tawar Annora setelah Quirinus mengakhiri ciuman keduanya.
__ADS_1
“Ja—” Belum juga satu kata terucap, mulut Quirinus sudah dibekap oleh Annora hingga ia tidak bisa memberikan sebuah penolakan.
“Harus mau dibantu. Kau sudah pernah mencari sendiri tapi tak pernah berhasil, kan? Maka, saatnya menerima bantuan. Aku memiliki banyak koneksi,” tegas Annora, pertanda ia tidak mau dibantah.
Quirinus menghela napas pasrah. Dia kalah berdebat karena Annora memiliki suara dan tekad yang lebih dominan. “Oke. Tapi, bisa kau pindah lagi ke sebelah?” Matanya melirik ke arah yang dimaksud. Posisi memangku wanita itu membuat kurang nyaman karena sudah pasti ada yang bisa sewaktu-waktu memberontak di bawah sana.
“Oops ... sorry, keenakan.” Annora menyengir, lalu ia melangkahkan kaki menuju jok sebelah.
Quirinus bernapas lega, miliknya sudah sempat berkedut dan sekarang berhasil menggagalkan supaya tak bertransformasi pada bentuk yang tidak semestinya. Ia melajukan kendaraan untuk kembali ke rumah.
“Em ... Qui?” Setelah lima belas menit melaju, Annora mau mengajak bicara. Kepala selalu menengok ke samping ketika ingin berbicara dengan pria itu.
__ADS_1
“Hm?” gumam Quirinus. Hanya sekilas melirik, langsung fokus lagi ke jalan.
“Kau mau sekolah lagi atau tidak?” tanya Annora.
“Bukankah sudah cukup terlambat? Usiaku tiga puluh tahun.”
“Sekolah membangun karakter dan skill maksudku. Kalau akademik, kurasa sudah tak perlu. Lebih baik menambah kecakapan saja.”
Quirinus mengedikkan bahu. “Aku belum pernah mencoba.”
“Tapi kau mau?” Annora melepas seatbelt karena kendaraan sudah sampai di rumah dengan ornamen kayu mendominasi. “Jadi, nanti di sana akan digali terlebih dahulu potensi terbesarmu ada di bidang apa. Dari situ baru ditentukan skill yang akan diperdalam.”
__ADS_1
“Jika menurutmu itu bagus, bisa ku coba.” Quirinus membuka pintu, lalu turun bersamaan dengan Annora yang meninggalkan mobil juga.
Keduanya masuk ke dalam rumah lagi. Tepat di dekat meja tempat Annora meletakkan cek, ia baru ingat kalau itu belum disentuh oleh Quirinus. “Qui, kau mau terima cek dariku atau tidak? Ini lumayan bisa ditulis nominal sesuai permintaanmu. Siapa tahu butuh untuk modal.”