
“Wait.” Annora menjeda sejenak pembicaraan tentang kesepakatan yang entah apa. Tapi dia sudah berpikiran kalau Quirinus ingin membuat perjanjian, mungkin seperti kakek dan neneknya dahulu atau kedua orang tuanya yang memiliki sebuah surat perjanjian sebelum menikah. Otaknya tiba-tiba langsung berbunga. Namun, ada hal penting lain yang perlu dibereskan terlebih dahulu.
“Pinjami aku charger ponselmu,” pinta Annora kemudian. Ia baru teringat kalau alat komunikasi genggamnya masih mati dan semalam belum sempat diisi daya baterainya. Terlalu terlena oleh bahu Quirinus yang nyaman, hingga membuatnya lupa untuk memberikan kabar pada Daddy. Pasti sekarang sedang bingung mencari putri satu-satunya yang tidak pulang semalaman.
Sebelum membuat gempar seluruh keluarga, Annora harus terlebih dahulu menghubungi. Dan langkah pertama adalah membuat ponselnya hidup terlebih dahulu.
Quirinus tidak menanggapi. Tapi dia beranjak pergi dari ruang makan untuk naik ke atas menuju kamar. Tidak berselang lama, turun lagi dengan membawa charger yang diminta. Tanpa mengeluarkan suara, pria itu meletakkan di depan Annora begitu saja.
“Thanks.” Annora berucap diiringi sebuah senyuman. Buru-buru ia mencari saluran listrik yang bisa dicolok. Namun, karena bukan tempat tinggalnya, jadilah sedikit kebingungan dan hanya mondar mandir.
__ADS_1
Quirinus menghembuskan napas kasar. Hanya mau bicara tentang kesepakatan yang dia inginkan pun butuh waktu lama. Sungguh memuakkan.
Si pemilik rumah pun kembali berdiri dan menghampiri Annora. Langsung merebut charger dan ponsel. Dia seakan paham dengan kebingungan wanita itu.
“Oh ... ternyata di situ ada,” gumam Annora. Ternyata di dekat meja bar ada saluran listrik yang bisa dimanfaatkan untuk mengisi daya baterai ponselnya. “Warnanya sama dengan interior yang bernuansa kayu, jadinya aku tak melihat,” jelasnya kemudian, walau Quirinus tidak terlalu ingin tahu.
Annora lalu duduk di stool, berhadapan dengan Quirinus. Sejak tadi pria itu sudah menatapnya tajam walau tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Ah ... lelaki dingin memang sangat menarik.
Namun, balasan yang didapat justru berupa senyuman miring bercampur sinis di wajah Quirinus. “Siapa juga yang mau menjalin hubungan denganmu.”
__ADS_1
“Kau, memangnya kesepakatan apa lagi saat seorang pria dan wanita mau membuat surat perjanjian, kalau tidak menyangkut sebuah hubungan?”
“Kesepakatan yang mau aku tawarkan adalah kau boleh pergi dari sini dengan selamat dan utuh tanpa cacat sedikit pun, asalkan harus berjanji tidak akan memberi tahu pada siapa pun tentang rumahku, keberadaanku, semua tentang tempat tinggal ini. Atau ....” Quirinus menjeda sejenak dan melirik ke arah ponsel Annora yang sudah menyala dan langsung ada banyak notifikasi masuk.
“Atau apa?” Annora langsung menekan tombol power supaya layar kembali terkunci, dan mereka bisa lanjut mengobrol.
“Kau akan hidup di sini terus, terkurung di tengah hutan, tidak bisa pergi kemanapun, bahkan jauh dari perkotaan. Satu langkah kaki pun tak bisa berjanjak dari sini. Pilih mana?”
Quirinus ingin mengusir Annora supaya hidupnya bisa kembali tenang. Tapi, ada hal yang perlu dipastikan terlebih dahulu supaya wanita itu menjaga kerahasiaan tempat tinggalnya. Bukan sok misterius, tapi dia paling malas diusik dan berurusan dengan banyak orang.
__ADS_1
“Oh, satu lagi. Jika kau memilih yang kedua, tandanya harus siap ku potong lidahnya supaya tak banyak bicara.” Quirinus tak lupa menyeringai untuk memberikan ancaman.