
Annora menurut ketika Quirinus meminta kunci mobil dan membawanya keluar. Entah mau dibawa ke mana, ia pasrah saja karena pria itu belum memberikan penjelasan apa-apa sampai detik ini. Dia juga tak berusaha untuk memaksa agar Quirinus berbicara sepanjang jalan. Mungkin, tujuan diajak keluar ingin menunjukkan sesuatu lagi seperti terakhir kali. Maka, sepanjang kendaraan melaju, ia menguatkan hati supaya siap saat melihat apa pun hal-hal buruk yang akan dilihat oleh mata kepala sendiri.
Mencintai seorang pria dengan masa lalu buruk, tandanya Annora juga harus siap menerima bahwa banyak kenangan tidak menyenangkan yang bisa mengusik pikiran Quirinus dan dirinya. Selain berlapang dada, ketulusan, dan sabar, diperlukan mental kuat karena selalu ada kejutan yang tidak terduga.
Hingga pada akhirnya mobil pun masuk ke dalan jalanan yang kanan dan kiri dipenuhi oleh jajaran rumah tanpa pagar. Kemudian berhenti di seberang sebuah hunian, barulah Quirinus mengeluarkan suara.
“Itu adalah tempat tinggal orang tuaku.” Quirinus menunjuk rumah berlantai dua, tidak besar, juga tak terlalu kecil, cukup sederhana.
__ADS_1
Annora mengikuti arah yang diberi tahu. Ia mengangguk. “Oke, aku siap mendengarkan ceritamu selanjutnya.” Kepalanya lalu bergerak ke kiri hingga bisa menangkap kalau Quirinus tengah mencengkeram stir kemudi begitu erat.
Quirinus menghirup udara terlebih dahulu. Dia sedang menguatkan hati untuk bercerita masalah ini. Sebelumnya tidak pernah ada satu pun orang yang tahu tentang bagaimana kacau dan buruk keluarganya.
Pria itu memulai cerita dari awal hancurnya perasaan seorang anak. Dia tumbuh dari orang tua yang berantakan. Ayahnya suka berselingkuh hingga ibunya mengetahui hal tersebut. Mulai dari situlah masalah muncul dan berkembang lebih buruk lagi karena sang ibu juga ikut-ikutan selingkuh sebagai wujud balas dendam atas sakit hati.
Suatu ketika, saat usia Quirinus menginjak sebelas tahun, dia melihat menggunakan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya berlomba-lomba membawa pasangan masing-masing ke rumah. Dengan tidak memiliki urat malu, bercumbu secara terbuka, entah di sofa, dapur, manapun itu.
__ADS_1
Sejak kecil, Quirinus adalah sosok pendiam, mengurung diri dalam rumah karena terlalu malu untuk keluar. Dia selalu memendam segala apa pun perasaan yang mengganjal dalam hati, tidak bisa mengutarakan pendapat.
Quirinus sampai memejamkan mata ketika menceritakan betapa sakit masa kecilnya. Dia tak melanjutkan sekolah karena orang tuanya setidak peduli itu.
“Usia delapan belas tahun aku memilih untuk keluar dari sana karena suatu alasan yang kurang menyenangkan. Selingkuhan ayahku banyak kurang ajar dan berani secara terang-terangan memintaku untuk memuaskan mereka.” Anak seusianya pada masa itu, Quirinus tergolong memiliki paras tampan karena orang tuanya memang good looking semua, wajar saja banyak yang tergoda.
“Ternyata, hidup sendiri juga tidak mudah. Aku butuh uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Berbagai jalan pernah ku coba dengan melamar kerja. Tapi, aku yang tak memiliki ijazah tinggi dan tanpa keahlian sedikit pun, selalu gagal.” Quirinus menunduk malu. Memberi tahu aib kehidupannya bagaikan menguliti diri sendiri di depan orang yang ia sukai. “Lalu, justru memilih jalan menjadi pemuas wanita karena hanya itu yang sangat mudah dilakukan dan bisa memberiku uang banyak tanpa repot-repot berpikir.”
__ADS_1